Javanese beliefs (Kebatinan or Kejawen) have principles embodying a "search for inner self" but at the core is the concept of Peace Of Mind. Although Kejawen is a religious category(Agama), it addresses ethical and spiritual values as inspired by Javanese tradition. That can as religion in usual sense of the world, like Christianity, Judaism, Budha or Islam. Kejawen adalah Agama Jawa yang di Ajarkan dalam Budaya Jawa yang di sebut Kejawen. Kawruh kejawen. Ilmu Kejawen, Agama Kejawen

POP UP

Mas Tamvan on Facebook!

Sejarah Pangestu Sapta Dharma, Sumarah, SUbud

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dipulau jawa terdapat banyak kebudayaan mulai dari bahasa jawa yang beragam, adat-istiadat yang berbeda, sampai pada aliran-aliran kepercayaan yang dianut masyarakat jawa pada tempo dulu hingga sekarang yang masih dianut oleh masyarakat modern saat ini. Pada daerah-daerah tertentu masih membudidayakan aliran-aliran tersebut karena dianggap kepercayaan tersebut lebih bisa menyatukan dengan Tuhan mereka.

Diantara aliran-aliran kepercayaan yaitu Subut, Pangestu, Sapta Dharma, dan Sumarah. Aliran –aliran diatas dipercayai sebagai langkah untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud Pangestu ?

2. Apa yang dimaksud Sapta Darma ?

3. Apa yang dimaksud Subud ?

4. Apa yang dimaksud Sumarah ?

C. Tujuan Pembahasan

1. Mengetahui dan mempelajari aliran kepercayaan Pangestu

2. Mengetahui dan mempelajari aliran kepercayaan Sapta Darma

3. Mengetahui dan mempelajari aliran kepercayaan Subud

4. Mengetahui dan mempelajari aliran kepercayaan Sumarah

















BAB II

PEMBAHASAN

A. Aliran Pangestu

1. Asal Usul

Paguyuban Ngesti Tunggal atau biasa disingkat Pangestu adalah sebuah wadah Pendidikan Budi Pekerti dan Pengolahan Jiwa yang mengutamakan konsep persatuan di dalam relasi dengan sesama dan relasi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Paguyuban ini didirikan di Surakarta pada tanggal 20 Mei 1949, yang merupakan wujud dari ikatan persatuan dari setiap anggota Pangestu. Walaupun demikian, ajaran Pangestu itu sendiri sudah diwahyukan sejak tanggal 14 Februari 1932 kepada R. Soenarto Mertowardojo di Surakarta.[1]

Mengenai ajaran Paguyuban Ngesti Tunggal tidak terlepas dari riwayat hidup pendirinya, yaitu R. Soenarto Mertowardojo. R. Soenarto dilahirkan pada tanggal 21 April 1899 di Desa Simo, Kabupaten Boyolali, Surakarta sebagai putera keenam dari keluarga R. Soemowardojo. Sejak kecil ia tidak diasuh oleh orang tua kandungnya melainkan dititipkan untuk tinggal dan dibesarkan oleh orang lain. Ketika beliau beranjak dewasa, keinginan untuk terus mencari dan memahami keesaan Tuhan berikut semesta alam seisinya makin mengental. Melalui perenungan yang dalam, muncul pertanyaan-pertanyaan besar, seperti di mana Tuhan bertakhta? Bagaimana manusia dapat bertemu dengan Tuhannya? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan surga dan neraka dan jika ada? Dimana letaknya? Pertanyaan-pertanyaan itu semua mendorong Pakde untuk belajar kepada beberapa guru. Akan tetapi jawaban yang diperoleh beliau tidak ada yang memuaskan bahkan mengecewakan. Beliau kemudian berjanji dalam hati untuk tidak berguru lagi dan akan memohon langsung kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menyadari bahwa laku yang benar hanyalah memohon sih pepadang Allah yang senyatanya Maha murah, Maha asih, Maha adil. Beliau yakin akan diberi pepadang, asal memohon dengan sungguh-sungguh. Pada suatu hari, tepatnya hari Ahad Pon, 14 Februari 1932, kira-kira pukul setengah enam sore, ketika beliau sedang duduk-duduk seorang diri di serambi Pondok Widuran, Sala, pertanyaan-pertanyaan yang selalu menjadi pemikiran beliau, timbul kembali. Beliau kemudian berniat memohon kepada Tuhan agar diberi sih pepadang-Nya. Setelah memohon dengan khusyuk lalu dilanjutkan dengan sholat daim, dengan tidak terduga-duga, beliau menerima Sabda Ilahi dalam hati sanubari yang suci seakan-akan menjawab pertanyaan beliau sebagai berikut:[2]

“Ketahuilah, yang dinamakan Ilmu Sejati ialah petunjuk yang nyata, yaitu petunjuk yang menunjukkan jalan benar, jalan yang sampai pada asal mula hidup”.

Ketika Bapak Soenarto menerima Sabda tersebut, beliau merasa bagaikan disiram air dingin dan badan terasa gumriming merinding lalu disusul oleh perasaan takut. Dengan termangu-mangu Bapak Soenarto bertanya dalam hati “Siapakah gerangan yang bersabda itu tadi ?”. Kemudian terdengar Sabda berikutnya yang merupakan jawaban atas pertanyaan Pakde Narto sebagai berikut:

“Aku Sukma Sejati, yang menghidupi alam semesta, bertakhta di semua sifat hidup. Aku Utusan Tuhan yang abadi, yang menjadi Pemimpin, Penuntun, Gurumu yang sejati ialah Guru Dunia. Aku datang untuk melimpahkan Sih Anugerah Tuhan kepadamu berupa Pepadang dan Tuntunan. Terimalah dengan menengadah ke atas, menengadah yang berarti tunduk, sujud di hadapan-Ku. Ketahuilah siswa-Ku, bahwa semua sifat hidup itu berasal dari Suksma Kawekas, Tuhan semesta alam, letak sesembahan yang sejati ialah Sumber Hidup, yang akan kembali kepada-Nya. Sejatinya hidup itu Satu, yang abadi keadaannya dan meliputi semua alam seisinya.”[3]

Wahyu yang diterima oleh R. Soenarto terjadi dalam tiga tahap yaitu, pertama berupa penegasan bahwa Ilmu Sejati merupakan petunjuk nyata tentang jalan benar menuju asal dan tujuan hidup, kedua berupa pernyataan Sang Suksma Sejati tentang siapakah dirinya dan apakah tugasnya serta siapakah Suksma Kawekas itu, ketiga berupa sabda yang meneguhkan hati R. Soenarto dalam menjalankan tugas menaburkan terang serta janji akan diberikannya dua orang pembantu yaitu Hardjoprakoso dan Soemodihardjo untuk mencatat sabda-sabda Sang Suksma Sejati. Pada tanggal 27 Mei 1932 R. Soenarto, Hardjoprakoso dan Soemodihardjo berkumpul untuk mencatat sabda-sabda yang diterima oleh R. Soenarto selama tujuh bulan berturut-turut dan dikumpulkan dalam Buku Sasangka Djati. Antara tahun 1933-1949 tidak ada sabda yang turun tetapi pada tahun 1949-1961 R. Soenarto menerima kembali beberapa sabda yang dihimpun dalam buku Sabda Khusus. Sabda-sabda yang dihimpun dalam buku Sabda Khusus tersebut merupakan komplemen dan pemantap sabda-sabda dalam Sasangka Djati sebagai Kitab Suci yang utama.[4]

Dengan dasar tujuan itulah atas prakarsa beliau organisasi Pangestu didirikan pada tanggal 20 Mei 1949. Organisasi Pangestu terbentuk ketika kota Sala diduduki tentara Belanda pada waktu kedua. Pada masa itu kota Sala diliputi keadaan yang mencekam karena tentara Belanda melarang segala bentuk kegiatan yang dilakukan secara berkelompok atau berkumpul lebih dari lima orang. Pada suatu hari, tepatnya hari Jumat Pon, 20 Mei 1949, pukul 16.30 beliau kedatangan tujuh orang siswa yang datang secara diam-diam. Para siswa tersebut adalah: Bapak Soeratman, Bapak Goenawan, Bapak Prawirosoeparto, Bapak Soeharto, Bapak Soedjono, Bapak Ngalimi dan Bapak Soetardi. Sore itu Pakde Narto mengajak para siswa tersebut untuk manembah bersama memohon agar perjuangan bangsa Indonesia lekas selesai dan berada di pihak yang jaya. Sang Guru Sejati bersabda dengan perantaraan lisan beliau, yang salah satu intinya adalah perintah Sang Guru Sejati kepada siswa-Nya untuk menyebarluaskan pepadang-Nya atau ajaran-Nya kepada seluruh umat.

2. Lambang

Pangestu berlambang sepasang bunga, yang terdiri dari setangkai bunga Mawar berwarna merah jambu berduri satu dan setangkai bunga Kamboja berwarna putih dengan garis kuning emas pada tepi kelopaknya. Lambang sepasang bunga tersebut dengan latar belakang berwarna ungu. Bunga Mawar, melambangkan tugas keluar yaitu melaksanakan tugas hidup bermasyarakat, duri tangkai bunga mawar tersebut melambangkan bahwa bagaimanapun sukses/berhasilnya tugas hidup keluar tersebut dilaksanakan selalu ada cela atau kekurangannya. Bunga Kamboja, melambangkan tugas kedalam, yaitu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, harus dengan bekal kesucian lahir dan batin. Latar belakang berwarna ungu, melambangkan bangunnya jiwa dari kondisi tertidur/pasif menjadi sadar dan aktif.[5]

3. Ajaran Pokok

Pangestu membunyai pedoman dasar yang disebut Dasa Sila sebagai sikap hidup lahir maupun batin untuk para anggotanya, Dasa Sila tersebut yaitu : Pertama, berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, Berbakti kepada Utusan Tuhan. Ketiga, Setia kepada kalifatullah dan undang-undang negara. Keempat, Berbakti kepada Tanah Air. Kelima, Berbakti kepada orang tua. Keenam, berbakti kepada saudara tua. Ketujuh, berbakti kepada guru. Kedelapan, berbakti kepada pelajaran keutamaan. Kesembilan,kasih sayang kepada sesama hidup. Kesepuluh, menghormati semua agama.[6]

Aliran ini mempunyai enam pokok pengajaran Sang Guru Sejati, yaitu: Pertama, mengingatkan semua umat yang lupa akan kewajiban suci, yaitu mereka yang ingkar (murtad) akan perintah Allah. Kedua, Menunjukkan jalan benar ialah jalan utama yang berakhir dalam kesejahteraan, ketenteraman, dan kemuliaan abadi. Ketiga, Menunjukkan adanya jalan simpangan yang berakhir dalam kegelapan, kerusakan, dan kesengsaraan. Keempat, menunjukkan larangan Tuhan yang harus dijauhi dan jangan sampai dilanggar. Kelima, menunjukkan adanya hukum abadi. Keenam, menerangkan tentang dunia besar dan kecil, yaitu semesta alam dan seisinya.[7]

B. Aliran Sapta Darma

1. Asal Usul

Aliran kepercayaan Sapta Darma lahir di Kabupaten Kediri, tepatnya di Kampung Pandean, Gang Klopakan, Desa Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pendirinya adalah Bapak Hardjosapuro. Aliran ini kemudian berkembang setelah didukung oleh temannya Djojo Djaimoen, Kemi Handini dan Bapak Somogiman.[8]

Tepatnya di Kampung Pandean, Gang Klopakan, Desa Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, berdiamlah seorang putra bangsa Indonesia yang bernama Bapak Hardjosapuro. Pada hari Kamis, tanggal 26 Desember 1952, Bapak Hardjosapuro seharian ada di rumah (tidak bekerja sebagaimana biasanya sebagai tukang potong rambut) karena hatinya merasa gelisah.[9]

Kemudian, pada malam harinya beliau pergi berkunjung ke rumah temannya. Menjelang pukul 24.00 WIB beliau pamit pulang, setelah tiba di rumahnya, beliau mengambil tikar dan beralaskan lantai, tiduran-tiduran untuk menenangkan perasaan yang gelisah. Pada saat mau tidur-tiduran, tepat pada Jumat Wage jam 01.00 WIB malam, seluruh badan beliau tergerak oleh getaran yang kuat diluar keinginannya, dengan posisi duduknya menghadap Timur dengan kaki bersila dan kedua tangan bersidakep. Namun dalam keadaan sadar, beliau mencoba melawan gerakan tersebut, namun tidak mampu untuk melawannya. Diluar kemauannya, beliau mengucapkan Kalimat dengan suara keras: “Allah Yang Maha Agung, Allah Yang Maha Rokhim, Allah Yang Maha Adil” setelah itu badannya tergerak untuk sujud secara otomatis diluar kemauannya dengan ucapan-ucapan sujud sambil mengucap dengan suara keras, “Hyang Maha Suci Yang Maha Kuwasa, Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa, Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa”, kemudian duduk dan sujud kembali sambil mengucapkan: “Kesalahane Hyang Maha Suci Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa, Kesalahane Hyang Maha Suci Nyuwun” sebanyak 3 (tiga kali). Kemudian duduk kembali seperti semula dalam keadaan yang masih bergetar, setelah itu tergerak kembali untuk sujud dengan mengucapkan; “Hyang Maha Suci Bertobat Hyang Maha Kuwasa”, kemudian kembali dalam posisi semula. Hal ini terjadi berulang kali sesuai dengan urutan sebelumnya dan berlangsung sampai pukul 05.00 WIB pagi. Apa yang dialaminya tidak diketahui oleh seorangpun yang berada di rumah.

Karena takut dengan kejadian tersebut, Hardjosapuro kemudian membangunkan orang yang berada di rumah, namun semua tidak dapat memahami apa yang dimaksudkannya. Oleh karena itu beliau bermaksud untuk menemui teman terdekatnya yakni Bapak Djojo Djaimoen untuk menceritakan hal yang dialaminya. Pada tanggal 27 Desember 1952 jam 07.00 pagi tibalah beliau di rumah temannya tersebut, kemudian diceritakan apa yang dialaminya. Namun temannya Djojo Djaimoen tidak mempercayai akan hal itu. Akan tetapi, secara tiba-tiba seluruh badan Djojo Djaimoen tergetar dan bergerak seperti yang dialami Hardjosapuro. Setelah dialaminya, mereka berdua berniat datang ke temannya lagi yang bernama Bapak Kemi Handini yang bekerja sebagai sopir di Desa Gedangsewu, Pare untuk diberitahukan serta menanyakan kejadian yang mereka alami.

Niat untuk mendatangi temannya itu dengan harapan mereka akan mendapatkan penjelasan-penjelasan serta nasehat-nasehat dari padanya. Tanggal 28 Desember 1952 jam 17.00 mereka berdua tiba di rumah Bapak Kemi Handini dan diceritakanlah pengalaman mereka. Belum sampai selesai ceritanya, ketiga orang tersebut digerakkan semacam kekuatan yang sama. Dengan tiba-tiba Hardjosapuro melihat dengan terang gambar-gambar tumbal ditempat-tempat tertentu yang tertanam di rumah Kemi. Setelah gerakan berhenti diceritakannlah kepada Bapak Kemi, apa yang diketahuinya di dalam gerak sujud. Ketika diceritakannya kedua teman, Hardjosapuro merasa heran, karena yang dialaminya sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Kemudian mereka bertiga sepakat menemui sahabatnya yang bernama Somogiman yang mengerti akan kebatinan, dengan harapan akan mendapatkan penjelasan darinya. Bapak Somogiman adalah seorang pengusaha pengangkutan di kampung Plongko (Pare). Pada tanggal 29 Desember 1952 jam. 17.00, mereka tiba di rumah Somogiman. Pengalaman gaib pun dipaparkan kepada Somogiman yang banyak dikerumuni oleh kawan-kawannya. Pada waktu itu Somogiman tidak memberi tanggapan dan kelihatannya tidak dipercaya. Tetapi yang terjadi, secara tiba-tiba Somogiman mendapat gerakan yang otomatis di luar kemauannya juga seperti apa yang diceriterakan teman-temannya tadi. Semenjak itu tersiarlah kabar dari mulut ke mulut kegaiban di kota Pare yang dialami oleh Bapak Hardjosapuro dan kawan-kawannya. Hingga terdengar pula oleh Bapak Darmo seorang sopir dan seorang lagi bernama Reksokasirin pengusaha batik. Kedua orang tersebut mendatangi rumah Somogiman untuk membuktikannya, namun belum sampai mendengarkan cerita kawan-kawannya itu tiba-tiba mengalami gerakan sedemikian juga dialaminya.

Pada saat kedua orang itu mengalami gerakan yang sama, semuanya juga bergerak bersama-sama sujud yang serupa. Kini jumlahnya 6 (enam) orang (Bapak. Hardjosopoero, Djojodjaiman, Kemi Handini, Somogiman, Darmo dan Rekso Kasirin). Kemudian mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Kecuali Hardjosapuro yang tidak mau kembali ke rumahnya karena takut mendapat gerakan-gerakan sendirian di rumahnya. Sampai dua bulan lamanya beliau tidak mau pulang ke rumahnya sendiri, tetapi berpindah-pindah ke rumah temannya. Karena ke-enam orang tersebut seolah-olah sama niatnya untuk berkumpul setiap malam hingga dua bulan lamanya.

Pada suatu malam pada tanggal 12 menjelang 13 Februari 1953, setelah ke enam orang tersebut berkumpul, oleh mereka diterima suatu penerimaan petunjuk agar Bapak Hardjosapuro kembali ke rumahnya karena nantinya akan menerima ajaran-ajaran dari Hyang Maha Kuasa yang lebih tinggi lagi. Keesokan harinya pada tanggal 13 Pebruari 1953 jam 10.00 pagi mereka sudah berkumpul di rumah Bapak Hardjosapuro kemudian sedang asyik bercakap-cakap tiba-tiba diterima perintah langsung kepada Hardjosapuro dan berkatalah beliau dengan suara keras (dalam bahasa Jawa), ’’Kawan-kawan lihatlah Saya mau mati dan amat-amatilah Saya”. Maka berdebar-debarlah hati kawan-kawannya dengan mengamat-amati Bapak Hardjosapuro yang berbaring membujur ke timur sambil memejamkan mata dan tangan bersidakep. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari sahabat-sahabatnya dan dengan cara yang beragam para sahabatnya ingin meyakinkan kondisi Hardjosapoero apakah sudah mati atau belum. ”Inilah yang dikatakan Racut ialah mati di dalam hidup”. Pikiran yang seolah-olah mati akan tetapi rasanya masih hidup. Masih mendengar segala yang diceritakan orang akan tetapi tak mendengarkan segala yang diceritakan.

Setelah mengalami Racut beliau menceritakan bahwa dalam keadaan racut tersebut Bpk. Hardjosapuro merasa rohnya/rohaninya keluar dari wadagnya, dan naik ke atas melalui alam yang enak sekali dan masuk ke dalam rumah yang besar dan indah sekali dan beliau sujud didalamnya. Kemudian dilihatnya ada orang bersinar sekali, hingga badannya tak terlihat nyata karena sinar yang berkilauan itu. Di situlah Hardjosapoero duduk bersila dan sujud Menyembah Allah Hyang Maha Kuasa, setelah sujud maka orang yang bersinar tadi terus memegang Hardjosapuro dan dibopong dan diayun-ayunkan setelah itu beliau dituntun ke taman yang penuh bunga dan indah sekali, kemudian di bawa ke sebuah sumur yang penuh airnya lalu dibawa ke sumur yang kedua, disuruh membukanya dan setelah dibuka ternyata airnyapun penuh dengan air yang jernih sekali. Nama kedua sumur tersebut adalah Sumur Gumuling dan Sumur Jalatunda.

Setelah itu kembali ke rumah yang sangat besar dan indah tadi, bersabdalah orang yang bersinar tersebut kepada Bapak Hardjosapoero “Inilah Untukmu” sambil menyodorkan dua bilah keris pusaka. Yang satu wujudnya besar dengan rangka polokan Mataraman dan yang lain pada pamornya terdapat dua bentuk benda bulat berjajar bagaikan Bendo Segodo, yang diberi nama Nogososro dan Benda Segodo / Sugada. Setelah itu beliau disuruhnya kembali pulang. Setelah beliau pada waktu pulang beliau merasa diikuti oleh sebuah bintang yang amat besar dengan sinar terang mengantar perjalanan pulangnya.

Untuk meyakinkan tentang kebenaran ajaran Racut yang diterima oleh Bapak Hardjosapuro, maka para sahabatnya dimintanya melakukan secara bergantian. Pelaksanaan racut yang dilakukan para sahabatnya ditunggui oleh Bapak Hardjosapoero namun yang dialalmi masing-masing sahabat berbeda. Namun dalam hal-hal yang pokok adalah sama, misalnya melalui alam yang enak sekali, sampailah pada sebuah rumah yang besar dan indah dan bertemu orang yang bersinar bagaikan maha Raja. Tetapi tidak ada satupun sahabat yang melakukan sujud di rumah yang besar itu. Pemberian yang diterima juga berbeda ada yang berupa bunga dalam vas, ada pula berupa pakaian serta tidak diberikan apapun. Namun semuanya itu telah meyakinkan para sahabatnya akan kebenaran Racut serta apa yang dialami Bapak Hardjosapoero.

Sejak itulah, semua sahabat-sahabatnya harus berkumpul di rumah Bapak Hardjosapoero, dan tidak boleh berkumpul di rumah sahabat yang lain. Sehingga setiap malam mereka berkumpul untuk melakukan sujud bersama dan juga melakukan latihan-latihan Racut.

Namun pada satu waktu Bapak Hardjosapoero dalam melakukan sujud bersama dilakukannya juga racut seperti yang pernah dialaminya. Dalam melakukan Racut beliau selalu berjumpa dengan sang maha raja, bahkan diberi juga Kotang Ontokusumo dan Caping Basunondo. Pernah juga menerima bongkok (tangkai daun kelapa). Satu panah dan Buku Besar. Sehingga diyakini apapun yang dikerjakan olehnya adalah suatu petunjuk yang benar dari Allah Hyang Maha Kuasa.

Pada tanggal 12 Juli 1954 jam 11.00 siang, datanglah dirumah Bp. Hardjosapuro ialah: Sdr. Sersan Diman, Sdr. Djojosadji, Sdr. Danumihardjo (Mantri guru Taman Siswa Pare). Mereka sedang asyiknya bercakap-cakap, tiba-tiba kelihatan dengan perlahan-lahan pemandangan sebuah gambar di meja tamu yang kelihatan dengan jelas sekali, tetapi kejadian ini tidak tetap, sebentar kelihatan sebentar lagi hilang. Tiba-tiba Sdr. Sersan Diman berdiri dengan sekonyong-konyong sambil menuding-nuding gambar tersebut dengan berkata keras: ”Ini harus digambar, ini harus digambar”, berkali-kali berkata demikian. Kemudian kawan-kawannya segera pergi ke toko mencari/membeli alat-alat gambar berupa mori putih, cat, kwas (alat-alat gambar tersebut). Setelah mendapatkannya terus segeralah digambar pemandangan gambar simbul itu sampai selesai. Setelah selesai digambar, maka hilanglah gambar pemandangan simbul itu dari pandangan mata, yang selanjutnya dinamakan Simbul Pribadi Manusia. Pada gambar tersebut ada tulisan huruf Jawa: SAPTA DARMA, yang selanjutnya disempurnakan dengan penerimaan peribadatannya yang disebut Sujud Sapta Darma / sujud asal mula manusia.

Pada hari itu juga, tanggal 12 Juli 1954 setelah diterima wahyu Simbul Pribadi Manusia, diterima pula wahyu Wewarah Tujuh. Kejadian ini sama halnya dengan gambar simbul pribadi manusia, hanya bedanya dalam penerimaan yaitu kelihatan tulisan tanpa papan (Sastra Jendra Hayuningrat). Sedangkan bahasanya memakai bahasa jawa. Oleh karena tulisan tersebut sebentar kelihatan dan sebentar menghilang seperti menerima simbul Sapta Darma tadi, maka dibagilah tugas untuk menulisnya. Sersan Diman menulis Wewarah 1 sampai dengan 4, sedangkan Bapak Danoemihardjo menulis 5 sampai 7. Setelah ditulis diserahkanlah kepada Bapak Hardjosapoero, Djojosadji dan Bapak Marto untuk dicocokkannya.

Setelah diterima wahyu simbul Sapta Darma dan Wewarah Tujuh, hari itu juga masih diterima lagi wahyu Sesanti yang bunyi lengkapnya seperi berikut: “Ing Ngendi bae marang sapa bae Warga Sapta Darma Kudu sumuar pinda baskara”. Dengan diterimanya wahyu simbul Sapta Darma, Wewarah Tujuh dan Sesanti oleh Bapak Hardjosapoero, penerimaan ajaran ini semakin memperjelas para pengikutnya. Sejak hari itulah baru dimengerti bahwa sujud yang dilaksanakan oleh Bapak Hardjosapoero dan para sahabatnya, sebagai perilaku pendekatan pribadi (hidup) manusia dengan Allah Hyang Maha Kuasa, adalah Sujud Sapta Darma.

2. Ibadah[10]

Dari fenomena dan kejadian-kejadian aneh, Keyakinan akan sebuah petunjuk dan termasuk juga tugas berat, semakin mendalam bagi Bapak Hardjosapoero dan sahabat-sahabatnya, setelah diterimanya wahyu-wahyu Sapta Darma bertambah lengkap, dan ke depannya menjadi ajaran ibadah kelompok ini:

a. Wahyu Sujud adalah memuat ajaran tentang tata cara ritual sujud/ menyembah kepada Tuhan (Allah Hyang Maha Kuasa) bagi Warga Sapta Darma.

b. Wahyu Racut adalah memuat ajaran tentang tata cara rohani manusiauntuk mengetahui alam langgeng atau melatih sowan/ menghadap Hyang Maha Kuasa.

c. Wahyu Simbol Pribadi Manusia menjelaskan tentang asal mula, sifat watak dan tabiat manusia itu sendiri, serta bagaimana manusia harus mengendalikan nafsu agar dapat mencapai keluhuran budi.

d. Wewarah Tujuh, merupakan kewajiban hidup manusia di dunia sekaligus merupakan pandangan hidup dan pedoman hidup manusia. Dalam Wewarah Tujuh tersebut tersirat kewajiban hidup manusia dalam hubungannya dengan Allah Hyang Maha Kuasa, Pemerintah dan Negara, nusa dan bangsa , sesama umat makluk sosial, pribadinya sebagai makluk individu, masyarakat sekitar dan lingkungan hidupnya serta meyakini bahwa keadaan dunia tiada abadi.

e. Wahyu Sesanti yang cukup jelas dan gampang dimengerti oleh siapapun, membuktikan suatu etika/ciri khas Sapta Darma yang menitik beratkan kepada warganya harus bermakna dan berguna bagi sesama umat/ membahagiakan orang lain (tansah agawe pepadang lan maraning lian).

Selanjutnya semakin hari semakin bertambah orang-orang yang menjalankan ajaran Sapta Darma. Apa yang diterima Bapak Hardjosapoero ternyata belum berakhir, karena pada tanggal 27 Desember 1955 jam 24.00, beliau menerima wahyu Gelar Sri Gutama yang berarti Pelopor Budi Luhur dan selaku Panutan Agung, yang ditandai hujan lebat semalam suntuk.

3. Ajaran Pokok[11]

a. Tujuh Kewajiban Suci (Sapto Darmo)

Penganut Sapta Darma meyakini bahwa manusia hanya memiliki 7 kewajiban atau disebut juga 7 Wewarah Suci, yaitu:

1) Setia dan tawakkal kepada Pancasila Allah (Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal).

2) Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara.

3) Turut menyingsingkan lengan baju menegakkan nusa dan bangsa.

4) Menolong siapa saja tanpa pamrih, melainkan atas dasar cinta kasih.

5) Berani hidup atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri-sendiri.

6) Hidup dalam bermasyarakat dengan susila dan disertai halusnya budi pekerti.

7) Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, melainkan berubah-ubah (angkoro manggilingan).

b. Panca Sifat Manusia

Menurut Sapta Darma, manusia harus memiliki 5 (lima) sifat dasar yaitu:

1) Berbudi luhur terhadap sesama umat lain.

2) Belas kasih (welas asih) terhadap sesama umat yang lain.

3) Berperasaan dan bertindak adil.

4) Sadar bahwa manusia dalam kekuasaan (purba wasesa) Allah.

5) Sadar bahwa hanya rohani manusia yang berasal dari Nur Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.

c. Konsep tentang Alam

Konsep alam dalam pandangan Sapto Darmo adalah meliputi 3 alam:

1) Alam Wajar yaitu alam dunia sekarang ini.

2) Alam Abadi yaitu alam langgeng atau alam kasuwargan. Dalam terminologi Islam maknanya mendekati alam akhirat.

3) Alam Halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa.



d. Konsep Peribadatan

Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang Sujud Dasar. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan sebanyak tiga kali. Dalam sehari semalam, pengikut Sapto Darmo diwajibkan melakukan Sujud Dasar sebanyak 1 kali, sedang selebihnya dinilai sebagai keutamaan.

e. Menyatu dengan Tuhan

Sebagai hasil dari amalan Sujud Dasar, mereka meyakini dapat menyatu dengan Tuhan dan dapat menerima wahyu tentang hal-hal ghaib. Mereka juga meyakini, orang yang sudah menyatu dengan Tuhan bisa memiliki kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sebagai atom berjiwa, akal menjadi cerdas, dan dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit.

f. Hening

Hening adalah salah satu ajaran Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara menenangkan semua fikiran seraya mengucapkan, Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil. Orang yang berhasil dalam melakukan hening akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, antara lain:

1) dapat melihat dan mengetahui keluarga yang tempatnya jauh.

2) dapat melihat arwah leluhur yang sudah meninggal.

3) dapat mendeteksi suatu perbuatan, jadi dikerjakan atau tidak.

4) dapat mengirim atau menerima telegram rasa.

5) dapat melihat tempat yang angker untuk dihilangkan keangkerannya.

6) dapat menerima wahyu atau berita ghaib.

g. Racut

Racut adalah ajaran dan praktek dalam Sapto Darmo yang intinya adalah usaha untuk memisahkan rasa, fikiran, atau ruh dari jasad tubuhnya untuk menghadap Allah, kemudian setelah tujuan yang diinginkan selesai lalu kembali ke tubuh asalnya.

Caranya yaitu setelah melakukan sujud dasar, kemudian membungkukkan badan dan tidur membujur Timur-Barat dengan kepala di bagian timur, posisi tangan dalam keadaan bersedekap di atas dada (sedekap saluku tunggal) dan harus mengosongkan pikiran. Kondisi tubuh di mana akal dan fikirannya kosong sementara ruh berjalan-jalan itulah yang dituju dalam racut, atau disebut juga kondisi mati sajroning urip.

h. Simbol-Simbol

Ada empat simbol pokok, yaitu:

1) Gambar segi empat, yang menggambarkan manusia seutuhnya.

2) Warna dasar pada gambar segi empat, yaitu hijau muda yang melambangkan sinar cahaya Allah.

3) Empat sabuk lingkaran dengan warna yang berbeda-beda, hitam melambangkan nafsu lauwamah, merah melambangkan nafsu ammarah, kuning melambangkan nafsu sauwiyah, dan putih melambangkan nafsu muthmainnah.

4) Vignette Semar (gambar arsir Semar) melambangkan budi luhur. Genggaman tangan kiri melambangkan roh suci, pusaka semar melambangkan punya kekuatan sabda suci, dan kain kampuh berlipat lima (wiron limo) melambangkan taat pada Pancasila Allah.

C. Aliran Subud[12]

1. Tinjauan Sejarah Kelahiran Organisasi

Pendiri dari Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud ialah Bapak R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo yang pada tanggal 23 Juni 1987 telah wafat di Jakarta dalam usia 86 tahun. Latihan Kejiwaan Subud diterima oleh Bapak Muhammad Subuh dalam suatu pengalaman gaib pada suatu malam di tahun 1925, dan delapan tahun kemudian, pada tahun 1933 Bapak Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai LATIHAN KEJIWAAN. Subud sebagai organisasi dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta.

Subud mulai menyebar ke luar negeri sejak tahun 1954, dibawa oleh seorang lnggris yang beragama Islam, Husein Rofe, Bapak Muhammad Subuh memulai lawatan ke luar negerinya di tahun 1957, dan semasa hidupnya beliau telah berpuluh-puluh kali berkunjung ke berbagai negara di dunia. Subud pada waktu ini telah tersebar ke lebih dari 70 negara di dunia.

Subud bukan semacam agama dan juga bukan bersifat peiajaran, tetapi adalah sifat Latihan Kejiwaan yang dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan ke arah kenyataan kejiwaan, terlepas daripada pengaruh nafsu kehendak dan akal pikiran.

Arti kata-kata Susila Budhi Dharma yang disingkat menjadi SUBUD ialah : SUSILA artinya : budi pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa; BUDHI artinya: daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia; DHARMA artinya : penyerahan, ketawakalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2. Dasar Pengertian

a. Konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa

Pemahaman dan pengertian Subud tentang Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bahwa Tuhan dengan kekuasaanNya mencakup seluruh ciptaan-Nya baik yang terpandang maupun yang tidak tampak.

b. Konsepsi tentang Manusia

Manusia adalah makhluk Tuhan yang keberadaannya dikehendaki oleh-Nya dan diliputi oleh kekuasaan-Nya. Kekuasaan Tuhan sudah berada dalam dirinya yang mengisi serta meliputi diri manusia. Manusia hanya tinggal menyerah saja kepada kekuasaan Tuhan yang ada pada dirinya ini dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

c. Konsepsi tentang Alam Semesta

Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dan kekuasaan Tuhan meliputi seluruh ciptaan-Nya. Hal ini pun sesuai dengan apa yang telah diterima dan disampaikan oleh para utusan Tuhan.

d. Konsepsi tentang Kesempurnaan

Tiada yang sempurna kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa. Semua ciptaan Tuhan baik yang kelihatan maupun yang tidak, berada dalam berbagai tingkat kesempurnaan diri yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui saja. Manusia tidak perlu menanyakan tentang tingkat kesempurnaan dirinya karena yang telah diterimanya adalah yang sesuai dengan keadaan dirinya pada suatu waktu tertentu dalam hidupnya. Yang perlu bagi manusia adalah menyerah sepenuhnya kepada kekuasaan-Nya agar ia menjadi orang yang sempurna yang sesuai dengan kodrat yang ditentukan Tuhan bagi dirinya.

3. Dasar Penghayatan

a. Perilaku Spiritual

Tata cara ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dilakukan oleh para anggota Subud melalui tata cara agamanya masing-masing. Latihan Kejiwaan Subud bukan merupakan tata cara penghayatan. Latihan Kejiwaan Subud merupakan suatu penerimaan yang tidak ada tata caranya kecuali penyerahan diri sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, yang kemudian atas kemurahan Tuhan akan membangkitkan gerak rasa diri, bebas dari pengaruh nafsu hati dan akal pikiran. Gerak tersebut merupakan gerak yang dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan dan hanya tinggal diikuti saja.

b. Pedoman Penghayatan (Lisan dan Tertulis)

Karena Latihan Kejiwaan Subud merupakan penerimaan dari masing-masing orang yang melakukannya, penerimaan setiap orang tidak ada yang sama dan dengan demikian pedoman tentang Latihan Kejiwaan Subud baik secara lisan maupun tertulis hanyalah merupakan keterangan-keterangan dalam bentuk ceramah-ceramah Bapak Muhammad Subuh yang sebagian sudah dicetak berupa tulisan dan sebagian lagi belum.

c. Kelengkapan Fisik/Material yang Digunakan dalam Melaksanakan Latihan Kejiwaan Subud.

Untuk Latihan Kejiwaan secara bersama diperlukan tempat Latihan yang dapat berupa kamar, ruang atau gedung Latihan. Ruang tempat Latihan ini dapat dilengkapi dengan alas tikar atau karpet. Ruang tempat Latihan pria terpisah dengan wanita atau secara bergantian. Latihan Kejiwaan secara sendiri dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa memerlukan guru.

4. Dasar Pengalaman

a. Dasar Pelaksanaan Latihan Kejiwaan Subud

Penyerahan diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sabar, tawakal dan ikhlas dan mengikuti gerak diri yang terasa secara spontan begitu rasa diri terbebas dari pengaruh nafsu dan akal pikiran. Anggota Subud yang telah mampu menghentikan Latihannya setiap waktu dalam acara Latihan bersama, dapat melakukan Latihan sendiri di mana saja yang tidak mengganggu atau ter-ganggu oleh orang lain.

b. Pengamalan dalam Tata Kehidupan, dan Upacara-upacara (ritus) dalam Lingkungan Kehidupan.

Subud tidak mempunyai ritual khusus dalam tata kehidupan dan dalam lingkaran kehidupan bermasyarakat. Upacara-upacara para anggota Subud dalam tata kehidupan mengikuti ritual agamanya dan adat-istiadat yang dianutnya masing-masing.

c. Kelembagaan Organisasi Subud

Keberadaan PPK Subud Indonesia secara hukum telah dikukuhkan oleh Menteri Kehakiman dalam Tambahan Berita Negara R.I. tanggal 4-12-1964 No. 97 dan diterbitkan sebagai Anggaran Dasar Serikat-serikat No. 36 tahun 1964. Anggaran Dasar ini telah mengalami perubahan untuk disesuaikan dengan UU Nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Perubahan Anggaran Dasar PPK Subud Indonesia secara hukum telah pula dikukuhkan oleh Menteri Kehakiman dalam tambahan Berita Negara R.I. tanggal 18 Nopember 1988 No. 93 dan diterbitkan sebagai Anggaran Dasar Serikat-serikat No. 60 tahun 1988.

Para anggota Subud dipelbagai negara membentuk organisasi nasionalnya masing-masing. Organisasi nasional negara-negara ini membentuk Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud Sedunia yang disebut World Subud Association.

d. Partisipasi Subud dalam Pembangunan Nasional

Partisipasi Subud dalam Pembangunan Nasional adalah melalui pembinaan pribadi melalui Latihan Kejiwaan Subud untuk menghadapi tantangan pembangunan negara dan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Untuk ini, PPK Subud Indonesia mempunyai program kerja yang mencakup bidang-bidang Usaha, Kesejahteraan, Kegiatan Sosial, Kebudayaan, Remaja serta Komunikasi dan Publikasi.

5. Lampiran

a. Pengalaman Pribadi Anggota Subud

Hubungan antara manusia dengan Tuhan difahami dan disadari oleh masing-masing anggota secara sangat pribadi. Pengalaman seorang anggota Subud yang diterima dalam Latihan Kejiwaan Subud dan telah mengubah hidupnya ke arah kebaikan belum tentu mempunyai arti yang sama untuk anggota Subud lain yang mempunyai latar belakang kehidupan dan persoalan yang berbeda.

b. Gambaran Singkat Riwayat Hidup Pendiri

Bapak R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo, pendiri PPK Susila Budhi Dharma dilahirkan dari seorang Ibu yang pada masa kecilnya tinggal di Kecamatan Juangi, Telawah, Surakarta. Beliau keturunan dari Kadilangu, Demak. Pada waktu dewasanya, lbu dari Bapak Muhammad Subuh pindah ke Kedungjati, Semarang dan menikah di sana.

Bapak Muhammad Subuh dilahirkan di Kedungjati, Semarang pada hari Sabtu Wage tanggal 3 Maulud tahun Dal 1831 atau tanggal 22 Juni 1901 jam 05.00 pagi. Sejak lahirnya, Muhammad Subuh diasuh dan dibesarkan oleh eyangnya, R.M. Sumowardoyo.

Pada tahun 1917, di usia 16 tahun, pada waktu eyang yang membesarkan beliau meninggal dunia, Bapak Muhammad Subuh berhenti sekolah dan bekerja sebagai pegawai Perusahaan Kereta Api N.I.S.

Pada waktu usia mudanya, Bapak Muhammad Subuh sempat memperoleh didikan agama Islam dari Kyai Abdurachman dan taat menjalankan ibadat agama Islam sebagaimana lazimnya seorang muslim. Sewaktu beliau sudah pindah dan bekerja di Balaikota Semarang, pada usia 24 tahun, beliau menerima Latihan Kejiwaan seperti telah dikemukakan sebelumnya.

c. Ceramah-ceramah dari Bpk Muhammad Subuh

Dari sejak beliau menerima Latihan Kejiwaan Subud sampai wafatnya, Bapak Muhammad Subuh telah menyampaikan kepada para anggota Subud nasihat-nasihat yang berupa ceramah-ceramah beliau yang didasarkan kepada penerimaan beliau tentang hidup dan kehidupan ini.

Secara konsisten dan mendasar Bapak Muhammad Subuh telah menyampaikan bahwa manusia harus bersikap menyerah diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sabar, tawakal dan ikhlas jika ia ingin mendapatkan tuntunan Tuhan dalam hidup ini. Melakukan Latihan Kejiwaan dengan.teratur dan tekun merupakan kunci kefahaman dan kesadaran seseorang agar dia dapat menemukan arti kehidupan ini bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat.

d. Lain-lain yang Dianggap Perlu dan Relevan dengan Tujuan Pemaparan.

1) Penerimaan Anggota Baru

Untuk setiap orang yang ingin menjadi anggota baru dari organisasi SUBUD ini haruslah memenuhi syarat berikut:

a) Umur telah mencapai 17 tahun,

b) Berkondisi mental normal atau tidak sedang menderita sakit ingatan,

c) Bagi seorang isteri yang suaminya belum anggota harus mendapatkan izin tertulis dari suaminya,

d) Para wanita yang belum menikah dan masih menjadi tanggungan orang tuanya (walinya) harus memperoieh izin tertulis dari orangtua atau walinya itu.

2) Pembukaan untuk dapat menerima Latihan Kejiwaan Subud

peminat terlebih dahulu mengalami pembukaan yang diselenggarakan oleh seorang atau beberapa orang pembantu pelatih. Seorang calon belum dapat dibuka sebelum menjalani masa pencalonan selama 3 bulan dengan pengecualian bagi mereka yang umurnya telah mencapai dan melewati 63 tahun, Mereka yang sedang menderita sakit badaniah yang menghendaki kepastian dan perhatian khusus dan segera, Seorang isteri yang suaminya telah menjadi anggota dan para putra dan putri dari keluarga Subud, Bagi yang bertempat tinggal jauh dari kelompok Latihan Kejiwaan Subud yang ada.

3) Lambang subud

Bertujuan identifikasi semata, satu-satunya lambang yang dapat digunakan dalam Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud adalah sebagai simbol kebaikan untuk usaha meningkatkan dan sebagai sarana penghayatan tidak diperlukan sama sekali.

Susunan alam dan daya-daya hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa meliputi dari dimensi yang paling rendah (terbatas) sampai yang paling luas terdapat susunan sebagai yang ditunjukkan dalam lambang Subud dimaksud yakni berupa lingkaran-lingkaran sebagai berikut: Alam dan Daya Hidup/Roh Rewani (Daya Hidup Kebendaan), Alam dan Daya Hidup/Roh Nabati (Daya Hidup Tumbuh-tumbuhan), Alam dan Daya Hidup/Roh Hewani (Daya Hidup Binatang), Alam dan Daya Hidup/Roh Jasmani (Daya Hidup Manusia), Alam dan Daya Hidup/Roh Rohani/Daya Hidup lnsan/Alam Rohaniah, Alam dan Daya Hidup/Roh Rahmani/Daya Hidup para utusan/Alam Rahmaniah, Alam dan Daya Hidup/Roh Robani/Daya Hidup para ciptaan Tuhan yang mendapatkan keluhuran dari Tuhan Yang Maha Esa/Alam Robaniah.

Selain alam dan segala daya hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa terdapat Daya Hidup Besar yang merupakan bagian dari manifestasi dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yaitu yang ditunjukkan sebagai garis-garis tujuh buah yang menembus dan menghubungkan segala alam dan daya hidup ciptaan tersebut di atas.

Sifat yang ada di dalamnya adalah Roh Ilofi dan yang ada di luar adalah Roh AI Kudus (Rohu'lkudus). Oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Roh Ilofi atau Roh Suci ini digerakkan untuk membangkitkan dan mensucikan, sedangkan Roh AI Kudus meliputi dan membina perjalanan hidup makhluk ciptaan yang memperoleh Rakhmat terbimbing ke arah kehendak Yang Menciptakan.

4) Penutup

Latihan Kejiwaan yang telah diterima oleh Bapak Muhammad Subuh dan telah tersebar ke lebih dari 70 negara di dunia merupakan bimbingan serta kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia pada waktu ini. Dasar Latihan Kejiwan Subud adalah sangat sederhana sedangkan manfaatnya untuk kehidupan adalah luar biasa besarnya.

Mereka yang memperoleh pengertian karena menekuni Latihan Kejiwaan ini dengan sabar akan menemukan hal-hal yang di luar dugaannya, di luar akal pikirannya untuk dimengerti, yang terjadi secara mengherankan jika hal ini hanya dilihat dari sudut pandang akal pikiran saja.

Kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari terasa terbimbing ke arah kebaikan, ke arah penyempurnaan kita sebagai manusia seutuhnya, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia, yang mampu menerima kasih sayang-Nya jika saja kita mau menerimanya. Kekuasaan Tuhan ada pada diri kita, mengisi dan meliputi seluruh diri serta tidak terpisahkan. Melalui Latihan Kejiwaan Subud, kekuasaan Tuhan ini dapat kita rasakan.



D. Aliran Sumarah

1. Asal Usul

Awal mula berdirinya aliran kepercayaan paguyuban sumarah dipelopori oleh beberapa tokoh sebagai perintis, diantaranya tokoh awalnya ialah R. Sukinohartono, ia lahir tahun 1897. Sejak muda ia sudah tertarik pada ilmu-ilmu mistisme, seperti tapa, tirakat, dan meditaasi. Selain itu ia juga memiliki ilmu warisan kanuragan dari orang tuanya. Akan tetapi ilmu kesaktian seperti itu menurutnya tidak dapat membawa kepada keselamatan hingga ia memutuskan untuk meninggalkannya dan mencari guru yang ilmunya dipandang dapat membawa keselamatan lahir batin.

Lahirnya sumarah dikatakan dalam buku Suwarno Imam berawal dari keprihatinan Sukinohartono melihat kondisi bangsanya yang kala itu dalam penjajahan belanda, sehingga ia berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa dan do’anya pun dikabulkan dengan cara diwahyukannya tuntunan sumarah melalui hakiki kepada Sukinohartono pada tanggal 8 september 1935 dirumahnya Wirobrajan VII/158 Yogyakarta. Hakiki adalah sumber otoritas spiritual kepada individu tertentu yang artinya sama dengan guru sejati.

Setelah menerima perintah dari Tuhan YME untuk menyebarkan ajaran sumarah keseluruh umat manusia yang imannya tidak bulat pada waktu itu, ia kemudian meghubungi temannya Suhardo. Suhardo adalah orang yang paling aktif dalam menyebarkan ajaran sumarah keluar Yogyakarta mulai tahun 1939 sampai 1950. Dan ia mengajak lagi temannya Sutadi untuk berjuang bersama. Dan itulah yang di sebut tiga sesepuh dalam sumarah. Sukinohartono meninggal dunia di Wirobrajan VII/158 pada tanggal 25 maret 1971, dimakamkan dikuncen Yogyakarta.[13]

2. Pengertian Sumarah

Kata sumarah berasal dari bahasa Jawa artinya menyerah atau pasrah. Sedangkan Sumarah yang dimaksud adalah tingkat kesadaran manusia untuk berserah diri seutuhnya kepada Tuhan YME. Paguyuan Sumarah mendasarkan diri pada Ilmu Sumarah yang diwahyukan pertama kali kepada R. Soekinohartono. Ilmu Sumarah intinya mengutamakan sujud sumarah, yakni pasrah menyerah bulat seutuhnya kepada Tuhan YME. Dalam praktiknya sujud sumarah tampak sederhana, tetapi harus dilakukan dengan tekad yang teguh, tekun, dan waspada.

Yang dapat diterima menjadi anggota Paguyuban Sumarah adalah warga Indonesia yang sudah mencapai umur 15 tahun, serta sudah tergugah rasa ketuhannnaya, bersedia mematuhi sesanggeman, menyetujui anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Paguyuban Sumarah, tanpa membedakan suku bangsa, religi, dan jenis kelamin.

Sesanggeman yang harus dipatuhi warga Paguyuban Sumarah adalah sebagai berikut.

a. Sanggem tansah enget dhateng Allah, sumingkir saking raos pandaku, kumingsun, pitados dhateng kasunyatan saha sujud sumarah ing Allah.

b. Marsudi sarasing sarira, tentreming panggalih saha sucining Rohipun, mekaten ugi ngutamekaken watakipun, dalah muna-muni tuwin tindak-tandukipun.

c. Ngraketaken pasedherekan adhedhasar rasa sih.

d. Sanggem tumindak saha makarti, anjembaraken wajibing ngagesang, sarta anggatosaken preluning bebrayan umum, netepi wajibing Warga Negara, tumuju dhateng kamulyan saha kaluhuran, ingkang mahanani tata tentreming jagad raya.

e. Sanggem tumindak leres, ngestokaken Angger-Angger Nagari tuwin ngaosi ing sasami, mboten nacat kawruhing liyan, malah tumindak kanthi sih, murih sadaya golongan, para ahli kebatosan tuwin sadaya Agami saged nunggil gegayuhan.

f. Sumingkir saking pandamel awon, maksiyat, jahil, drengki, lan sasaminipun. Sadaya tindak tuwin pangandika sarwa prasaja sarta nyata, kanthi sabar saha titi, mboten kesesa, mboten sumengka.

g. Taberi ngudi jembaring seserepan lahir batos. Boten fanatik, namung pitados dhateng kasunyatan, ingkang tundhonipun murakabi dhateng bebrayan umum.[14]

3. Ajaran-Aliran Sumarah

Ajaran pada aliran sumarah tersebut mempunyai tiga konsep yaitu:

a. Konsep Ketuhanan

Dalam aliran kepercayaan paguyuban sumarah, pandangannya mengenai Tuhan sangat sederhana, yang diterima dan diyakini begitu saja tanpa adanya pembicaraan lebih lanjut. Tuhan dalam paguyuban sumarah disebut juga Tuhan Allah. Atau dalam study agama-agama dapat digolongkan termasuk “ monotisme panteistik” yaitu Tuhan dan manusia dipandang sebagai suatu kesatuan, Yang dalam buku Suarno Imam dikatakan bahwa Tuhan itu berada dalam diri manusia yang diwakili urip (hidup). Bahkan urip itulah pada hakikatnya adalah Tuhan. Atau dalam buku Ridin Sofwan yang lebih lanjut menjelaskan bahwa “hakekat dari pada hidup (urip) itu tidak lain adalah jiwa manusia yang dipandang sebagai pletikan bunga api dari Allah”.

b. Konsep Manusia

Adapun manusia dalam paguyuban sumarah terdiri atas badan jasmani badan nafsu dan jiwa atu roh. Sari-sari badan jasmani ini berasal dari 4 unsur yaitu api, air,udara, dan bumi/tanah. Nah dari ke4 elmen tersebut, maka dalam diri manusia timbul 4 macam nafsu pula yaitu: aluamah, amarah, supiah, mutmainnnah.

Dalam badan jasmani manusia dilengkapi dengan panca indra yang dikuasai pemikir. Yang katanya hanya bersangkutan dengan keduniaan. Pemikir erat kaitannya dengan angan-angan. Apa yang ditangkap pemikir diteruskan keangan-angan untuk disimpan dengan baik. Dan angan-anganlah yang kemudian merupakan alat untuk bersekutu dan berhubungan dengan Tuhan. Pada bagian kedua yaitu badan nafsu, seperti yang disebutkan sebelumnya, dan nafsu-nafsu itu berpusat kepada apa yang disebut suksmaadapun kesemuanya ini penggeraknya ialah nyawa.

Bagan ketiga ialah jiwa atau roh yang merupakan asal kejadian manusia, yang awalnya dalam keadaan suci dan akan kembali keasalnya alam azali abadi dalam keadaan suci pula. Bila selama hidupnya manusia selalu berbuat jahat dan merugikan orang lain, maka jiwa/roh itu akan terlahir kembali(reingkarnasi). Jiwa atau roh berasal dari roh suci yaitu Allah.

c. Konsep Mistik

Menurut perspektif ajaran sumarah, jiwa manusia memiliki empat unsure nafsu, dan jiwa dlm khidupn sehari” hanya ibarat symbol yang tidak berkuasa, sedangkan yang berkuasa ialah salah satu diantara nafsu-nafsu tersebut, maka dari itu, didalam paguyuban sumarah di ajarkan sujud sumarah untuk menundukkan hawa nafsu dan untuk membuat jiwa itu berkuasa atas nafsu tersebut. Sebagai jalan menuju persatuan jiwa dengan Tuhan Yang Maha Esa.[15]

Pada uraian diatas, bahwasanya ajaran sumarah ini memilki beberapa sujud untuk mempasrahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun sujud-sujud tersebut diantaranya:

1. Sujud Raga

2. Sujud Jiwa Raga

3. Sujud Tetap Iman

4. Sujud Sumarah



BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang tertulis diatas dapat kita simpulkan bahwa makalah aliran-aliran kepercayaan yang Paguyuban Ngesti Tunggal atau biasa disingkat Pangestu adalah sebuah wadah Pendidikan Budi Pekerti dan Pengolahan Jiwa yang mengutamakan konsep persatuan di dalam relasi dengan sesama dan relasi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Paguyuban ini didirikan di Surakarta pada tanggal 20 Mei 1949, yang merupakan wujud dari ikatan persatuan dari setiap anggota Pangestu. Walaupun demikian, ajaran Pangestu itu sendiri sudah diwahyukan sejak tanggal 14 Februari 1932 kepada R. Soenarto Mertowardojo di Surakarta.

Mengenai ajaran Paguyuban Ngesti Tunggal tidak terlepas dari riwayat hidup pendirinya, yaitu R. Soenarto Mertowardojo. R. Soenarto dilahirkan pada tanggal 21 April 1899 di Desa Simo, Kabupaten Boyolali, Surakarta sebagai putera keenam dari keluarga R. Soemowardojo. Sejak kecil ia tidak diasuh oleh orang tua kandungnya melainkan dititipkan untuk tinggal dan dibesarkan oleh orang lain. Ketika beliau beranjak dewasa, keinginan untuk terus mencari dan memahami keesaan Tuhan berikut semesta alam seisinya makin mengental. Melalui perenungan yang dalam, muncul pertanyaan-pertanyaan besar, seperti di mana Tuhan bertakhta? Bagaimana manusia dapat bertemu dengan Tuhannya? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan surga dan neraka dan jika ada? Dimana letaknya? Pertanyaan-pertanyaan itu semua mendorong Pakde untuk belajar kepada beberapa guru. Hakikatnya semua aliran kepercayaan yang dianut adalah mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.


DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia, Paguyuban Ngesti Tunggal, http://id.wikipedia.org/wiki/Paguyuban_ Ngesti_Tunggal/ diakses tanggal 26 Maret 2014
KEJAWEN, http://blogkejawen.blogspot.com/2011/03/pangestu.html/ diakses tanggal 26 Maret 2014
Wikipedia, Paguyuban Ngesti Tunggal, http://id.wikipedia.org/wiki/Paguyuban_Ngesti_ Tunggal/ diakses tanggal 26 Maret 2014
KEJAWEN, http://blogkejawen.blogspot.com/2011/03/pangestu.html/ diakses tanggal 26 Maret 2014
Wikipedia, Paguyuban Ngesti Tunggal, http://id.wikipedia.org/wiki/Paguyuban_Ngesti_ Tunggal/ diakses tanggal 26 Maret 2014
Pencerah Iman, Sapto Darmo dan Perjuangan Identitas, https://swarakafir.wordpress. com/2013/04/10/sapto-darmo-dan-perjuangan-identitas/ diakses tanggal 01 April 2014
KEJAWEN, http://blogkejawen.blogspot.com/2011/03/pangestu.html/ diakses tanggal 26 Maret 2014
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Sejarah Pangestu Sapta Dharma, Sumarah, SUbud"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top