Javanese beliefs (Kebatinan or Kejawen) have principles embodying a "search for inner self" but at the core is the concept of Peace Of Mind. Although Kejawen is a religious category(Agama), it addresses ethical and spiritual values as inspired by Javanese tradition. That can as religion in usual sense of the world, like Christianity, Judaism, Budha or Islam. Kejawen adalah Agama Jawa yang di Ajarkan dalam Budaya Jawa yang di sebut Kejawen. Kawruh kejawen. Ilmu Kejawen, Agama Kejawen

RITUAL 1 SURO: Mencari Ketentraman Batin dan Keselamatan

Malam 1 Suro bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan malam istimewa. Istimewa, karena malam itu diyakini saat terbaik untuk mensyukuri hidup dan mawas diri.

Tanggal 1 Suro tahun ini, yang bertepatan dengan 1 Muharam 1428 Hijriah, seperti tahun-tahun sebelumnya disambut warga Yogyakarta dengan beragam ritual.

Di antara kegiatan ritual yang dilakukan warga masyarakat adalah laku diam, yaitu laku dengan berdiam diri, merenung. Seperti ajakan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyambut 1 Suro seyogianya dijalani dengan laku diam.

Menurut Sultan, hanya dengan berdiam manusia mampu mendengarkan batin dan suara hati nurani. Seperti, mengapa bencana terus menerpa Yogyakarta dan Indonesia.

Dengan laku spiritual, diharapkan masyarakat Yogyakarta mampu bangkit mengatasi situasi lahir yang penuh dengan deraan derita.

Satu Suro memang dikonstruksi sebagai awal bulan penuh misteri atau wingit, karena memiliki energi yang berbeda dibanding bulan-bulan lain. Oleh karena itu, 1 Suro selalu diperingati dengan berbagai macam laku spiritual untuk menangkal datangnya marabahaya.

Menurut Sultan, jika orang Tionghoa memperingati Imlek dengan harapan mendapatkan rezeki melimpah, orang Jawa lebih mementingkan ketentraman batin dan keselamatan.

Ketika memperingati Malam 1 Suro, menurut dia, seharusnya juga mengingat kembali jasa Sultan Agung yang telah memadukan kalender Saka dari India dan kalender Hijriah dari Arab dengan menciptakan almanak Jawa.

Gubernur DIY juga menyebutkan, sebuah laku budaya tradisi merupakan manifestasi turun-temurun yang diberikan para leluhur untuk memahami situasi, karena pola pikir sudah tidak lagi menjangkau untuk mampu memuatnya.

Menurut dia, semua diarahkan pada sebuah upaya meminta kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar terbebas dari cobaan yang mendera masyarakat Yogyakarta dan Indonesia akhir-akhir ini.

Laku pada Malam 1 Suro bisa disebut lampah ratri ambirat wengi, yang mengandung makna "mengatasi kegelapan mengusir kekelaman" , agar mampu menangkap hidayah Tuhan bahwa sehabis gelap akan terbitlah terang.

"Topo Bisu"

Beragam ritual yang dilakukan warga Yogyakarta menyambut 1 Suro di antaranya kirab Pathok Nagoro, tirakatan, mandi di tujuh sungai, dan "topo bisu" (diam, tidak berbicara) sambil berjalan mengelilingi benteng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kirab Pathok Nagoro dilakukan Paguyuban Tri Tunggal Yogyakarta dengan melewati jalan-jalan protokol di kota ini. Kirab tersebut bahkan memacetkan lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan yang dilalui.

Sementara itu, sebagian warga masyarakat menyambut 1 Suro dengan melakukan tirakatan di kampung masing-masing. Seperti warga RT 03 RW 01 Dusun Sorogenen I, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, mengadakan tirakatan di dalam tenda. Pada acara tersebut warga berdoa bersama untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sedangkan mandi di tujuh sungai, dilakukan warga pada Jumat itu juga. Seperti Parjono (38), warga Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, melakukan ritual tersebut.

"Ini hanya melestarikan tradisi dari leluhur, yaitu mandi di tujuh sungai. Saya sudah mandi di Sungai Opak di Prambanan, Sungai Wareng di Kalasan, dan Sungai Kalikuning di Sleman. Rencananya saya juga akan mandi di Sungai Tambak Bayan, Sungai Gajah Wong, Sungai Code, dan Sungai Winongo," katanya.

Menurut dia, ritual itu dilakukan sebagai laku prihatin untuk memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta diberi kelancaran dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara itu, ritual atau laku budaya "topo bisu" (diam atau tidak berbicara) mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta menyambut 1 Suro, berlangsung Jumat tengah malam hingga Sabtu dini hari, diikuti ribuan warga.

Kegiatan tersebut dilepas GBPH Joyokusumo, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keben Kraton Yogyakarta, setelah selesai doa dan kidung sinom yang dibawakan abdi dalem kraton setempat.

GBPH Joyokusumo yang mengenakan busana Jawa khas Kraton Yogyakarta dalam sambutannya dalam bahasa Jawa mengajak warga untuk selalu mempertebal iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta menambah semangat guna mengemban tugas bagi kemajuan bangsa dan negara.

Menurut dia, cobaan dalam hidup hendaknya dijadikan semangat untuk menambah ketebalan iman, dan laku budoyo ini tidak meninggalkan ajaran agama.

"Marilah kita pusatkan hati dan pikiran untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kita diberi kebaikan, kesejahteraan, kemudahan hidup, murah sandang pangan, serta dijauhkan dari segala musibah dan bencana yang tidak dapat diatasi manusia," katanya.

Laku budaya topo bisu yang menempuh perjalanan sekitar empat kilometer tersebut diawali oleh barisan abdi dalem Keprajan dan abdi dalem Punakawan yang berada di paling depan dengan membawa bendera merah putih serta bendera Kraton Yogyakarta.

Para abdi dalem kraton yang ikut kegiatan itu berpakaian adat kraton, sedangkan warga masyarakat pakaiannya bebas.

Sepanjang rute atau jalan yang dilewati ritual budaya itu dijaga sejumlah personil Polri. Topo bisu ini berakhir di Alun-alun Utara atau depan Pagelaran Kraton Yogyakarta.
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "RITUAL 1 SURO: Mencari Ketentraman Batin dan Keselamatan"

 
Template By AgamaKejawen
Back To Top