Minggu, 19 September 2010

Penghakiman Sawito oleh Pemerintah Suharto

Memburu "wangsit": untuk kekuasaan ...

PERKARA Sawito nampaknya bukan perkara remeh. Buktinya, dengar saja pernyataan-pernyataan resmi sampai pekan lalu. Dalam pidato di hari 5 Oktober tak kurang dari Presiden Soeharto yang menyebutnya sebagai "Gerakan Sawito". Kepala Staf Kopkamtib Laksamana Sudomo sementara itu di Surabaya Kamis minggu lalu bahkall menunjuk "gerakan Sawito" itu sebagai suatu contoh "revolusi istana". Beberapa jam sebelumnya Menteri Dalam Negeri Amir Machmud di Bengkulu menyatakan bahwa Sawito diperalat "orang-orang ASU". Dan meskipun Presiden menegaskan bahwa tidak ada kesatuan ABRI yang terlibat dalam "gerakan Sawito", belum terjawab pasti apakah ada oknum ABRI yang tersangkut. "Masih dalam pengusutan". jawab Kepala BAKIN Yoga Sugama kepada pers. Sementara beberapa data baru tentang diri Sawito mulai terungkapkan. Tapi umumnya lewat bantahan. Institut Pertanian Bogor misalnya menyatakan kepada TEMPO bahwa Sawito bukan lulusan sana suatu hal yang sesuai dengaul tulisan ir. Ny. Rahayu Yusui, bahwa Sawito memang bukan insinyur pertanian sebagaimana yang diduga pemerintah (TEMPO, 9 Oktober ). Dan mungkin karena nama Sawito disangkut-sangkutkan dengan kebatinan atau kepercayaan. Dewan Pengurus Sekretariat Kerjasama Kepercayaan (SKK) Pusat juga menyatakan bahwa Sawito bukan anggota SKK. Tapi itu tak berarti bahwa Sawito Kartowibowo adalah orang asing di kalangan kebatinan. Sebuah sumber di Yogya menyebut kepada Slamet Djabarudi dari TEMPO bahwa Sawito menganut kebatinan "aliran Surakarta", yang lebih menjurus pada kegiatan kemasyarakatan. Aliran lain adalah "aliran Yogyakarta". Dua aliran ini menurut sumber tadi pecahan dan perkembangan kebatinan kebatinan Sultan Agung I (abad ke-17) di Mataram, yang merupakan persatuan aliran Majapahit dan aliran Islam. Sumber itu mengatakan bahwa Sawito rajin mengunjungi tempat-tempat keramat. untuk bersemadi, meskipun "baru dua tahun mengenal kebatinan". Angka dua tahun itu nampaknya tak tepat. Dalam majalah Mawas Diri pertengahan September 1973 sudah terdapat tulisan Sawito dengan nama terang -- yang berjudul "Evolusi Kesadaran Hidup Berjasad" (lihat: Sawito Meramal . . . ). Ia juga menulis dengan beberapa nama samaran. Sementara itu ia gemar mengunjungi tempat-tempat sunyi, dan agaknya dianggap keramat. Di tahun 1972, ia naik menyepi di Gunung Muria, sebelah utara Jawa Tengah di daerah Jepara Rembang. Menurut kisahnya malam itu ndaru atau sinar dari langit jatuh. Sinar itu mengenai tanah, masuk ke dalamnya. Tanah pun digali. Di dalamnya ada batu, di mana katanya membayang wajah Jesus Kristus. Dan, di sisi lain, wajah Sawito. 35 hari kemudian rombongan itu ke Alas (Hutan) Ketonggo, dekat Madiun. Ceritanya, juru kunci makam di situ sebelumnya sudah dapat "petunjuk" mungkin dalam mimpi -- bahwa akan ada "pemimipin dari Jakarta" datang. Di hutan itu juga turun lagi itu 'wangsit" atau "petunjuk". Apa betul pasti Sawito yang "dipilih" di antara yang hadir -- di samping Sawito adalah Mr. Sudjono -- tak dipersoalkan. Pokoknya: mereka percaya, sebagaimana mereka juga percaya bahwa Sudjono dan Sawito di "alam dulu" adalah bapak dan anak. Lalu mereka juga sesuai dengan "petunjuk", pergi ke Panjalu. Selain Sawito, dan lain-lain. konon mertuanya, Raden Panji Trisirah almarhum, ikut. Ada tiga sinar datang, dan sang mertua melihat sosok "raja Jawa" jaman dulu."Di antara kalian akan ada yang jadi pemimpin", kata "sosok" itu. Adapun situ:. (danau) Panjalu atau situ Lengkong terletak 40 kilometer arah utara dari Ciamis. Terletak agak keting gian, berhawa dingin lembab, tempat ini menawarkan misteri. Di tengahnya terdapat Nusa Gede, pulau seluas 10 hektar yang alamnya masih perawan. Pepohonan yang rata-rata setinggi 25 meter tumbuh rapat dan berlumut. Kelelawar besar-besar bergelantungan. Ular berbisa kabarnya sering menjadi momok bagi mereka yang coba-coha mencuri kayu. Sepasang harimau jadi-jadian kabarnya juga masih sering muncul. Satu-satunya tempat yang selalu dibersihkan hanyalah sebuah kompleks makam Prabu Dipati Hariyang Kantjana. Pada batu nisan tertulis: Djumeneng tahun 1083. Berukuran 2 1/2 X 1 1/2 meter. makam ini dipagari tembok setinggi perut, seluas 8 x 12 meter. Depannya ada sebuah bangunan berukuran 3 x 6 meter, untuk berdoa. Di luarnya berserakan tak kurang dari 100 makam keluarga sang Prabu. Sengaja dibiarkan hingga berlumut, "supaya masih ada kesan kuno", kata Bakri, 69 tahun, si jurukunci. Dari pantai, hanya ada satu-satunya jalan sepanjang 200 meter menuju ke makam ditandai sebuah gapura. Mendaki dan menyerupai tangga, jalan ini tampak apik karena seLalu dibersihkan. Mencapai gapura di pantai Nusa Gede tersebut dari danau dengan perahu bermotor bisa ditempuh kurang dan 2 menit. Dan sekarang perahu-perahu komersiil gampang disewa. Betulkah Sawito pernah ke sana? "Ada juga yang bernama Sawito. mengaku Sekretaris Istana dari Jakarta" ujar Bakri kepada Yusril Jalinus dari TEMPO. Tamu yang disertai 2 tamu lain itu memberi kartu nama (tapi sudall hilang) dan menawarkan rumahnya bila Bakri kapan-kapan ke Jakarta. BerkendaraanToyota. Kejadian itu kira-kira 3 atau 4 tahun lewat. Karena itu, kata Bakri. "tos teu emut deui" (sudah tidak ingat lagi). Dalam beberapa buku tamu, baik yang terbaru maupun yang sudah kumal, juga tak tercantum nama Sawito. Tapi memang ada juga buku tamu yang hilang. Sesungguhnya, tidak semua yang "kebatinan" selalu berhubungan dengan yang serba angker. Menurut SK Trimurti, pemimpin umum Majalah Mawas Diri ada 4 macam ngelmu kejawen. Pertama, kanuragan, semacam ilmu untuk memperoleh kesaktian fisik. Kedua, yang disebut ilmu gaib, yang berkat sesultu 'ilmu', orang lantas bisa mengobati dan sebagainya. Ketiga, Kasunyatan " Nah, inilah yang juga bisa disebut Filosofi", kata Bu Tri. Keempat, kasampurnaan. "Disebut juga makrifat. Orang India menyebutnya moksa". Menurut Bu Tri, yang banyak dianut orang sekarang ini ialah kebatinan jenis kedua, yang biasanya dianut oleh orang-orang yang egonya masih besar, mengikuti nafsu dan hasilnya merugikan. "Yang terbaik ialah belajar membersihkan diri-sendiri, tidak pamer, hidup biasa hingga mudah berhubungan langsung dengan Tuhan" katanya lagi. Saya ini orang biasa yang berusaha mengerti rahasia alam yang gumelar dan berusaha menyesuaikan diri dengan hukum alam yang abadi. Menyesuaikan diri dengan harmoni, dari hukum universe Tuhan. Saya ingin mendapat petunjuk Tuhan sebagaimana bunyi ayat ihdinashshirotol mustaqim (tunjukkan jalan yang benar) dalam surah Alfatihah Untuk mencapai makrifat, katanya orang mudah tersesat bila tanpa lain. Tapi cara yang paling aman adalah seperti yang ditunjukkan oleh agama."Tak perlu misalnya intrance dan sebagainya", tambahnya. Tapi bagaimana dengan Sawito? Menurut Bu Tri yang kenal secara pribadi, Sawito mungkin saja mendapat 'wangsit'. Dan tentu saja ia percaya sekali, dan akan menjalankan apa saja yang 'diperintahkan' oleh wangsit. Tapi menurut pendapat saya dia itu kurang berpengalaman dalam politik praktis. Sehingga dalam melaksanakan apa yang terkandung dalam hatinya, ia terbentur-bentur". katanya. Bagi Bu Tri, Sawito terlalu "ujus- ujus" (bergerak tak berketentuan). Langkahnya cuma bersifat individuil. Dan percayalah, ia tak punya massa atau kekuatan riil dibelakangnya. Sawito itu orang baik-baik , biasa saja, sederhana. Dia memang pinter, tapi keblinger", tambahnya. Tapi Sawito agaknya tak terlepas dari massanya: salah satu gejala sosial yang muncul ke permukaan sebagai reaksi terhadap keadaan yang dianggap tidak memuaskan. Suatu hal yang bukan baru dalam sejarah "kebatinan". Seperti itu diakui oleh Djumali Kertorahardjo, dalam bukunya Materi Aliran-aliran Kebatinan di Indonesia, yang diterbitkan oleh Departemen Agama, ada aliran kebatinan yang timbul dengan latar belakang adanya perasaan kecewa, perasaan tidak puas dengan keadaan, cemas menyaksikan merajalelanya korupsi dan penyelewengan yang dilakukan oleh sementara pejabat-pejabat pemerintahan dan pemimpin-pemimpin rakyat, sakit hati melihat tindakan sewenang-wenang dari beberapa oknum penguasa yang tidak lagi menghiraukan rule of law, dan putus asa karena menganggap bahwa tidak ada tindakan tegas dari pemerintah untuk menindak orang-orang tersebut. . . Akhirnya tidak tahan melihat keadaan yang demikian itu, lari, memisahkan diri dari dunia ramai dan mendirikan perruruan-perguruan atau pedukunan-pedukunan semacam kebatinan secara perseorangan tanpa nama". Dan yang seperti itu sebagai protes -- sudah ada sejak dulu. Masuknya Islam dan runtuhnya Majapahit, menyebabkan para loyalis Jawa pun berusaha mempertahankan identitasnya. Setidaknya hal ini misalnya terungkap dalam buku Darmogandul, nadanya yang anti Islam dan anti Cina. Darmogandul yang tahun terbit dan pengarangnya tak diketahui, mencerminkan reaksi Jawa yang berbau asing. Reaksi lain dicatat oleh sejarawan Kartono Kartodirdjo dalam Religious Movements of Java in the 19th and 2Oth Centuries dan Ptotest Movements in Rural Java, sebagaimana dikutip oleh Kompas minggu lalu. Misalnya: Kaiin, petani Tangerang, menobatkan diri sebagai raja bergelar Ratu Rabulalamin alias Sanghyang Tunggal. Bersama anakbuahnya, ia merencanakan menyerang Batavia pada 10 Pebruari 1924. Sebelumnya ia sering berziarah ke tempat-tempat keramat seperti di Manggadua, Jakarta. Dia bilang, Pangeran Blongsong dan Ibu Mas Kuning di Manggadua sebenarnya adalah orangtuanya pemilik sah tanah-tanah di Tangerang. Diawali dengan menyerang rumah tuan tanah di Pangkalan. Kaiin menyerang Batavia. Tapi dihancur-leburkan oleh Kompeni di Tanah Tinggi. Para pengikutnya yang membawa jimat dan berpakaian putih-putih binasa belaka. Di Jawa Timur pada awal 1887, Amat Mukiar meramalkan akan lahirnya kerajaan Ratu Adil di Birowo, Loloyo. dipimpin oleh Djasmani bergelar Ratu Adil Igama. Sedang ia sendiri akan bertindak sebagai Panembahan pimpinan pemerintahan. Amat Mukiar juga menyerukan agar rakyat melancaran perang terhadap orang-orang Eropa. Cina dan orang-orang pribumi yang bekerjasama dengan orang asing sebagai pamong praja. Di Sumedang, pertengahan abad 19 ada gerakan Nyi Aciah dan di Pekalongan gerakan Djumadilkubra. Djumadilkubra bermula di Karangkobar lemhah sungai Serayu dicetuskan oleh Akhmad Ngisa. seorang guru agama. Katanya. Syeh Djumadilkubra dari Wanabadra telah memberi wangsit kepadanya bahwa Pangeran Erucakra dan balatentaranya akan datang untuk mengusir penguasa asing. Sesudah penguasa asing terusir akan muncul 3 penguasa: satu berasal dari Majapahit, satu keturunan Pajajaran dan satu lagi berasal dari Kalisalak, Pekalongan. Contoh mutakhir -- dalam situasi yang lain -- adalah gerakan mbah Suro di Jawa Tengah tahun 1967. Mereka merasa "cocok" dengan PKI. Mungkin karena PKI jadi penampung perasaan frustrasi dan sekaligus hasrat terhadap perubahan secara radikal. PKI juga sama - sama memimpikan utopianisme masyarakat sempurna tanpa cacat. Dewasa ini secara legal PKI tak ada lagi. Tapi utopianisme masih berakar. Menginginkan kesempurnaan dengan cepat menghendaki "perubahan besar" pula. Sementara proses politik yang menyalurkan kehendak seperti itu kini mampet, orang kembali mimpi tentang "revolusi istana" untuk meminjam istilah Laksamana Sudomo. Dan mendapat "wangsit" adalah jalan yang paling baik. DALAM banyak hal, wangsit dikatakan diterima oleh seseorang untuk jadi dasar legitimasi pengukuhan terhadap kekuasaan. Mula-mula sang pemimpin memang tidak berakar pada rakyat. Tapi bila dikatakan ada wangsit, rakyat pun diharapkan akan mendukung gerakan perubahan itu. Tapi bagaimana itu wangsit bisa dipercaya? "Pengalaman spirituil seperti itu dirasakan sendiri-sendiri. Orang bisa saja ketawa dan menganggap remeh bila ada yang bicara di televisi pernah bertemu dengan Nabi Muhammad", ujar nyonya Nuning Sri Marganingsih, isteri Sawito, 35 tahun. di rumahnya pekan lalu kepada Syahrir Wahab dari TEMPO . Ia sarjana pendidikan Gajah Mada, yang tinggi semampai dan cantik. "Bagi bapak", kata nyonya Sawito lagi, "yang penting adalah pengamalan dari apa yang diperolehnya". Yang agak mengejutkan barangkali suara dari Pangestu. "Wangsit itu tidak ada", kata dr. Marsaid, 65 tahun, Ketua I Pangestu kepada Zulkifli lubis dari TEMPO. Menurut pengertian umum, katanya, wangsit itu pemberitahuan dari alam halus berupa apa saja yang bisa ditangkap oleh pancaindra. "Yang jelas orang Pangestu tak pernah mencari-cari wangsit. Apalagi menurut pendapat kami, wangsit itu datangnya bukan dari Tuhan. Salah-salah malah bisa kepleset ( tergelincir)" tambahnya. Barangkali itulah pula sebabnya Pangestu emoh dimasukkan dalam kelompok kebatinan atau kepercayaan sebagaimana anggapan masyarakat umum. Secara tegas, Kolonel (AU) Sri Harsono, Sekjen DPP Pangestu, menolak penggolongan Pangestu menurut pengertian 'kepercayaan' seperti tercantum dalam GBHN. "Pangestu bukan agama, juga bukan kepercayaan. Agama kan mesti punya ritus sedang Pangestu-tak punya ritus", katanya. Sebuah keterangan dari Sala tampaknva juga belum cukup menjelaskan tentang wangsit. Misalnya dari Mr. Suwidji, 66 tahun, advokat, dosen dan memang terkenal sebagai tokoh kebatinan. "Dari sudut para-psikologi, wangsit itu semacam hasil telepati yang spontan. Apakah wangsit itu benar, harus ditunggu bukti kenyataannya, cocok atau tidak", katanya. Pendapat Kangjeng Raden Tumenggung Wongsonegoro SH, bekas Wakil Perdana Menteri dan bekas ketua Badan Kongres Kebatinan Indonesia tak banyak berbeda. Di Sala, kata Pak Wongso yang sudah 81 tahun, masih banyak orang mencari wangsit. Misalnya dengan merendam diri di Bengawan Sala. Tinggal kepalanya saja yang di permukaan air. Godaannya macam-macam. Ular, misalnya. "Kalau kuat menghadapi godaan akan mendapat wangsit. Kalau tidak tentu lantas lari dan tidak berhasil mendapat wangsit". Contoh wangsit itu begini, misalnya. Pada suatu hari Jenderal Sukowati dirawat di RSPAD, karena sakit mimisen (keluar darah dari lubang hidung). "Menurut diagnosa dokter, itu kanker". Ketika itu Sukuwati mendapat wangsit supaya saya memetikkan daun sirih. Pulang dari rapat DPR, dalam keadaan capek dan lapar, saya ke RSPAD membawa batang dan daun sirih yang ia minta. Tapi saya tak sempat masuk menjenguknya. Akhirnya Sukowati sembuh juga, padahal kanker kan penyakit yang sukar disembuhkan", tutur orang tua itu minggu lalu di rumahnya. Menurutnya, benar-tidaknya wangsit, akan membuktikan dirinya sendiri. "Kalau benar, tentu akan terjadi. Kalau hanya buat-buatan ya tak akan terjadi'. Orang Sala yang lain agak lebih meragukan. Ia adalah Raden Mas W. Hardjanto Prodjopangarso, tokoh Aagama Sa Naata Dharma Madjapahit & Pantjasila alias Agama Sadhar-Mapan yang akhirnya diakuinya sebagai tidak lain dari Hindu Dharma. Di kalangan orang Sala, bangsawan yang tinggal di sebelah timur kompleks Kraton Sala dan bujangan berumur sekitar 50-an tahun ini juga dianggap tahu banyak tentang kebatinan. Katanya: "Memang banyak di antara orang-orang macam Sawito dan yang mengaku sebagai 'kyai' menerima wangsit. Kalaupun benar mendapat wangsit, sangat berbahaya untuk dilemparkan begitu saja ke masyarakat ramai. Keadaan masyarakat kita sekarang jauh berbeda dengan jaman dulu. Wangsit itu sendiri kan tidak bisa diterima, oleh rasio dan tidak bisa dibuktikan". Pendapat lain dari Bu Tri. Kata Bu Tri, memang ada orang yang mengaku mendapat wangsit, tampi daWuh (menerima perintah). Dari siapa? "Saya sendiri nggak tahu", katanya. Tentang wangsit itu sendiri, Bu Tri punya hipotesa begini: suatu dawuh yang diberikan oleh sesuatu yang gaib. Yang gaib itu benar atau tidak, tidak jelas. "Sebab saya sendiri tak pernah menerima wangsit. Kalau wangsit itu arahnya perbaikan, sesuai dengan dawuh Tuhan, boleh jadi benar. Tapi memang sulit diterangkan"' katanya. "Kalau kita bersembahyang dalam keadaan khusyu' misalnya, tentu ada semacam dawuh untuk berbuat ini-itu atau melarang 'jangan'. Tapi kadang-kadang orang juga tidak bisa mendengarkan suara kalbu, karena alat-alat tubuhnya sudah ber karat oleh nafsu pribadi". zu Pembersihan batin, bagi Bu Tri sangat penting. "Manusia itu oleh Tuhan kan diberi wewenang, bahkan lebih dari malaikat dan iblis. Manusia bisa berkuasa, tapi biasanya selalu kalah melawan diri sendiri". Untuk mernbersihkan diri, caranya dengan laku. Ini pun tak perlu dengan bertapa, cukup hidup seperti biasa, secara baik. "Saya ini tidak seperti orang-orang Jawa yang lain. Saya tak pernah membakar kemenyan, menyediakan sesaji, kembang setaman. Saya tak mau menjadi budak mahluk halus. Itu berarti musyrik, menduakan Tuhan. Tapi itu tak berarti saya tak mengakui adanya roh". Akhirnya ia juga menyesalkan, kalau sekarang ini masih juga banyak yang percaya adanya wangsit, bahkan kepada dukun-dukun. Mereka mencari kekayaan, pangkat dengan cara-cara kebatinan. "Ini kan artinya: mereka masih dikuasai oleh nafsu duniawi. Jadi rohaninya malah tambah kotor saja". Masalah wangsit ini barangkali juga karena keinginan untuk selali memiliki pemimpin "menyala" karena karisma meskipun pemimpin tidak selamanya harus demikian untuk bisa bekerja. Sebenarnya yang diperlukan ialah pemimpin yang berangkat dari bawah, melalui proses di mana ia didukung dan dipilih. Tokoh seperti Bung Karno agaknya perlu dilihat bukan sebagai "penerima wangsit", tapi sebagai orang yang sudah lama dikenal dan memikat rakyat, di zamannya. Tapi Sawito, bukan tokoh seperti itu. Maka ia melanjutkan adat pengukuhan kekuasaan berdasarkan wangsit. Embah Sawito sendiri. kakak sulung dari embahnya Bung Karnoli, diceritakan pada suatu malam bermimpi, bahwa kelak salah seorang cucunya akan menjadi orang besar. Tahu-tahu yang muncul Bung Karno. Mungkin kisah keluarga itu membekas di diri Sawito. Dan ia melangkah. Langkahnya. menurut pemerintah, "inkonstitusionil". Sampai sejauh mana, agaknya itu perlu dibawa ke pengadilan. Swito sendiri tentunya bisa menyatakan bahwa ia tak bermaksud "inkonsti- tusionil". Dalam dokumen Menuju Keselamatan, yang lengkap ditandatangani pula oleh 5 tokoh (Tempo, 2 Oktober) terdapat kalimat "tetap berpegng teguh pada jalan musyawarah, konstitusi dan menghindari hukum balas dendam". Kalimat itu pula yang dalam penjelasan Keuskupan Agung Semarang ditekankan, seperti disiarkan oleh Antara Semarang 8 oktober. "Naskah yang ditandatangani oleh Kardinal hanya naskah yang berjudul Menuju Keselamatan yang terbagi atas 4 nomor" begitu awal penjelasan itu. Dengan itu jelas bahwa "tangan-tangan yang diberikan oleh Kardinal tidak ada hubungannya dengan usaha-usaha inkonstitusionil". Tapi bicara konstitusi adalah satu hal. Mengerti bahwa konstitusi tidak menyandarkan diri pada kepemimpinan dengan "wangsit" adalah hal lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar