Javanese beliefs (Kebatinan or Kejawen) have principles embodying a "search for inner self" but at the core is the concept of Peace Of Mind. Although Kejawen is a religious category(Agama), it addresses ethical and spiritual values as inspired by Javanese tradition. That can as religion in usual sense of the world, like Christianity, Judaism, Budha or Islam. Kejawen adalah Agama Jawa yang di Ajarkan dalam Budaya Jawa yang di sebut Kejawen. Kawruh kejawen. Ilmu Kejawen, Agama Kejawen

POP UP

Mas Tamvan on Facebook!

MAKNA DESAIN KERIS DALAM BUDAYA JAWA

Warto*
* Penulis adalah calon dosen jurusan Dakwah STAIN Purwokerto. Saat ini sedang menempuh pendidikan

Abstract
Cultural objects in Java besides owning high aesthetic value also have magical energy it is of course to which sure and trusting it. Artistic to progressively form of the object, hence will be valuable progressively high art and have deeper magical meaning. Keris as one of the cultural object in Java owning very unique desain.
Existence of keris cannot be discharged from a smith. Of hands of they keris created. Greatness of keris do not famous only just Java land. But have become heritage grand culture of world. Keris is cultural masterwork of parallel proper Indonesia with other masterpieces of whole world.


Pendahuluan
Bila ingin berbicara tentang desain biasanya dimulai dengan usaha
memformulasikan pengertian tentang desain, membuat definisi desain, dan mencari arti
desain. Ternyata usaha yang quasi standar ini sama sulitnya dengan membangunkan
Kumbakarna dari tidur lelapnya, dibangunkannya susah tetapi setelah terbangun dari
tidurnya ulahnya susah dikendalikan. Supaya bahasan ini berjalan pada titian aman, kita
tengok sejenak ke buku kamus.
Pada English Oxford Dictionary terbitan tahun 1588, untuk pertama kali disebut
kata “design” yang kira-kira artinya adalah: (1) Rencana atau skema yang dibuat manusia
yang akan direalisasikan. (2) Gambar rencana untuk sebuah karya seni rupa atau seni
terapan (applied art), untuk panduan pelaksanaannya.1
Budaya atau kebudayaan (berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang
merupakan bentuk jamak dari “buddhi” (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang
berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga
di Program Studi Ilmu Komputer Program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta.
sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia sebagai "kultur".2
Dari dua pengertian diatas dapat kita analisa bahwa desain atau proses desain adalah
aktualisasi dari sebuah kebudayaan. Dimana corak kebudayaan pada suatu tempat dan
waktu dapat di analisa dari artefak-artefak yang ditinggalkan pada masa itu. Desain
sebuah candi pada zaman dinasti Saylendra tentunya berbeda dengan desain candi yang
bangun pada masa dinasti Sanjaya.


Keris
Keris ialah sejenis senjata pendek kebangsaan Melayu yang digunakan sejak melebihi 600 tahun dahulu. Senjata ini memang unik di dunia Melayu dan boleh didapati di kawasan berpenduduk Melayu seperti Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan(Mindanao), dan Brunei.
Keris digunakan untuk mempertahankan diri (misalnya sewaktu bersilat) dan sebagai alat kebesaran diraja. Senjata ini juga merupakan lambang kedaulatan orang Melayu. Keris yang paling masyhur ialah keris Taming Sari yang merupakan senjata Hang Tuah, seorang pahlawan Melayu yang terkenal.
Keris berasal dari Kepulauan Jawa dan keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan abad ke-14. Senjata ini terbahagi kepada tiga bahagian, yaitu mata, hulu dan sarung. Keris sering dikaitkan dengan kuasa mistik oleh orang Melayu pada zaman dahulu. Antara lain, terdapat kepercayaan bahawa keris mempunyai semangatnya yang tersendiri.
Keris menurut amalan Melayu tradisional perlu dijaga dengan cara diperasapkan pada masa-masa tertentu, malam Jumat misalnya. Ada juga amalan mengasamlimaukan keris sebagai cara untuk menjaga logam keris dan juga untuk menambah bisanya.
Ada pepatah yang menyatakan : "Penghargaan pada seseorang tergantung karena
busananya." Mungkin pepatah itu lahir dari pandangan psikolog yang mendasarkan pada
kerapian, kebersihan busana yang dipakai seseorang itu menunjukkan watak atau karakter
yang ada dalam diri orang itu.Di kalangan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya
untuk suatu perhelatan tertentu, misalnya pada upacara perkawinan, para kaum prianya
harus mengenakan busana Jawi jangkep (busana Jawa lengkap).
Dan kewajiban itu harus ditaati terutama oleh mempelai pria, yaitu harus
menggunakan/memakai busana pengantin gaya Jawa yaitu berkain batik, baju pengantin,
tutup kepala (kuluk) dan juga sebilah keris diselipkan di pinggang. Mengapa harus keris?
Karena keris itu oleh kalangan masyarakat di Jawa dilambangkan sebagai simbol "kejantanan." Dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka.
Pandangan ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat Jawa dulu, bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu dari menyatunya unsur lelaki dengan unsur perempuan. Di dunia ini Allah , menciptakan makhluk dalam dua jenis seks yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Kepercayaan pada filsafat agraris ini sangat mendasar di lingkungan keluarga besar Karaton di Jawa, seperti Karaton Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan lain-lain. Kepercayaan itu mulanya dari Hinduisme yang pernah dianut oleh masyarakat di Jawa. Lalu muncul pula kepercayaan tentang bapa angkasa dan ibu bumi/pertiwi. Yang juga dekat dengan kepercayaan filsafat agraris di masyarakat Jawa terwujud dalam bentuk upacara kirab pusaka pada menjelang satu Sura dalam kalender Jawa dengan mengkirabkan pusaka unggulan Karaton yang
terdiri dari senjata tajam: tombak pusaka, pisau besar (bendho). Arak-arakan pengirab senjata pusaka unggulan Karaton berjalan mengelilingi komplek Karaton sambil memusatkan pikiran, perasaan, memuji dan memohon kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, untuk beroleh perlindungan, kebahagiaan, kesejahteraan lahir dan batin. Fungsi utama dari senjata tajam pusaka dulu adalah alat untuk membela diri dari serangan musuh, dan binatang atau untuk membunuh musuh. Namun kemudian fungsi dari senjata tajam seperti keris pusaka atau tombak pusaka itu berubah. Di masa damai, kadang orang menggunakan keris hanya sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran saat temu pengantin. Maka keris pun dihias dengan intan atau berlian pada pangkal hulu keris.
Bahkan sarungnya yang terbuat dari logam diukir sedemikian indah, berlapis emas berkilauan sebagaikebanggaan pemakainya. Lalu, tak urung keris itu menjadi komoditi bisnis yang tinggi nilainya.
Tosan Aji atau senjata pusaka itu bukan hanya keris dan tombak khas Jawa saja, melainkan hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki senjata tajam pusaka andalan, seperti rencong di Aceh, badik di Makasar, pedang, tombak berujung tig (trisula), keris bali, dan lain-lain.
Ketika Sultan Agung menyerang Kadipaten Pati dengan gelar perang Garudha Nglayang, Supit Urang, Wukir Jaladri, atau gelar Dirada Meta, prajurit yang mendampingi menggunakan senjata tombak yang wajahnya diukir gambar kalacakra.
Keris pusaka atau tombak pusaka yang merupakan pusaka unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsur batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada Sang Maha Pencipta Alam (Allah SWT) dengan suatu upaya spiritual oleh Sang Empu. Sehingga kekuatan spiritual Sang Maha Pencipta Alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.
Pernah ada suatu pendapat yang berdasarkan pada tes ilmiah terhadap keris pusaka dan dinyatakan bahwa keris pusaka itu mengeluarkan energi/kekuatan yang tidak kasat mata (tak tampak dengan mata biasa).
Yang menarik hati adalah keris yang dipakai untuk kelengkapan busana pengantin pria khas Jawa. Keris itu dihiasi dengan untaian bunga mawar melati yang dikalungkan pada hulu batang keris. Ternyata itu bukan hanya sekedar hiasan, melainkan mengandung makna untuk mengingatkan orang agar jangan memiliki watak beringas, emosional, pemarah, adigang-adigung-adiguna, sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri seperti watak Harya Penangsang.
Kaitannya dengan Harya Penangsang ialah saat Harya Penangsang berperang
melawan Sutawijaya, karena Penangsang pemarah, emosional, tidak bisa menahan diri,
perutnya tertusuk tombak Kyai Plered yang dihujamkan oleh Sutawijaya. Usus keluar dari perutnya yang robek. Dalam keadaan ingin balas dendam dengan penuh kemarahan Penangsang yang sudah kesakitan itu mengalungkan ususnya ke hulu keris di pinggangnya. Ia terus menyerang musuhnya. Pada suatu saat Penangsang akan menusuk lawannya dengan keris Kyai Setan Kober di bagian pinggang, begitu keris dihunus, ususnya terputus oleh mata keris pusakanya. Penangsang mati dalam perang dahsyat yang menelan banyak korban. Dari peristiwa itulah muncul ide keris pengantin dengan hiasan untaian bunga mawar dan melati.
Tosan aji atau senjata pusaka seperti tombak, keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang luar biasa kepada pemilik atau pembawanya. Orang menyebut itu sebagai piyandel, penambah kepercayaan diri, bahkan keris pusaka atau tombak pusaka yang diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu
mengandung kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu. Namun manakala
kepercayaan sang raja itu dirusak oleh perilaku buruk sang adipati yang diberi keris
tersebut, maka keris pusaka pemberian itu akan ditarik/diminta kembali oleh sang raja.
Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyarakat Jawa diartikan secara
ilosoi sebagai hubungan akrab, menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup di dunia.
Maka lahirlah filosofi "manunggaling kawula – Gusti", bersatunya abdi dengan rajanya,
bersatunya insan kamil dengan Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya,
sehingga kehidupan selalu aman damai, tentram, bahagia, sehat sejahtera. Selain saling
menghormati satu dengan yang lain masing-masing juga harus tahu diri untuk berkarya
sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar. Namun demikian, makna
yang dalam dari tosan aji sebagai karya seni budaya nasional yang mengandung pelbagai
aspek dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya,kini terancam
perkembangannya karena aspek teknologi sebagai sahabat budayanya kurang diminati
ketimbang aspek legenda dan magisnya.
Empu Dari Zaman Ke Zaman3
Dua arti dalam istilah empu, pertama dapat berarti sebutan kehormatan misalnya
Empu Sedah atau Empu Panuluh. Arti yang kedua adalah ‘Ahli’ dalam pembuatan
‘Keris’.
Dalam kesempatan ini, Empu yang kami bicarakan adalah seseorang yang ahli
dalam pembuatan keris. Dengan tercatatatnya berbagai nama ‘keris’ pastilah ada yang
membuat.
Pertama-tama yang harus diketahui adalah tahapan zaman terlahirnya ‘keris’ itu,
kemudian meneliti bahan keris, dan ciri khas sistem pembuatan keris. Ilmu untuk
kepentingan itu dinamakan ‘Tangguh’.
Dengan ilmu tangguh itu, kita dapat mengenali nama-nama para Empu dan hasil
karyanya yang berupa bilahan-bilahan keris, pedang, tombak, dan lain-lainnya.

Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:
1. Kuno (Budho) tahun 125 M – 1125 M
meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, medang Kamulan,
Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Penggiling Wiraradya, Kahuripan dan Kediri.
2. Madyo Kuno (Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M.
Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.
3. Sepuh Tengah (Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan
Blambangan.
4. Tengahan (Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram
5. Nom (Muda) tahun 1614 M. Sampai sekarang
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.
Telah kami ketengahkan tahapan-tahapan zaman Kerajaan yang mempunyai
hubungan langsung dengan tahapan zaman Perkerisan, dengan demikian pada setiap
zaman kerajaan itu terdapat beberapa orang Eyang yang bertugas untuk menciptakan
keris.
Keris-keris ciptaan Empu itu setiap zaman mempunyai ciri-ciri khas tersendiri.
Sehingga para Pendata benda pusaka itu tidak kebingungan.
Ciri khas terletak pada segi garap dan kwalitas besinya. Kwalitas besi merupakan
ciri khas yang paling menonjol, sesuai dengan tingkat sistem pengolahan besi pada zaman
itu, juga penggunaan bahan ‘Pamor’ yang mempunyai tahapan-tahapan pula. Bahan
pamor yang mula-mula dipergunakan batu ‘meteor atau batu bintang’ yang dihancurkan
dengan menumbuknya hingga seperti tepung kemudian kita mengenali titanium semacam
besi warnanya keputihan seperti perak, besi titanium dipergunakan pula sebagai bahan
pamor.
Titanium mempunyai sifat keras dan tidak dapat berkarat, sehingga baik sekali
untuk bahan pamor. Sesuai dengan asalnya di Prambanan maka pamor tersebut
dinamakan pamor Prambanan.
Keris dengan pamor Prambanan dapat dipastikan bahwa keris tersebut termasuk
bertangguh Nom. Karena diketemukannya bahan pamor Prambanan itu pada jaman
Kerajaan Mataram Kartasura (1680-1744). Bila kita telah mengetahui tangguhnya suatu
keris maka kita lanjutkan dengan menelusuri Empu-Empu penciptanya.
1. Zaman Tangguh Budho (Kuno) :
a. Zaman Kerajaan Purwacarita, Empunya adalah: Mpu Hyang Ramadi, Mpu
Iskadi, Mpu Sugati, Mpu Mayang, danMpu Sarpadewa.
b. Zaman Kerajaan Tulis, Empunya adalah: Mpu Sukmahadi.
c. Zaman Kerajaan Medang Kamulan, Empunya adalah: Mpu Bramakedali.
d. Zaman Kerajaan Giling Wesi, Empunya adalah: MpuSaptagati dan Mpu
Janggita.
e. Zaman Kerajaan Wirotho, Empunya adalah Mpu Dewayasa I.
f. Zaman Kerajaan Mamenang, Empunya adalah: Mpu Ramayadi.
g. Zaman Kerajaan Pengging Wiraradya, Empunya adalah Mpu
Gandawisesa, Mpu wareng dan Mpu Gandawijaya.
h. Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah: Mpu Widusarpa dan Mpu
Windudibya.
2. Tangguh Madya Kuno (Kuno Pertengahan)
a. Zaman Kerajaan Pajajaran Makukuhan, Empunya adalah: Mpu
Srikanekaputra, Mpu Welang, Mpu Cindeamoh, Mpu Handayasangkala,
Mpu Dewayani, Mpu Anjani, Mpu Marcu kunda, Mpu Gobang, Mpu
Kuwung, Mpu Bayuaji, Mpu Damar jati, Mpuni Sumbro, dan Mpu Anjani.
3. Tangguh Sepuh Tengahan (Tua Pertengahan)
a. Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah Mpu Sutapasana.
b. Zaman Kerajaan Kediri, Empunya adalah :
c. Zaman Kerajaan Majapahit, Empunya adalah:
d. Zaman Tuban/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Kuwung, Mpu
Salahito, Mpu Patuguluh, Mpu Demangan, Mpu Dewarasajati, dan Mpu
Bekeljati.
e. Zaman Madura/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Sriloka, Mpu
Kaloka, Mpu Kisa, Mpu Akasa, Mpu Lunglungan dan Mpu Kebolungan.
f. Zaman Blambangan/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu
Bromokendali, Mpu Luwuk, Mpu Kekep, dam Mpu Pitrang.
4. Tangguh Tengahan (Pertengahan)
a. Zaman Kerajaan Demak, Empunya adalah: Mpu Joko Supo.
b. Zaman Kerajaan Pajang, Empunya adalah Mpu Omyang, Mpu Loo Bang,
Mpu Loo Ning, Mpu Cantoka, dan Japan.
c. Zaman Kerajaan Mataram, Empunya adalah: Mpu Tundung, Mpu
Setrobanyu, Mpu Loo Ning, Mpu Tunggulmaya, Mpu Teposono, Mpu
Kithing, Mpu Warih Anom dan Mpu Madrim
5. Tangguh Nom (Muda)
a. Zaman Kerajaan Kartasura, Empunya adalah: Mpu Luyung I, Mpu Kasub,
Mpu Luyung II, Mpu Hastronoyo, Mpu Sendang Warih, Mpu Truwongso,
Mpu Luluguno, Mpu Brojoguno I, dan Mpu Brojoguno II.
b. Zaman Kerajaan/Kasunanan Surakarta, Empunya : Mpu Brojosentiko,
Mpu Mangunmalelo, Mpu R.Ng. Karyosukadgo, Mpu Brojokaryo, Mpu
Brojoguno III, Mpu Tirtodongso, Mpu Sutowongso, Mpu Japan I, Mpu
Japan II, Mpu Singosijoyo, Mpu Jopomontro, Mpu Joyosukadgo, Mpu
Montrowijoyo, Mpu Karyosukadgo I, Mpu Wirosukadgo, Mpu
Karyosukadgo II, dan Mpu Karyosukadgo III.
Keberadaan empu sudah tentu menyemarakkan dunia perkerisan selalu sarat
dengan karya-karya baru yang terus berkembang dari zaman ke zaman.
Dari keris-keris lurus hingga keris-keris yang ber luk. Ditambah dengan beraneka macam
ragam hias pada bilahannya. Semua menuju ke arah maju, tetapi tidak meninggalkan
pakem (standar).
Ragam hias itu berupa kepala hewan yang diletakkan pada gadik misalnya kepala
naga, anjing, singabarong, garuda, bahkan puthut. Dengan ditambahkannya bentukbentuk
itu, sekaligus nama keris itupun berubah, naga siluman, naga kembar, naga sosro,
naga temanten, manglar monga, naga tampar, singa barong, nogo kikik, puthut dan lainlainnya.
Bahkan zaman Kasultanan Mataram sejak masa Pemerintahan Sultan
Panembahan Senopati, dunia Perkerisan tampak makmur lagi, lesan mewah tampak pada
bilahan keris yang diserasah emas.
Sultan yang arif dan bijaksana itu membagi-bagikan keris sebagai tanda jasa
kepada mereka yang berjasa kepada pribadi Sultan maupun kepada Negara dan Bangsa.
Tentu saja ragam hiasannya satu dengan lain berbeda walaupun demikian tidak
meninggalkan motif aslinya.
Hiasan yang terasah emas itu terletak pada gonjo atau wadhidhang dengan bentuk
bunga anggrek atau lung-lungan dari emas. Atau sebantang lidi yang ditempelkan pada
gonjo atau dibawah gonjo terdapat Gajah dan Singa terbuat dari emas juga. Tentu saja
penciptanya adalah para pakar perkerisan yang kita kenal dengan sebutan Empu
Keris Diakui Dunia
Setelah wayang dua tahun silam, kini giliran keris Indonesia diakui sebagai salah
satu warisan budaya dunia yang mesti dilestarikan. Pengakuan UNESCO di Paris 25
November 2005 itu tentu merupakan percikan berita segar di tengah serba keterpurukan
Indonesia akhir-akhir ini.
Keris, seperti juga teater Kabuki dari Jepang, pentas tradisional India— Ramlila
yang mengetengahkan epik Ramayana—Samba dari Brasil, Mak Yong dari Melayu,
”Masih hidup dan dihayati, tradisi masih berlanjut. Berbeda dengan budaya samurai di
Jepang yang kini sudah mati,” ungkap Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu
Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) Koichiro
Matsuura, yang ditemui Kompas pekan lalu, beberapa saat setelah menyerahkan sertifikat
pengakuan UNESCO itu kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta.
Sebenarnya ada 64 warisan budaya yang diusulkan berbagai negara untuk diakui
sebagai warisan dunia oleh UNESCO tahun ini. Akan tetapi, setelah melalui penilaian
para juri yang bersidang pada 20-24 November 2005 dengan ketua Putri Basma binti
Talal dari Jordania, hanya 43 yang diakui sebagai warisan budaya oral serta nonbendawi
manusia (intangible cultural heritage of humanity).
Sementara mahakarya (masterpiece) yang diakui UNESCO tahun 2001 serta
tahun 2003, termasuk wayang, jumlahnya 47. Maka, total mahakarya warisan budaya
dunia yang diakui 90.
”Proklamasi yang ketiga kali ini kemungkinan adalah yang terakhir. Konvensi
akan segera dilaksanakan segera setelah 30 negara memiliki instrumen ratifikasi dan
disetujui, seperti yang sudah dilakukan 26 negara sebelumnya,” ungkap Matsuura.
Ratusan ribu dollar AS per tahun diperkirakan akan mengalir guna melestarikan keris
Indonesia dan juga wayang.
”Lewat momentum penghargaan UNESCO ini mestinya kita menata kembali
pandangan tentang keris,” ungkap Ir Haryono Haryoguritno, pakar keris yang memimpin
tim riset pustaka dan lapangan juga diskusi selama setahun sejak Agustus 2004.
Laporan keris
Setelah mendatangi komunitas perkerisan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura,
Bali, dan Lombok, Haryono yang dibantu Waluyo Wijayatno dari perkumpulan
penggemar keris Damartaji dan warga negara Indonesia asal Australia, Gaura
Mancacaritadipura, merangkumnya dalam sebuah laporan tebal untuk UNESCO. Juga
diserahkan film budaya perkerisan yang berdurasi 10 menit serta 120 menit.
Kalau selama ini banyak media cetak maupun elektronik lebih sering mengekspos
”pandangan-pandangan miring” yang dihubungkan dengan mistik buruk keris (dalam
sinetron-sinetron perdukunan), maka menurut Haryono, semestinya kini Indonesia juga
menyadari betapa dunia ternyata menghargai warisan budaya nenek moyang yang dalam
beberapa kesempatan sering disingkirkan oleh bangsa Indonesia sendiri.
”Keris, selama ini sering digambarkan di (sinetron-sinetron) televisi, bisa terbang,
atau bersinar-sinar, dan lekat dengan dunia dukun,” kata Waluyo.
Atau kalangan awam, yang selalu menghubungkan sosok keris dengan Empu
Gandring serta dongeng Ken Arok, yang membunuh empu pembikinnya tersebut dengan
keris yang dipesannya. Sang empu mengutuk, keris yang sebenarnya belum selesai
dibikin itu akan makan korban tujuh turunan, termasuk Ken Arok sendiri.
Keris selama ini dipandang dekat dengan dunia perdukunan, sementara negeri
tetangga, Singapura, malah sudah lebih dulu memakai identitas keris sebagai kebanggaan
mereka. Maskapai penerbangan negeri ini, Singapore Airlines, memakai Kris Lounge
sebagai ruang tunggu VIP bagi para penumpangnya di bandar udara. Atau KrisFlyer,
sebuah layanan bagi mereka yang sering menggunakan jasa maskapai tersebut.
KrisMagazine untuk majalah mereka, dan KrisShop untuk layanan jualan suvenir mereka
di pesawat.
Karya Agung
UNESCO memandang keris memiliki nilai luar biasa sebagai karya agung ciptaan
manusia. Selain berakar dalam tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, keris
juga masih berperan sebagai jati diri bangsa, sumber inspirasi budaya, dan masih
berperan sosial di masyarakat. Jika usulan wayang sampai empat kali dikembalikan
laporannya—sebelum diakui sebagai warisan dunia 2003—usulan keris langsung
diterima.
”Indonesia perlu bangga,” ungkap Matsuura, yang sempat mengoreksi cara
seorang pejabat Indonesia menarik sebilah keris dari warangkanya itu.
Meski orang Jepang, Matsuura lebih berminat terhadap produk budaya asal Indonesia ini.
Tidak sekadar tahu.
Ricikan Atau Anatomi Keris
Anatorni keris dikenal juga dengan istilah ricikan keris. Berikut ini akan diuraikan
anatorni keris satu persatu :
1. Ron Dha, yaitu ornamen pada huruf Jawa Dha.
2. Sraweyan, yaitu dataran yang merendah di belakang sogogwi, di atas ganja.
3. Bungkul, bentuknya seperti bawang, terletak di tengah-tengah dasar bilah dan di atas
ga~qa.
4. Pejetan, bentuknya seperti bekas pijatan ibu jari yang terletak di belakang gandik.
5. Lambe Gajah, bentuknya menyerupai bibir gajah. Ada yang rangkap dan Ietaknya
menempel pada gandik.
6. Gandik, berbentuk penebalan agak bulat yang memanjang dan terletak di atas sirah
cecak atau ujung ganja.
7. Kembang Kacang, menyerupai belalai gajah dan terletak di gandik bagian atas.
8. Jalen, menyerupai taji ayam jago yang menempel di gandik.
9. Greneng, yaitu ornamen berbentuk huruf Jawa Dha ( ) yang berderet.
10. Tikel Alis, terletak di atas pejetan dan bentuknya rnirip alis mata.
11. Janur, bentuk lingir di antara dua sogokan.
12. Sogokan depan, bentuk alur dan merupakan kepanjangan dari pejetan.
13. Sogokan belakang, bentuk alur yang terletak pada bagian belakang.
14. Pudhak sategal, yaitu sepasang bentuk menajam yang keluar dari bilah bagian kiri dan
kanan.
15. Poyuhan, bentuk yang menebal di ujung sogokan.
16. Landep, yaitu bagian yang tajam pada bilah keris.
17. Gusen, terletak di be!akang landep, bentuknya memanjang dari sor-soran sampai
pucuk.
18. Gula Milir, bentuk yang meninggi di antara gusen dan kruwingan.
19. Kruwingan, dataran yang terietak di kiri dan kanan adha-adha.
20. Adha-adha, penebalan pada pertengahan bilah dari bawah sampal ke atas.
Kekuatan Simbolik Keris Terletak pada "Pamor"4
Keris tidak dapat terpisahkan dengan peradaban Jawa. Dalam pandangan
masyarakat Jawa, keris atau curiga merupakan salah satu pusaka kelengkapan budaya.
Kekuatan simbolik keris dipercayai masyarakat Jawa terletak pada pamor, yaitu bahan
campuran pembuatan keris berupa besi meteor. Jenis bahan ini mengandung unsur besi
dan nikel.
"Pamor adalah benda berasal dari angkasa. Di antara besi pamor terkenal adalah
'pamor Prambanan'. Disebut demikian karena meteor ini jatuh di daerah Prambanan
sekitar tahun 1784 di masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwana III di Surakarta,"
demikian kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Timbul Haryono
MSc dalam pidato pengukuhannya di depan Rapat Senat Terbuka UGM, Sabtu (27/4).
Dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya dan Pascasarjana UGM itu
membawakan pidato berjudul "Logam dan Peradaban Manusia dalam Perspektif Historis-
Arkeologis".
Dikatakan Timbul, pamor tersebut sampai sekarang masih disimpan di Keraton
Surakarta dan diberi nama Kiai Pamor. Penelitian laboratoris terhadap meteor itu
menunjukkan kandungan unsurnya adalah 94,5 persen besi dan 5 persen nikel. Jenis batu
pamor lainnya adalah pamor Luwu yang asalnya dari Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Berdasarkan bahan pembuatan keris, proses pembuatan keris peradaban Jawa
secara simbolik identik dengan konsep persatuan "bapa akasa-ibu pertiwi". Bahan besi
diperoleh dari perut Bumi (Ibu Pertiwi) dan bahan pamor adalah meteor jatuh dari
angkasa (bapa akasa). Keduanya kemudian disatukan menjadi senjata keris
Makna Desain Keris
PULANG GENI5 merupakan salah satu dapur keris yang populer dan banyak
dikenal karena memiliki padan nama dengan pusaka Arjuna. Pulang Geni bermakna
Ratus atau Dupa atau juga Kemenyan. Bahwa manusia hidup harus berusaha memiliki
nama harum dengan berperilaku yang baik, suka tolong menolong dan mengisi hidupnya
dengan hal-hal atau aktifitas yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dengan
berkelakuan yang baik dan selalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang
banyak, tentu namanya akan selalu dikenang walaupun orang tersebut sudah meninggal.
Oleh karena itu, Keris dapur Pulang Geni umumnya banyak dimiliki oleh para pahlawan
atau pejuang.
KIDANG SOKA6 memiliki makna Kijang yang berduka. Bahwa hidup manusia
akan selalu ada Duka, tetapi manusia diingatkan agar tidak terlalu larut dalam duka yang
dialaminya. Kehidupan masih terus berjalan dan harus terus dilalui dengan semangat
hidup yang tinggi. Keris ini memang memiliki ciri garap sebagaimana keris tangguh
Majapahit. Tetapi melihat pada penerapan pamor serta besinya, tidak masuk
dikategorikan sebagai keris yang dibuat pada jaman Majapahit. Oleh karena itu, dalam
pengistilahan perkerisan dikatakan sebagai keris Putran atau Yasan yang diperkirakan
dibuat pada jaman Mataram. Kembang Kacang Pogog semacam ini umumnya disebut
Ngirung Buto.
SABUK INTEN7, merupakan salah satu dapur keris yang melambangkan
kemakmuran dan atau kemewahan. Dari aspek filosofi, dapur Sabuk Inten melambangkan
kemegahan dan kemewahan yang dimiliki oleh para pemilik modal, pengusaha atau
pedagang pada jaman dahulu. Keris Sabuk Inten ini menjadi terkenal, selain karena
legendanya, juga karena adanya cerita silat yang sangat populer berjudul Naga Sasra
Sabuk Inten karangan Sabuk Inten karangan S.H. Mintardja pada tahun 1970-an.
NAGA SASRA8 adalah salah satu nama Dapur Keris Luk 13 dengan Gandik
berbentuk kepala Naga yang badannya menjulur mengikuti sampai ke hampir pucuk
bilah. Salah satu Dapur Keris yang paling terkenal walaupun jarang sekali dijumpai
adanya keris Naga Sasra Tangguh tua. Umumnya keris dapur Naga Sasra dihiasi dengan
kinatah emas sehingga penampilannya terkesan indah dan lebih berwibawa.
Keris ini memiliki gaya seperti umumnya keris Mataram Senopaten yang bentuk
bilahnya ramping seperti keris Majapahit, tetapi besi dan penerapan pamor serta gaya
pada wadidhangnya menunjukkan ciri Mataram Senopaten. Sepertinya berasal dari era
Majapahit akhir atau bisa juga awal era Mataram Senopaten (akhir abad ke 15 sampai
awal abad ke 16). Keris ini dulunya memiliki kinatah Kamarogan yang karena perjalanan
waktu, akhirnya kinatah emas tersebut hilang terkelupas. Tetapi secara keseluruhan,
terutama bilah masih bisa dikatakan utuh. Keris Dapur Naga Sasra berarti Ular yang
jumlahnya seribu (beribu-ribu) dan juga dikenal sebagai keris dapur Sisik Sewu.
Dalam budaya Jawa, Naga diibaratkan sebagai Penjaga. Oleh karena itu banyak
kita temui pada pintu sebuah Candi ataupun hiasan lainnya yang dibuat pada jaman
dahulu. Selain Penjaga, Naga juga diibaratkan memiliki wibawa yang tinggi. Oleh karena
itu, Keris dengan dapur Naga Sasra memiliki nilai yang lebih tinggi daripada keris
lainnya.
SENGKELAT9, adalah salah satu keris dari jaman Mataram Sultan Agung (sekitar
awal abad ke 17). Dapur Keris ini adalah Sengkelat. Pamor keris sangat rapat, padat dan
halus. Ukuran lebar bilah lebih lebar dari keris Majapahit, tetapi lebih ramping daripada
keris Mataram era Sultan Agung pada umumnya. Panjang bilah 38 Cm, yang berarti lebih
panjang dari Keris Sengkelat Tangguh Mataram Sultan Agung umumnya. Bentuk Luk
nya lebih rengkol dan dalam dari pada keris era Sultan Agung pada umumnya. Gonjo
yang digunakan adalah Gonjo Wulung (tanpa pamor) dengan bentuk Sirah Cecak runcing
dan panjang dengan buntut urang yang nguceng mati.
Kembang Kacang Nggelung Wayang. Jalennya pendek dengan Lambe Gajah yang lebih
panjang dari Jalen. Sogokan tidak terlalu dalam dengan Janur yang tipis tetapi tegas
sampai ke pangkal bilah.
Wrangka keris ini menggunakan gaya Surakarta yang terbuat dari Kayu Cendana.
RAGA PASUNG10, atau Rangga Pasung memiliki makna sesuatu yang dijadikan
sebagai Upeti. Dalam hidup di dunia, sesungguhnya hidup dan diri manusia ini telah
diupetikan kepada Tuhan YME. Dalam arti bahwa hidup manusia ini sesungguhnya telah
diperuntukkan untuk beribadah, menyembah kepada Tuhan YME. Dan karena itu kita
manusia harus ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini sesungguhnya
semu dan kesemuanya adalah milik Tuhan YME.
BETHOK BROJOL11, adalah keris dari tangguh Tua juga. Keris semacam ini
umumnya ditemui pada tangguh Tua seperti Kediri/Singosari atau Majapahit. Dikatakan
Bethok Brojol karena bentuknya yang pendek dan sederhana tanpa ricikan kecuali Pijetan
sepeti keris dapur Brojol.
PUTHUT KEMBAR12, oleh banyak kalangan awam disebut sebagai Keris
Umphyang. Padahal sesungguhnya Umphyang adalah nama seorang mPu, bukan nama
dapur keris. Juga ada keris dapur Puthut Kembar yang pada bilahnya terdapat rajah dalam
aksara Jawa kuno yang tertulis “Umpyang Jimbe”. Ini juga merupakan keris buatan baru,
mengingat tidak ada sama sekali dalam sejarah perkerisan dimana sang mPu menuliskan
namanya pada bilah keris sebagai Label atau “trade mark” dirinya. Ini merupakan
kekeliruan yang bisa merusak pemahaman terhadap budaya perkerisan.
Puthut, dalam terminologi Jawa bermakna Cantrik, atau orang yang membantu
atau menjadi murid dari seorang Pandhita / mPu pada jaman dahulu. Bentuk Puthut ini
konon berasal dari legenda tentang cantrik atau santri yang diminta untuk menjaga
sebilah pusaka oleh sang Pandhita. Juga diminta untuk terus berdoa dan mendekatkan diri
kepada Sang Pencipta. Bentuk orang menggunakan Gelungan di atas kepala,
menunjukkan adat menyanggul rambut pada jaman dahulu. Bentuk wajah, walau samar
tetapi masih terlihat jelas guratannya. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dapur
Puthut mulanya dibuat oleh mPu Umpyang yang hidup pada era Pajang awal. Tetapi
inipun masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena tidak didukung oleh bukti-bukti
sejarah.
Pajang, dalam buku Negara Kertagama yang ditulis pada jaman Majapahit,
disebutkan adanya Pajang pada jaman tersebut. Oleh karena itu, sangat sulit untuk
mengidentifikasi, apakah keris dengan besi Majapahit tetapi juga ada ciri keris Pajang
bisa dikatakan tangguh Pajang – Majapahit, yang berarti keris buatan Pajang pada era
Majapahit akhir (?).
Keris Lurus SUMELANG13, dalam bahasa Jawa bermakna kekhawatiran atau
kecemasan terhadap sesuatu. Sedangkan Gandring memiliki arti setia atau kesetiaan yang
juga bermakna pengabdian. Dengan demikian, Sumelang Gandring memiliki makna
sebagai bentuk dari sebuah kecemasan atas ketidaksetiaan akibat adanya perubahan.
Ricikan keris ini antara lain : gandik polos, sogokan satu di bagian depan dan umumnya
dangkal dan sempit, serta sraweyan dan tingil. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa
keris dapur Sumelang Gandring termasuk keris dapur yang langka atau jarang ditemui
walau banyak dikenal di masyarakat perkerisan. (Ensiklopedia Keris : 445-446).
Konon salah satu pusaka kerajaan Majapahit ada yang bernama Kanjeng Kyai
Sumelang Gandring. Pusaka ini hilang dari Gedhong Pusaka Keraton. Lalu Raja
menugaskan mPu Supo Mandangi untuk mencari kembali pusaka yang hilang tersebut.
Dari sinilah berawal tutur mengenai nama mPu Pitrang yang tidak lain juga adalah mPu
Supo Mandrangi. (baca : Ensiklopedia Keris : 343-345).
TILAM UPIH14, dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari
anyaman daun untuk tidur. Diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau
rumah tangga. Oleh karena itu banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara
turun-temurun dalam dapur tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para
sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memperoleh ketenteraman dan
kesejahteraan dalam hidup berumah tangga.
Sedangkan Pamor ini dinamakan UDAN MAS TIBAN15. Ini karena terlihat dari
penerapan pamor yang seperti tidak direncanakan sebelumnya oleh si mPu. Berbeda
dengan kebanyakan Udan Mas Rekan yang bulatannya sangat rapi dan teratur, Udan Mas
Tiban ini bulatannya kurang begitu teratur tetapi masih tersusun dalam pola 2-1-2. Pada
tahun 1930-an, yang dimaksud dengan pamor Udan Mas adalah Pamor Udan Mas Tiban
yang pembuatannya tidak direncanakan oleh sang mPu (bukan pamor rekan). Ini
dikarenakan pamor Udan Mas yang rekan dicurigai sebagai pamor buatan (rekan). Tetapi
toh juga banyak keris pamor udan mas rekan yang juga merupakan pembawaan dari
jaman dahulu.
Oleh banyak kalangan, keris dengan Pamor Udan Mas dianggap memiliki tuah
untuk memudahkan pemiliknya mendapatkan rejeki. Dengan rejeki yang cukup,
diharapkan seseorang bisa membina rumah tangga dan keluarga lebih baik dan sejahtera.
Lar GangSir konon merupakan kepanjangan dari GeLAR AgeMan SIRo yang
memiliki makna bahwa Gelar atau jabatan dan pangkat di dunia ini hanyalah sebuah
ageman atau pakaian. Suatu saat tentu akan ditanggalkan. Karena itu jika kita memiliki
jabatan/pangkat atau kekayaan, maka janganlah kita SOMBONG dan TAKABUR (Jawa
= Ojo Dumeh).
Jangan mentang-mentang memiliki kekuasaan, pangkat dan jabatan atau kekayaan,
maka kita bisa seenaknya sendiri sesuai keinginan kita tanpa memikirkan kepentingan
orang lain.
Kesimpulan
Dalam dunia keris terdapat tiga kelompok pandangan yang berbeda. Pandangan
pertama yang berkembang bahwa :
1. Keris adalah hasil kebudayaan, kagunan, atau kesenian.
2. Kemudian pandangan kedua yang telah sejak lama berkembang di kalangan
masyrakat (Jawa), secara umum lebih meyakini bahwa keris merupakan senjata
pusaka dikarenakan daya gaib atau tuah yang dimilikinya.
3. Sedangkan menurut pandangan ketiga yang berkembang di kalangan yang sangat
terbatas, keris merupakan pusaka dengan berbagai variasi pemaknaannya dan
dinyatakan dengan istilah-istilah yang hanya dikenali oleh kalangan tersebut.
Terutama makna-makna sosial, historis, filosofis, etis dan religius-mistis.
Dari ketiga pandangan diatas dapat kita ketahui bahwa keris merupakan karya agung
yang harus dilestarikan. Karena jika dilihat dari kacamata desain, sebuah keris memiliki
berbagai keunikan yang sangat spesifik. Terbukti dengan penamaan setiap lekuk yang
begitu detail disetiap bagiannya.
Jika ditilik dari makna yang terkandung pada sebilah keris, disitu tercermin kearifan
lokal terutama masyarakat jawa yang menjadikan keris sebagai simbol kekuatan
sekaligus mewakili karakter yang memilikinya. Desain keris mempunyai kekuatan
tersendiri dalam membentuk kearifan lokal yang selanjutnya bisa menjadi indikator
kebudayaan di suatu tempat.
DAFTAR PUSTAKA
Efendi, Anwar. Dalam Jurnal Ibda 2006. Kesempurnaan Hidup Masyarakat Jawa,
Purwokerto, P3M STAIN Purwokerto
Jakob Sumardjo. Filsafat Seni. 2000. Penerbit ITB.
http://www.nikhef.nl/~tonvr/keris/keris2/keris01.html
Purwadi, 2004, Nyi Roro Kidul dan Legitimasi Politik Jawa, Yogyakarta, Media Abadi
Sukatno Otto. 2004. Dieng Poros Dunia. Yogyakarta. IRCiSoD.
Supadjar, Damardjati. 2001. Mawas Diri. Yogyakarta. Philosophy Press
1 Estetika Dalam Perjalanan Sejarah : Arti dan Peranannya dalam Desain, WIDAGDO dalam Jurnal Desain FSRD ITB.
2 Ibid.
3 http://www.jawapalace.org/empu.html
4 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0204/29/jateng/keku26.htm
5 http://keris.fotopic.net/c1071245.html
6 http://keris.fotopic.net/c936283.html
7 http://keris.fotopic.net/c930617.html
8 http://keris.fotopic.net/c919798.html
9 http://keris.fotopic.net/c919785.html
10 http://keris.fotopic.net/c1064137.html
11 http://keris.fotopic.net/c1064158.html
12 http://keris.fotopic.net/c913592.html
13 http://keris.fotopic.net/c930625.html
14 http://keris.fotopic.net/c913548.html
15 http://keris.fotopic.net/c1064171.html
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "MAKNA DESAIN KERIS DALAM BUDAYA JAWA"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top