Minggu, 19 September 2010

Mistisisme dan Nasionalisme

Bandung Mawardi, penulis, tinggal di Karanganyar

Indonesia dari zaman ke zaman bisa terpahami sebagai ruang geografis, imajinasi politik, atau hantu kekuasaan. Biografi itu terbentuk karena ada partisipasi, menegasi, atau mengafirmasi. Jadi Indonesia memiliki biografi ramai, tapi mengesankan ada permainan dominasi politik, dominasi yang mirip takdir kolonialistik. Rumusan-rumusan dituliskan, dilisankan, atau dipanggungkan. Dominasi politik akhirnya memikat meskipun kadang mengandung muslihat. Sejak itulah komunitas politik terbentuk, agenda perubahan-perlawanan dijalankan, identitas diusulkan, dan ideologi disebarkan.

Pikat ini melahirkan nasionalisme. Konon, orang mengakui nasionalisme Indonesia itu lahir dari akar sendiri. Pengakuan ini bisa batal karena nasionalisme itu dipungut, diolah, diformulasikan, didandani dari negeri seberang. Intelektual-intelektual kita yang khusyuk dengan jagat Barat mengusung nasionalisme itu saat studi di lembaga pendidikan kolonial, kuliah di Belanda, kerja di birokrasi kolonial, atau mengkonsumsi kepustakaan yang dijadikan berkah dari mesin cetak dan paket modernitas pada peralihan abad ke-19 dan ke-20. Kita sengaja "melahirkan" nasionalisme, meskipun ada dalih nasionalisme itu datang sendiri ke negeri ini. Jadi mirip keajaiban atas kemauan zaman.

Nasionalisme pun ramai tafsiran, rumusan bisa bertentangan, pertarungan argumentasi disemaikan, dan pencirian kepribumian dijadikan agenda suci. Kajian sejarah sering sibuk dalam penjelasan dominan bahwa nasionalisme identik dengan politik, nasionalisme adalah kehendak emansipatif atas kolonialisme dengan jurus politik. Klaim ini mendapati interupsi dari Sartono Kartodirdjo saat mengusung gerakan-gerakan messianistik sebagai lakon kunci saat perlawanan di tingkat lokal. Paham Ratu Adil dan mistik-politik di pelbagai komunitas pribumi ikut memberi andil untuk perumusan nasionalisme.

Elite

Prolog ini adalah biografi (Indonesia) kita dalam alur mistisisme nasionalisme. Kaum elite politik di Jawa kentara kental dengan mistisisme dalam pergerakan politik dan kultural. Politik mungkin jadi pergelaran kasat mata, tapi mistisisme justru legitimasi dari nalar-imajinasi tradisional, meski rasionalitas Barat telah memikat dalam represi atau sugesti. Ilmu politik modern bisa mengakui, elite hadir dan terakui karena karisma. Ilmu ini bakal terlampaui karena nasionalisme kita justru dilambari, dibingkai, dan disebarkan dengan mistisisme.

Elite kita menimba ilmu dari mistisisme wayang, mitos kekuasaan tradisional, kejawen, atau mengacukan diri pada mistik Hindu dan Islam. Penobatan tokoh politik, agama, atau kultural sebagai Ratu Adil atau Sang Juru Selamat adalah konsekuensi dari pembesaran mistisisme nasionalisme. Kemodernan politik memang digulirkan, tapi biografi kita tak bisa mengelak dari mistisisme. Elite kita secara terbuka luluh dalam mistisisme. Jadi, mistisisme bisa saja menaikkan derajat politik, menimbulkan jarak dari politik praktis, atau malah jalan perlawanan simbolik.

Kita bisa menilik mistisisme nasionalisme ini dari biografi para elite. Mereka masih mereferensikan diri dalam wayang. Epos Mahabharata dan Ramayana diuraikan untuk kepentingan mendefinisikan peran bumi putera pada zaman kolonial. Simbol-simbol tradisional disuguhkan demi menarik minat massa atau membentuk relasi mistis. Ritual menandingi rapat politik. Seni tradisional dimaknai dalam naluri mistik. Persemaian mistisisme nasionalisme ini juga menggunakan instrumen kemodernan. Kaum elite, intelektual, pujangga biasa membaca, menerjemahkan, atau menulis buku dalam panutan mistisisme. Perkumpulan mistik pun subur sebagai pilihan atas zaman kolonialisme. Sebaran buku dan majalah pada awal abad ke-20 juga riuh oleh tema-tema mistisisme.

Mengapa mistisisme intim dengan nasionalisme? Soekarno adalah sebuah jawaban. Sosok ini identik dengan biografi mistisisme dan kematangan mengusung nasionalisme di publik. Nalar kemodernan dalam agenda politik tak bisa hadir telanjang, Soekarno memerlukan tarikan atas mistisisme sebagai jaminan atau konsensus untuk gerakan massa. Model ini kelak jadi pengetahuan umum, kaum elite bakal mengumumkan diri masih silsilah penguasa, tokoh suci, atau pujangga pada masa Majapahit, Demak, atau Mataram. Jadi, nasionalisme itu dihadirkan dengan ritual, imajinasi, dan kesakralan.

Otokritik

Jawaban atas intimitas mistisisme dan nasionalisme masih melimpah. Kita bisa menengok juga pada sosok S.K. Trimurti. Perempuan ini kondang sebagai tokoh pergerakan politik pada masa kolonial, wartawan mumpuni, tokoh organisasi perempuan, dan tokoh kebatinan. Keberakhiran riwayat kolonial masih menampilkan intimitas antara mistisisme dan nasionalisme. Kekuasaan tampak memberi restu. Kita malah mengagendakan seminar dan kongres kebatinan pada 1950-an. Masa itulah nasionalisme disemaikan, revolusi didengungkan. Nasionalisme kita belum utuh modern atau meniru mutlak dari nasionalisme ala Barat. Orde Baru masih melanjutkan intimitas ini, sekarang pun mungkin nasionalisme belum bisa dipisahkan dari mistisisme, meski wacana dan lakon politik fluktuatif.

Trimurti mengakhiri karier politik saat disingkirkan dari Gerwani. Politik tidak memungkinkan diri hadir dalam kekisruhan, persaingan, pertentangan, dan konflik. Politik tidak ditampik, tapi dijauhi karena zaman belum lekas terang. Trimurti memilih jalan kebatinan, mistisisme disemaikan dengan merawat nasionalisme, tanpa harus ekstasi politik. Sejak itulah, Trimurti identik dengan majalah Mawas Diri, majalah kebatinan yang ikut memberi arti pada biografi Indonesia dan persemaian nasionalisme seusai kolonialisme.

Percikan permenungan Trimurti (Tempo, 21 April 1990) pantas jadi acuan: "Raga kita sudah banyak diatur oleh dogma, undang-undang, pemerintah, dan norma-norma. Jadi, biarkanlah batin kita melayang ke mana ia suka." Pengakuan ini muncul saat Orde Baru menggelar lakon politik dominasi. Mistisisme memberi jalan kebebasan dari belenggu kolonial, revolusi, dan pembangunanisme. Kita mungkin rikuh untuk mengakui nasionalisme kita adalah mistisisme kita. Pengakuan tak mutlak diberikan, tapi otokritik atas nasib nasionalisme kita adalah keharusan agar pertanyaan-pertanyaan atas perubahan tidak macet di lembaga-lembaga politik, undang-undang, universitas, pabrik, buku, atau televisi. Begitu. *

Karakteristik kedua era kita sekarang adalah menyebarnya nasionalisme. Ini masih menyebar, mempengaruhi komunitas baru, daerah pinggiran, dan apa yang disebut masyarakat terbelakang.
--- Emily Greene Balch

  • Pendidik Amerika (1867-1961)

    Setiap pertanyaan besar dalam sejarah adalah pertanyaan religius. Ini lebih berpengaruh dalam hidup daripada nasionalisme atau bahasa yang umum.
    --- Hilaire Belloc

  • Penyair Inggris (1870-1953)

    Saya juga berpendapat sebelum perang bahwa pemerintah Amerika Serikat meremehkan nasionalisme Arab dan nasionalisme Irak. Tidak akan mudah menguasai Irak seperti yang mereka bayangkan.
    --- Juan Cole

  • Pendidik Amerika

    Saya percaya bahwa nasionalisme merupakan kekuatan yang sangat kuat, tetapi ada kekuatan lain yang beroperasi, ada kecenderungan yang mendorong menuju gambar yang lebih besar, terutama di Eropa, saya pikir. Tapi saya masih berpikir nasionalisme adalah nyata.
    --- Peter Singer

  • Filsuf Australia

    Aku membedakan antara nasionalisme dan patriotisme.
    --- Michael Ignatieff

  • Politikus Kanada

    Tidaklah mudah untuk melihat bagaimana bentuk-bentuk nasionalisme yang lebih ekstrem bisa bertahan, bila orang sudah melihat Bumi dalam perspektif yang benar sebagai sebuah dunia kecil di tengah bintang-bintang.
    --- Arthur C. Clarke

  • Futurolog Sri Lanka (1917-2008)

    sumber: www.brainyquote.com

  • http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/08/08/Ide/index.html

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar