Selasa, 03 Agustus 2010

PERKEMBANGAN KOMUNITAS SAPTA DARMA DI KECAMATAN JUWANA TAHUN 1958-2005

PERKEMBANGAN KOMUNITAS SAPTA DARMA DI KECAMATAN JUWANA TAHUN 1958-2005
Authored By: Puji Lestari
Paper Title: PERKEMBANGAN KOMUNITAS SAPTA DARMA DI KECAMATAN JUWANA TAHUN 1958-2005


PERKEMBANGAN KOMUNITAS SAPTA DARMA
DI KECAMATAN JUWANA TAHUN 1958-2005


SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar sarjana sosial
Pada Universitas Negeri Semarang


Oleh :
Nama : Puji Lestari
NIM :
3150402004
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
2007



PENGESAHAN KELULUSAN

Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang
Pada hari
: Selasa
Tanggal
: 3 April 2007



Penguji Skripsi





Drs. Karyono. M.Hum
NIP.130815341




Anggota I
Anggota II




Prof.Dr. Wasino.M.Hum Dra. RR.Sri Wahyu S. M.Hum
NIP. 131813678



NIP. 132010313



Mengetahui




Dekan
Drs. Sunardi, MM
NIP. 130367998




ii



PERNYATAAN


Penulis menyatakan bahwa penulisan skripsi ini adalah hasil karya penulis
sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.
Pendapat atau karya orang lain yang terdapat dalam skripsi ini di kutip
atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.





Penulis

Puji lestari








iii



MOTO DAN PERSEMBAHAN
Motto :

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S Alam
Nasyirah: 6 )
”Jadikan sebuah masalah menjadi lebih sederhana tapi jangan pernah
menyerderhanakan masalah ”( Penulis )
”Hidup manusia hanya dengan ilmu dan Tagwa tanpa keduanya, adanya
seperti tidak ada” ( Imam Asy- Syafi’i )

Tanpa mengurangi rasa syukur kepada Allah SWT Karya sederhana
ini aku persembahkan untuk :
1. Bapak dan Ibu tercinta, Soesilo Dharma dan Sarimah sebagai wujud
pertanggungjawabanku akan kerja keras dan doa kalian untukku.
2. Mas Umam, Mbak ayu dan De Oase, maaf hanya ini hasil dari
semangat, cinta dan motivasi kalian
3. Almamaterku





iv



ABSTRAK


Puji Lestari. 2002. Perkembangan Komunitas Sapta Darma di Kecamatan
Juwana Tahun 1958- 2005. Prodi Ilmu Sejarah. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu
Sosial. Universitas Negeri Semarang. 117 halaman

Kata kunci: Kebatinan, Komunitas, Sapta Darma
Kebatinan merupakan suatu sistem kepercayaan yang dianut oleh sebagian
masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Ajaran kebatinan biasa disebut Kejawen.
Gerakan kebatinan tampil kepermukaan sebagai bagian dari gerakan revolusi
Indonesia dibidang moral spiritual. Salah satu gerakan kebatinan yang muncul
adalah kerohanian Sapta Darma dimana inti ajaranya adalah mendekatkan diri
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Munculnya gerakan kebatinan adalah salah satu
bentuk upaya kritik terhadap berbagai arus kebudayaan baru yang masuk dan
tidak bisa diterima oleh sebagian masyarakat sehingga mereka kembali pada
kebudayaan asli Jawa. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1)
Bagaimana sejarah awal munculnya organisasi Sapta Darma? (2) Bagaimana
perkembangan komunitas penghayat Sapta Darma di Kecamatan Juwana 1958-
2005? (3) Bagaimana pengaruh komunitas Sapta Darma terhadap masyarakat
kecamatan Juwana?. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui sejarah awal
munculnya organisasi Sapta Darma (2) untuk mengetahui perkembangan
komunitas penghayat Sapta Darma di kecamatan Juwana 1958-2005. Manfaat
penelitian ada dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Langkah- langkah dalam
metode sejarah adalah (1) heuristik yaitu tahap pengumpulan data (2) Kritik
sumber yaitu penilaian terhadap data sejarah (3) Interpretasi adalah tahap
penyatuan dari fakta dan data sejarah yang diperoleh (4) Historiografi adalah
penyajian sebuah cerita sejarah.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pertama, sejarah awal munculnya
organisasi Sapta Darma diawali dengan tumbuhnya kebudayaan spritual sejak
jaman prasejarah yaitu adanya kebudayaan animisme dan dinamisme. memasuki
jaman sejarah kebudayaan animisme dan dinamisme digantikan dengan
kebudayaan baru yaitu Hindu- Budha, Islam,dan Kolonial. Arus kebudayaan baru
yang masuk sangat cepat diiringi dengan adanya kelelahan dalam revolusi
kemerdekaan dan krisis ekonomi yang berkepanjangan maka banyak kelompok
masyarakat yang ingin kembali pada budaya asli. salah satu bentuk budaya asli
adalah gerakan kebatinan dan salah satunya adalah munculnya kerohanian Sapta
Darma. Kedua Kerohanian Sapta Darma. Mulai dari pertama kali disebar luaskan
oleh Hardosaputro dari Pare Kediri hingga sampai di kecamatan Juwana
berkembang menjadi sebuah komunitas dan didukung oleh manejemen organisasi
yang semakin baik. Ketiga Komunitas Sapta Darma yang terdiri dari para warga
penghayat dalam interaksinya dengan masyarakat mempunyai pengaruh dalam
budaya masyarakat dan kehidupan sosial. Fungsi ajaran ini adalah sebagai
pegangan hidup warganya dan sebagai wujud eksistensi budaya nasional.
v




Saran yang dapat diberikan adalah agar warga Sapta Darma di Kecamatan
Juwana meningkatkan manejemen organisasinya dan bagi Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan agar lebih memerhatikan komunitas kebudayaan spiritual agar tidak
hilang dan menyimpang menuju praktik klenik.





















vi



KATA PENGANTAR

Puji syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatNya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ” Perkembangan
Komunitas Sapta Darma di Kecamatan Juwana Tahun 1958-2005”. Skripsi ini
disusun untuk memperoleh gelar Sarjana sosial pada Universitas Negeri
Semarang.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan, dan dukungan
dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini dengan rasa hormat
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Soedjiono Sastroadmodjo M.Si, Rektor Universitas Negeri
Semarang yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan kepada penulis
dalam melakukan studi di Universitas Negeri Semarang.
2. Drs. Sunardi M.M, Dekan Fakultas Ilmu sosial yang telah memberikan
fasilitas dan kemudahan dalam pembuatan ijin penelitian.
3. Drs. Jayusman M.Hum, Ketua Jurusan Sejarah atas segala masukan dan
kemudahan hingga skripsi ini dapat selesai.
4. Prof. Dr. Wasino M.Hum, Dosen pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan, masukan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini
5. Dra. RR. Sri Wahyu Sarjanawati M.Hum, pembimbing II terima kasih atas
bimbingan, masukan, saran dan motivasinya hingga skripsi ini dapat
selesai.
6. Bapak Sardi SE.SIP, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan
Juwana atas izin yang di berikan untuk melaksanakan penelitian.
vii



7. Seluruh Narasumber yang telah membantu dalam pengumpulan data dan
informasi sampai selesainya skripsi ini.
8. Bapak dan Ibu yang tak pernah sepi dan berhenti dalam doa.
9. Mas Umam, Mbak Ayu dan De Oase atas inspirasi, semangat, cinta, dan
doa yang diberikan
10. Teman- teman Ilmu Sejarah 02, komunitas ”ada deh kos”, dan seluruh
pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini
Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis menerima kritik dan
saran untuk penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi. Akhir kata semoga
tulisan ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa sejarah pada khususnya dan pembaca
pada umumnya.


Semarang, Febuari 2006


Penulis







viii



DAFTAR ISI

Halaman

Judul .............................................................................................................. i
Pengesahan.................................................................................................... ii
Pernyataan ..................................................................................................... iii
Motto Persembahan.......................................................................................
v
Abstrak .......................................................................................................... vi
Kata Pengantar .............................................................................................. viii
Daftar isi........................................................................................................
x
Daftar Tabel ..................................................................................................
xii
Daftar Lampiran ............................................................................................ xiii
Daftar Gambar............................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................
1
B. Perumusan Masalah .......................................................................
7
C. Tujuan Penelitian ...........................................................................
8
D. Manfaat Penelitian ........................................................................
8
E. Tinjauan Pustaka............................................................................
9
F. Ruang Lingkup Penelitian..............................................................
13
G. Metode Penelitian ..........................................................................
13
H. Sistematika Penulisan ....................................................................
19

ix



BAB II KONDISI MASYARAKAT KECAMATAN JUWANA
A. Letak Geografis Kecamatan Juwana...............................................
20
B. Demografi .......................................................................................
22
C. Kehidupan Sosial Budaya...............................................................
29
BAB III AJARAN KEROHANIAN SAPTA DARMA
A. Latar Belakang Kebudayaan Spiritual di Jawa...............................
33
B. Perkembangan Kebatinan di Jawa.................................................. 36
C. Ajaran Kerohanian Sapta Darma....................................................
43
BAB IV PERKEMBANGAN SAPTA DARMA
DI KECAMATAN JUWANA 1958- 2005
A. Masuk dan Berkembangnya Kerohanian Sapta Darma .................
67
B. Faktor Pendorong Perkembangan Kerohanian Sapta Darma ........
80
C. Komunitas Sapta Darma Peran dan Pengaruhnya terhadap
Masyarakat Kecamatan Juwana.....................................................
83
D. Fungsi Ajaran Kerohanian Sapta Darma ........................................
89
BAB V PENUTUP
A. Simpulan ......................................................................................... 94
B. Saran ...............................................................................................
95
Daftar Pustaka ...............................................................................................
96
Lampiran – lampiran .....................................................................................
99



x



DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel
1. Komposisi penduduk wilayah Kecamatan Juwana................................... 22
2. Tingkat pendidikan penduduk kecamatan Juwana....................................
24
3. Mata pencaharian penduduk kecamatan Juwana ......................................
27
4. Agama penduduk kecamatan Juwana .......................................................
30
5. Sarana ibadah penduduk kecamatan Juwana ............................................
31
















xii



DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran






Halaman

1. Surat ijin penelitian
Kepada Kepala Cabang Dinas pendidikan Kec Juwana ........... 100
2. Surat Ijin Penelitian

Kepada Ketua Kerohanian Sapta Darma................................... 101
3. Peta Kecamatan Juwana............................................................................ 102
4. Data Informan ........................................................................................... 103
5. Rambu- rambu pertanyaan ........................................................................ 105
6. Data monografi Kecamatan Juwana.......................................................... 106
7. Surat keputusan Organisasi Kerohanian Sapta Darma.............................. 111
8. Dokumentasi penelitian............................................................................. 114











xi



DAFTAR GAMBAR


Halaman
Gambar
1 Peta kecamatan Juwana.............................................................................. 21
2. Simbol Sapta Darma ................................................................................. 52
3. Simpul tali manusia................................................................................... 61
4. Gerakan Sujud........................................................................................... 63
5. Gerakan Sujud........................................................................................... 63
6. Suasana musyawarah pembangunan Sanggar........................................... 71
7. Pembangunan Sanggar.............................................................................. 72
8. Sanggar dalam tahap selesai...................................................................... 73
9. Sanggar Candi Busana Kecamatan Juwana 2005 ..................................... 73
10. Patung Semar diatap Sanggar.................................................................. 85



















xiii



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Jawa adalah salah satu kelompok etnik terbesar di Indonesia. Etnik ini
berjumlah kurang lebih empat puluh persen dari jumlah penduduk Indonesia pada
tahun 1971 (Koentjaraningrat, 1994:4). Sedangkan Menurut data BPS tahun 2004
penduduk Jawa berjumlah enam puluh dua persen dari penduduk Indonesia.
Dimana penduduk Indonesia sendiri memiliki beraneka ragam kelompok etnik.
Kebudayaan Jawa sangat beragam dan memiliki corak yang berbeda-beda dalam
setiap daerahnya (Koentjaraningrat, 1994:24)
Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan Jawa membagi
keanekaragaman regional dari kebudayaan Jawa. Menjadi: (1) kebudayaan
Banyumas yang meliputi bagian barat daerah kebudayaan Jawa, (2) kebudayaan
Jawa yang hidup di kota-kota Yogyakarta dan Solo merupakan peradaban orang
Jawa yang berasal dari kraton, (3) kebudayaan Jawa yang hidup di Surabaya
sebagai kebudayaan pesisir yang di tandai dengan gerakan reformis Islam Jawa
yang terjadi selama abad yang lalu, (4) kebudayaan Jawa yang di daerah meliputi
Madiun, Kediri, dan delta Sungai Brantas. Dalam kebudayaan ini gerakan religio
magis banyak berkembang (Koentjaraningrat, 1994:28).
Kebudayaan sendiri menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat
yang dijadikan milik manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 2000:179).
Adapun unsur-unsur budaya meliputi sistem pengetahuan, bahasa, organisasi
sosial, sistem peralatan hidup dan tekhnologi, sistem mata pencaharian hidup,
kesenian dan religi (Koentjaraningrat, 2000:203)

1

Sebagai bagian dari kebudayaan sistem religi terbentuk karena adanya
emosi keagamaan yang pernah dialami oleh setiap manusia. Walaupun getaran
emosi itu hanya berlangsung beberapa detik saja, yang kemudian menghilang lagi.
Sedangkan kepercayaan atau keyakinan merupakan unsur dari religi. Untuk lebih
jelasnya Koentjaraningrat menjelaskan sebagai berikut:
Religi sebagai suatu sistem merupakan bagian dari kebudayaan tetapi
cahaya Tuhan yang menjiwai dan membuatnya keramat tentunya
bukan bagian dari kebudayaan, istilah agama adalah untuk menyebut
agama resmi yang di akui oleh pemerintah dan istilah kepercayaan
untuk sistem di luar kategori (Koentjaraningrat, 2000:149).

Pada kebudayaan Jawa, sistem keagamaan sejak dahulu mempunyai
variasi kultural. Menurut Mulder sejak dulu mereka dibagi menjadi dua mereka
yang sholat yaitu, orang yang melakukannya disebut putihan dan mereka yang
tidak sholat mereka disebut abangan atau rakyat kebanyakan yang tidak religius
atau mereka yang tidak melaksanakan peradaban Islam (Mulder, 2003:1). Geertz
telah melakukan pengamatan di Mojokuto. Geertz membagi masyarakat Jawa
menjadi tiga yaitu abangan, santri dan priyayi. Abangan mewakili sikap memiliki
segi-segi sinkretisme Jawa yang menyeluruh dan secara luas berhubungan dengan
unsur-unsur petani. Santri mewakili sikap menitikberatkan pada segi-segi Islam,
pada umumnya berhubungan dengan unsur pedagang (maupun juga Petani) dan
priyayi yang sikapnya menitikberatkan pada segi-segi Hindu dan berhubungan
dengan unsur-unsur birokrasi (Geertz, 1989:X). Dari pembagian di atas maka kita
dapat melihat bahwa di Jawa terdapat kelompok-kelompok religius yang berbeda.
Kelompok santri atau putihan menjalankan doktrin agama Islam, dan kelompok
abangan bergelut pada kepercayaan ajaran kejawen.



Perbedaan-perbedaan dalam menilai praktik agama itu sudah menjadi
bagian kehidupan di Jawa sejak munculnya Islam. Pada awalnya kehidupan
beragama terimbas oleh pemikiran animistis, dimana pemikiran ini telah ada
sebelum praktik Hindu-Budha masuk di Indonesia yaitu diawali pada masa
prasejarah.
Konsepsi kepercayaan masyarakat bercorak tanam memiliki ciri khas
yang sesuai dengan perkembangan penemuan barunya. Tumbuhlah
anggapan bahwa tanah tempat mereka bercocok tanam merupakan
salah satu unsur penting sehingga gagasan mengenai suatu
kepercayaan tentang roh orang meninggal pasti mempunyai kehidupan
dialamnya tersendiri dan roh itu sangat mempengaruhi kehidupan
manusia (marwati Djonet, 1993:204).

Setelah pemikiran animistis tersebut, doktrin Hindu-Budha masuk ke
Indonesia, gabungan keduanya membentuk mistisisme, penganggungan jiwa-jiwa
sakti. Pemujaan arwah dan penyembahan tempat-tempat keramat walaupun
demikian semua itu tidak bertentangan secara mencolok dengan watak mistis dan
corak berpadu dan membentuk peradapan baru yang disebut kejawen,
(Mulder, 2003 :2).
Dari peradaban kejawen inilah muncul yang dinamakan kebatinan
kejawen, karena pada jaman dahulu orang-orang “agami jawi” merasa bahwa
kehidupan beragama berpusat kepada serangkaian upacara selametan, memberi
sajian pada waktu dan tempat tertentu serta berjiarah ke makam-makam dan hal
tersebut di atas dalam perkembangan selanjutnya dianggap tidak berarti dan
dangkal. Oleh karena itu mereka mencari penghayatan mengenai inti hidup dan
kehidupan manusia. Sehingga muncullah berbagai gerakan yang dinamakan



gerakan kebatinan kejawen yang menemukan suatu kehidupan spiritual yang lebih
berarti.
Kebangkitan gerakan kebatinan ini, oleh Mulder dilihat sebagai akibat
dari tumbuhnya kesadaran akan kebudayaan kejawen atau keinginan dari
mayarakat Jawa untuk kembali pada budaya asli, dikarenakan mereka belum siap
dengan arus perubahan kebudayaan yang berlangsung sangat cepat, yaitu budaya
Hindu-Budha, budaya Islam dan budaya Kolonial Sedangkan menurut
Koentjaraningrat kebudayaan gerakan kebatinan dikarenakan adanya arus
perubahan sosial budaya yang terjadi selama jangka waktu peralihan penderitaan
luar biasa. Kemiskinan dan keresahan yang diderita oleh penduduk selama perang
pasifik, selama perang Jepang dan selama dasawarsa pertama setelah
kemerdekaan menjadi semakin banyak timbul berbagai gerakan kebatinan di
Jawa, (Koentjaraningrat, 1994:402). Gerakan kebatinan dibagi menjadi (1)
gerakan kebatinan yang berpokok pada mistik, (2) yang berpokok pada teosofi,
(3) gerakan –gerakan moraostik dan etik yang berpokok pada pemurnian jawa, (4)
gerakan-gerakan pada praktek-praktek ilmu gaib dan ilmu dukun, dan yang (5)
ditambahkan oleh Koentjaraningrat yaitu gerakan-gerakan ratu adil.
Gerakan kebatinan di Jawa berkembang dengan pesat, kemajuan itu
ditandai dengan diadakanya konggres pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di
Semarang. Banyak kelompok gerakan kebatinan yang ada di berbagai daerah di
Jawa hadir pada waktu itu dengan tujuan mempersatukan semua organisasi yang
ada di Jawa. Kongres berikutnya dilaksanakan pada tanggal 7 agustus tahun 1956
di Surakarta sebagai lanjutannya, dihadiri oleh lebih dari 2000 peserta yang



mewakili 100 organisasi. Pertemuan itu berhasil mendirikan suatu Organisasi
Kebatinan Indonesia (BKKI) yang kemudian juga menyelenggarakan dua kongres
seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962,
(Kontjoroningrat 1994 :366). Dalam kongres kedua ini dinyatakan bahwa
mistisisme kebatinan bukan agama baru melainkan untuk meningkatkan kualitas
kehidupan beragama pada umumnya. Kongres kedua ini dihadiri oleh dua ribu
perwakilan, dua juta orang di seluruh Indonesia, (Mulder 2003:1).

Sebelum diadakan kongres kebatinan tersebut pada tahun 1952 kementrian
agama yang didominasi orang Islam mengajukan definisi sempit tentang agama.
Agar memperoleh suatu agama harus mempunyai nabi dan kitap suci, selain itu
juga harus di akui pada tingkat internasional. Definisi tersebut jelas menutup
peluang mistisisme untuk menjadi agama sah, karena bagi kalangan penganut
kebatinan Tuhan itu ada satu hati bukan lewat perantara maupun kitap suci
(Mulder 2003:100).
Tahun 1954 kementrian mendirikan PAKEM (Pengawas Aliran
Kepercayaan Masyarakat). Sebagai upaya menghindari bahaya dari Praktik
“klenik” (ilmu hitam) sebagai ekspresi mistisisme. Selain itu PAKEM juga
membina agar gerakan kebatinan ini tidak terjerumus dalam organisasi komunis.
PAKEM berada di bawah naungan Departemen Agama. Pada perkembangan
selanjutnya pembinaan terhadap aliran kepercayaan dibawah naungan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Gagasan tentang pengawas semacam PAKEM sama
sekali bukan barang baru, pemerintah kolonial sebelumnya juga mengawasi
gerakan- garakan kebatinan yang muncul pada waktu itu. Seperti terlihat dalam



teks laporan Residen Yogyakarta ( P.W. Jongguere ) Kepada Gubenur Jendral
(A.C.D. De Graft). 2 Maret sebagai berikut
Perkumpulan Hardosapuro. Perkumpulan ini juga terdapat di beberapa
tempat di Jawa. Pemimpin pusatnya bernama Raden Soemontjitro,
bertempat tinggal di desa kemanukan, Afdeling Purwakarta menurut
berita terakhir Ia sekarang bertempat tinggal di Kampung Gunung
Sahari, Waltreveldren. Di Yogyakarta pimpinan dipegang oleh
pangeran Notoprojo putra Sultan H.B. VII, yang sejak 10 tahun diusir
dari Istana karena kelakuanya yang tidak baik. Perkumpulan
Kebatinan ini bertujuan membebaskan diri dari pengaruh agama Islam
dan kembali pada kehidupan Jawa asli seperti pada Jaman Budha yaitu
kembali pada adat istiadat alam (tatacara kuno). Menurut berita para
anggota- anggota perkumpulan ini harus bersumpah menjalankan
hidup yang baik yaitu baik dalam patrap ( tingkah laku ),
pengucapankata dan ening (berpikiran yang jernih), segala kegiatan
politik harus dijauhi ( Arnas, 1981: 219-221).

Pengawasan gerakan kebatinan diharapkan untuk menghindari adanya
adanya praktik ilmu hitam atau gerakan yang dapat membuat para petani untuk
melakukan protes dengan kekerasan. Walaupun BKKI menolak anggapan tersebut
(Mulder 2003:11).
Gerakan kebatinan di Jawa tumbuh subur karena adanya perubahan budaya
yang sangat cepat dan berbagai tekanan ekonomi yang melanda masyarakat.
Masyarakat dihadapkan pada pilihan untuk kembali pada kebudayaan asli.
Gerakan kebatinan ini tumbuh dan berjalan seiring dengan kebudayaan agama
(Islam, Kristen, Katholik, Budha dan Hindu) Gerakan ini menandai adanya
ketidakpuasan tentang budaya baru, dan adanya keinginan untuk memperoleh
ketenangan diri dengan kembali pada budaya awal Jawa. Dalam kehidupan sosial
budaya yang ada di Indonesia secara tidak tertulis mengharuskan masyarakat
untuk menjadi salah satu penganut agama sehingga banyak anggota gerakan ini
masuk dalam salah satu agama. Akan tetapi tidak menjalankan ajaran agama



tersebut dan tetap menjalankan praktik-praktik mistisisme. Dalam organisasi
kebatinan meminjam istilah Mulder mereka hanya memeluk agama secara ststistik
saja. Kebijakan formalitas agama oleh negara membuat para anggota kebatinan
ini memilih agama formal berdasarkan alasan yang pragmatis. Hal ini dapat
dilihat dalam cuplikan wawancara Imam Boehagi dalam bukunya yang berjudul
Agama dan Relasi Sosial : menggali kearifan dialog
“Saya lebih memilih agama Islam, sebagai agama saya karena bila
memilih agama Islam maka lebih mudah dalam mengurus segala
sesuatunya misalnya dalam menikah tidak harus ke masjid seperti
Kristen yang harus ke gereja.”


Fenomena yang terjadi dalam masyarakat seperti dipaparkan di atas sangat
menarik bagi penulis untuk diteliti. Penulis ingin mencermati fenomena tersebut
dengan melakukan penelitian mengenai perkembangan penganut gerakan
kebatinan. Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel organisasi Kebatinan
Sapta Darma karena organisasi ini merupakan salah satu dari lima aliran terbesar
di Jawa, sehingga penulis mengambil judul “ Perkembangan Komunitas Sapta
Darma di Kecamatan Juwana tahun 1958-2005”.
B. Permasalahan

Permasalahan yang akan diambil dalam penelitian “Perkembangan
Komunitas Penghayat Sapta Darma di Kecamatan Juwana 1958-2005” adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah awal munculnya organisasi Sapta Darma
2. Bagaimana perkembangan komunitas Sapta Darma di Kecamatan Juwana
1958-2005.



3. Bagaimana peran dan pengaruh komunitas Sapta Darma terhadap masyarakat
Kecamatan Juwana.
C.Tujuan Penelitian

Penelitian “Perkembangan Komunitas Penghayat Sapta Darma di
Kecamatan Juwana 1958-2005 mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah awal munculnya organisasi Sapta Darma
2. Untuk Mengetahui perkembangan komunitas penghayat Sapta Darma di
Kecamatan Juwana 1958-2005.
3. Untuk mengetahui peran dan pengaruh komunitas Sapta Darma terhadap
masyarakat Kecamatan Juwana.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
a. Agar dapat memberikan pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya dan
mahasiswa pada khususnya untuk bisa mengetahui sejarah awal
terbentuknya organisasi kepercayaan Sapta Darma dan perkembangan
komunitasnya di Kecamatan Juwana tahun 1958 sampai dengan 2005
b. Dapat menjadi bahan kajian dalam sejarah lokal khususnya daerah
Kecamatan Juwana
c. Dapat di jadikan dasar untuk penelitian selanjutnya terutama yang
berkaitan dengan sejarah kebudayaan di Jawa





2. Manfaat praktis
a. Dapat menjadi bahan acuan bagi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
daerah Kabupaten Pati dalam membuat kebijakan-kebijakan selanjutnya
khususnya yang berkaitan dengan pembinaan penganut kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Sumber pengetahuan umum
E. Tinjauan Pustaka
Clifford Geertz dalam buku “Abangan, Santri, priyayi” tahun 1989
menggambarkan skema- skema konsep bagi pembagian masyarakat Jawa.
Berdasarkan penelitian lapangan di Mojokuto ia telah membagi masyarakat jawa
menjadi tiga jenis budaya utama Abangan, Santri, dan priyayi ia menggambarkan
ketiga varian religius diantara orang-orang Jawa.
Abangan yang mewakili sikap menitikberatkan segi-segi sinkretisme
Jawa yang menyeluruh dan secara luas berhubungan dengan unsur-
unsur petani diantara penduduk: Santri menitik beratkan pada segi-
segi Islam dalam sinkretisme tersebut pada umumnya berhubungan
dengan unsur perdagangan (maupun juga diantara petani): dan priyayi
yang menitikberatkan pada segi-segi Hindu dan berhubungan dengan
unsur-unsur birokkrasi

Ia membuat perbedaan yang tegas antara ajaran-ajaran religius yang
dilakukan oleh orang-orang yang tergolong dalam ketiga bagian tersebut,dan
mengaitkan para abangan dengan para pedagang di daerah-daerah yang lebih
bersifat kota. Sedangkan para priyayi dihubungkan dengan para pengatur birokrasi
Adapun istilah abangan diterapkan oleh Cliford Geerztz pada kebudayaan orang
desa, yaitu petani yang kurang dipengaruhi oleh pihak luar dibandingkan dengan
golongan-golongan lain diantara penduduk. Istilah santri diterapkanya pada
muslimin, istilah priyayi di kaitkan dengan kebudayaan kelas atas. Dalam buku ini



geertz memperoleh beberapa kritik karena gambaran dan analisanya dianggap
mengkaitkan beberapa kerumitan yang terkadang mengacaukan. Pembagian Geetz
belum memiliki batasan yang jelas, tetapi menurut geertz pembagian tersebut
merupakan pandangan dunia, gaya hidup, varian, dan tradisi religius yang khusus.
Digambarkanya bahwa setiap golongan menitikberatkan pada salah satu diantara
tiga segi khusus sinkretisme religius Jawa, yaitu berturut-turut Animisme,
Budisme-Hinduisme dan Islam.
Geertz Mengupas mengenai teori-teori mistik terrmasuk didalamnya
adalah hubungan antara suka dan bahagia, persamaan keagamaan yang
fundamental pengalaman, aspek psikologi. Geertz juga membahas mengenai sekte
atau aliran kebatinan di Mojokuto yang bernama Permai. Pengupasan aliran
kebatinan ini dapat di jadikan sebagi salah satu acuan sesuai dengan permasalahan
yang di terkait dalam penulisan ini.
Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan Jawa” tahun
1994, mengupas mengenai kebudayaan Jawa yang aspek cakupanya luas.
Kebudayaanya Jawa dimulai dari jaman prehistori sampai dengan peranan orang
Jawa dalam pergerakan nasional dan dalam revolusi Indonesia.selain itu dibahas
pula mengenai kebudayaan Petani jawa dan juga kebudayaan di kota dengan
penggambaran mengenai budaya sosialisai masyarakatnya, sistem organisasinya,
sosial ekonominya, pola rekreasi dan kesenian rakyatnya, kesusastraan kehidupan
politik. Dan juga sistem religinya, seluruh aspek yang ada dalam kerangka yang
sistematis dan seimbang. Koentjaraningrat berhasil menyajikan semacam
ensiklopedi kebudayaan Jawa, suatu penelaahan terpadu yang ilmiah.



Pandangan Koentjaraningrat mengenai religi orang jawa banyak berbeda
dengan pandangan Geertz, hal ini di sebabkan karena Koentjaraningrat adalah
penulis yang hidup dalam kebudayaan Jawa, sehingga dia lebih bisa memberi arti
dan nilai memandang kehidupan religi orang Jawa
Koentjaraningrat membahas mengenai perkembangan aliran-aliran
kebatinan Jawa dan juga persebaranya. koentjaraningrat membagi 5 macam
gerakan kebatinan di Jawa yaitu (1) Gerakan yang berpokok pada mistik, (2)
gerakan yang berpokok pada teosasi, (3) Gerakan-gerakan moralistik dan etik, (4)
gerakan yang berpokok praktek-praktek ilmu gaib dan (5) gerakan ratu adil
(Koentjaraningrat 1994:403).
Niels Mulder dalam bukunya yang berjudul “Mistisisme Jawa”. Mulder
menjelaskan kebangkitan kembali kejawaan (jawanisme) sebagai mana di
tunjukan dengan maraknya mistisisme kebatinan pada masa sesudah perang.
Kebangkitan gerakan kebatinan diilustrasikan dengan contoh karakteristik
ramalan lotre, dari penggambaran tersebut maka praktik mistisisme di terapkan.
Beberapa tipe orang yang ahli dan pengikut seperti orang pintar atau paranormal
dan orang-orang yang terpikat oleh pengalaman mistis. Semuanya itu terkait
dengan filosofi etis, bahkan filosofis sosial yang harus dipahami sehubungan
dengan pandangan tentang kehidupan sosial yang berlaku. Hal-hal yang paling
menonjol dari pandangan dunia orang Jawa ditata dalam suatu langgam yang logis
artinya hal-hal tersebut paling terkait dan mendukung satu sama lain. Mulder
mencurahkan perhatian pada kebangkitan kembali jawanisme muthakir, tetapi



kebangkitan praktik kebatinan ini tidak banyak hubunganya dengan mistisisme
tetapi lebih erat hubunganya dengan perpolitikan yang ada di Indonesia. Pada bab-
bab selanjutnya sampai bab terakhir Mulder membahas mengenai pola-pola
pemikiran yang melapisi tindakan praktis dalam kehidupan nyata, yaitu
penyerahan diri pada penguasa, pentingnya kewajiban dan rasa syukur.
Religiusitas desa, diskusi akademik dan perlakuan terhadap tahanan.
Suwarno Imam dalam bukunya ”Konsep Tuhan, Manusia, mistik dalam
berbagai kebatinan Jawa” tahun 2005 membahas mengenai latar belakang sejarah
kebudayaan Spiritual dari zaman Prasejarah hingga zaman pengaruh kebudayaan
Kolonial, Suwarno juga membahas mengenai kebudayaan spiritual Jawa dan awal
kebangkitan kebatinan di Jawa.
Timbulnya kebatinan di Indonesia khususnya Jawa, menurut Nicholson
dipengaruhi oleh keadaan yang kacau di bidang sosial politik dan kerohanian.
Sejalan dengan teori Nicholson, Rahmat subagya berpendapat bahwa zaman
modern membawa serta macam- macam perubahan. Kebatinan menuju integrasi
kembali kepada nilai-nilai asli yang terdesak oleh modernisasi. Hampir sama
dengan teori Nicholson dan Rahmat Subagya, Selo Soemardjan mengemukakan
teori bahwa apabila terjadi kegoncangan-kegoncangan yang luas dan lama di
dalam kehidupan masyarakat, ilmu kebatinan dirasakan sekali keperluanya, oleh
karena itu timbulnya banyak aliran kebatinan itu justru ketika masyarakat
Indonesia mengalami kegoncangan karena dan tekanan jiwa yang meluas dalam
waktu yang panjang pada masa penjajahan.



F. Ruang Lingkup Penelitian
1. Spasial (tempat)
Ruang lingkup spasial atau tempat dalam penelitian ini mengambil
Kecamatan Juwana karena Juwana merupakan sebuah kota yang heterogen
penduduknya, perkembangan budayanya pesat dan maju. Ditengah semua itu
gerakan kebatinan banyak berkembang di Kecamatan ini sehingga sangat menarik
bagi penulis untuk melakukan penelitian. Selain itu pengambilan Kecamatan
Juwana sebagai daerah penelitian karena daerah ini belum pernah dijadikan
tempat penelitian masalah perkembangan komunitas penghayat Sapta Darma
.2. Temporal
Ruang lingkup temporal dalam penelitian ini adalah tahun 1958-2005.
Alasan pemilihan tahun 1958 sebagai batasan awal, karena pertama kali ajaran
kerohanian Sapta Darma masuk dan di kenal oleh masyarakat Kecamatan Juwana,
sedangkan batasan akhir tahun 2005, karena sumber data yang ada terbatas pada
tahun 2005.
G. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah.
Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalis secara kritis rekaman dan
peninggalan masa lampau (Gottschalk 1975:32).
Adapun langkah-langkah dalam metode sejarah adalah sebagai berikut
1. Heuristik
Heuristik adalah kegiatan untuk mencari atau menghimpun data dan
sumber-sumber sejarah atau bahan untuk bukti sejarah seperti dokumen, arsip,



naskah, dan buku-buku referensi lain yang ada kaitannya dengan permasalahan
yang akan dibahas, dan wawancara. Adapun sumber- sumber yang digunakan
dalam penelitian sejarah dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Sumber primer.
Sumber primer adalah sumber terpenting dalam penelitian penelitian
sejarah. Sumber Primer adalah sumber yang berasal dari saksi hidup yang
mengalami atau ikut dalam peristiwa atau kejadian. Jadi sumber primer adalah
sumber yang sejaman dengan suatu peristiwa sejarah.
Sumber primer juga dapat berupa dokumen ( bahan dokumen) resmi
pemerintah yang belum di terbitkan misalnya, surat perintah, keputusan,
pernyataan laporan resmi dan konfidensial, catatan pribadi, buku harian, media
cetak sejaman.
b. Sumber Sekunder.
Sumber sekunder adalah sumber sejarah dari orang yang bukan saksi
hidup atau tidak sejaman dengan kejadian atau peristiwa sejarah. Sumber
sekunder bisa berupa buku yang ditulis oleh penulis yang tidak mengalami
peristiwa sejarah tersebut, hasil penelitian atau observasi para ahli sejarah
maupun karya- karya ilmiah.
Pada tahap heuristik peneliti mencari literatur-literatur kepustakaan yaitu
buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang berhubungan dengan masalah
yang diteliti. Sumber-sumber yang diperoleh dengan riset kepustakaan berguna
sebagai bahan pembanding, pelengkap dan menganalisis untuk memperdalam
permasalahan yang akan dibahas.



Dalam pengumpulan data yang berupa sumber-sumber sejarah. penulis
menelaah dan mencari sumber-sumber sejarah yang tertulis berupa buku dan
referensi yang akan dibahas.
Selain itu pada tahap ini penulis juga mengadakan penelitian lapangan
untuk mendapatkan bukti sejarah yang diperlukan, untuk mencari berbagai
sumber sejarah baik primer maupun sekunder yang sesuai dengan masalah yang di
teliti. Dalam hal ini penulis mencari sumber atau bukti sejarah dengan
menggunakan teknik pencarian sumber sebagai berikut :
a. Wawancara
Metode wawancara atau metode interview adalah cara yang dipergunakan
seseorang untuk tujuan suatu tugas tertentu untuk mendapatkan keterangan atau
pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap berhadapan
muka dengan orang tersebut.
Untuk mendapatkan data- data melalui wawancara penulis mengadakan
wawancara dengan nara sumber yang berkaitan langsung dengan permasakahan
yang akan dikaji. Diantaranya adalah pihak dari Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan Sub bidang olah raga dan kebudayaan, Panuntun warga Sapta
Dharma wilayah Kecamatan Juwana, dan warga Sapta Darma.
Teknik wawancara dengan jalan terbuka, langkah-langkah yang dilakukan
adalah:
1. Menyusun rambu- rambu pertanyaan.
2. Menetapkan serta menghubungi informan yang di maksud.
3. Pengaturan waktu dan tempat wawancara.
4. Pelaksanaan Wawancara.



5. Pengolahan hasil wawancara
b. Studi pustaka.
Untuk mendapatkan buku- buku pendukung yang relevan dengan topik
permasalahan yang dikaji penulis mendatangi beberapa perpustakaan seperti
Perpustakaan UNNES, Perpustakaan jurusan Sejarah, Perpustakaan Daerah dan
Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah.
2. Kritik sumber
Kritik sumber adalah tahap penilaian atau pengujian terhadap sumber-
sumber sejarah yang telah dikumpulkan, dilihat dari sudut pandang nilai
kebenaranya. Dalam penelitian ini penulis lebih banyak menggunakan sumber
lisan atau wawancara. Penilaian dengan sumber lisan dilakukan denagn cara
membandingkan data yang diperoleh dari beberapa sumber secara kritis. Tahap
selanjutnya Penulis mengadakan cros cek dengan sumber kepustakaan.
Untuk mendapatkan data tertulis dari fakta-fakta sejarah, dalam tahap
kedua ini di bagi menjadi:
a. Kritik eksteren
Kritik eksteren dapat digunakan untuk menentukan keaslian dan
keautentikan sumber sejarah. Hal ini untuk menentukan apakah sumber sejati atau
tidak.
b. Kritik Intern
Dilakukan setelah penulis selesai membuat kritik eksteren setelah di
ketahui otentitas maka di lakukan kritik intern unruk melakukan pembuktian
apakah sumber-sumber tersebut benar-benar merupakan fakta sejarah



Dalam penelitian ini penulis menggunakan kritik intern dan juga Kritik
eksteren karena dalam penelitian ini penulis menggunakan sumber tertulis baik
dokumen, maupun arsip. Kritik Intern dilakukan terhadap informasi atau isi
sumber dengan menganalisis kebenaran untuk memperoleh jawaban apakah
relevan dengan penelitian yang dimaksud dengan cara membandingkan informasi
sumber satu dengan yang lain, membandingkanya dengan data di lapangan,
kemudian membandingkanya lagi dengan data sekunder lainnya.
3. Interpretasi
Interpretasi merupakan cara menentukan maksud saling berhubungan
fakta-fakta yang diperoleh setelah terkumpul sejumlah informasi mengenai
peristiwa sejarah yang diteliti. Suatu peristiwa agar menjadi kisah sejarah yang
baik maka perlu diinterpretasikan berbagai fakta yang lepas satu dengan yang
lainya harus dirangkaikan atau dihubungkan sehingga membentuk satu kesatuan
bermakna. Dalam proses interpretasi tidak semua fakta dapat dimasukan tetapi
harus di pilih mana yang relevan dengan gambaran cerita yang akan di susun.
4. Historiografi
Pengertian historiografi dapat di bedakan menjadi dua yaitu historiografi
dalam arti sempit yaitu perkembangan penulisan sejarah dalam peradapan dunia,
sedangkan dalam arti luas ialah perkembangan penulisan sejarah yang di
dalamnya juga memuat teori dan metodologi sejarah (Darban, 1995:1)
Historiografi juga dapat diartikan sebagai bentuk penyajian sebuah cerita
sejarah dari fakta-fakta hasil interpretasi tersebut di atas .Tahap ini merupakan
tahap akhir dari keempat penelitian sejarah. Disini penulis menyajikan hasil



penelitian sejarah, dalam bentuk cerita sejarah dengan penggambaran jelas dari
hasil-hasil yang diperoleh selama melakukan penelitian.
Historiografi merupakan bagian akhir dari metode sejarah yaitu
menyajikan cerita sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Dalam hal ini bentuk tulisan atau cerita sejarah yang disusun secara kronologis
dari sejarah awal munculnya aliran kepercayaan di Jawa, sejarah awal munculnya
penghayat Sapta Darma, gambaran mengenai organisasi Kerohanian Sapta Darma,
dan perkembangan Komunitas Sapta Darma
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian perkembangan komunitas
Sapta Darma 1958- 2005 adalah pendekatan kebudayaan. Penghayat kerohanian
Sapta Darma adalah salah satu bentuk kebudayaan spiritual Jawa yang masih
berkembang sampai saat ini. Adanya Komunitas Kerohanian Sapta Darma ini
menunjukan bahwa masih adanya budaya- budaya lama yang muncul kembali di
tengah kebudayaan modern. Teori atau konsep yang mendukung tentang
kemunculan budaya lama tersebut salah satunya adalah teori Rahmat Subagya
yang menyatakan bahwa zaman modern membawa serta macam- macam
perubahan. Kebatinan menuju integrasi kembali kepada nilai- nilai asli yang
terdesak oleh modernisasi. Seluruh kebatinan bergerak di bawah tanda protes dan
kritik, terhadap zaman sekarang. Protes dan kritik terhadap zaman sekarang.
Protes dan kritik itu dilontarkan dari sudut tertentu, yaitu kerinduan akan zaman
lampau dan akan nilai- nilai lama yang hilang (Imam, 2005: 78).



H. Sistematika Penulisan
Untuk mengetahui gambaran umum mengenai keseluruhan isi penelitian
ini, perlu dikemukakan garis besar pembahasan melalui sistematika penulisan
sebagi berikut
Bab I berisi latar belakang masalah , permasalahan, Tujuan penelitian,
manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika
penulisan.
Bab II berisi mengenai kondisi masyarakat Kecamatan Juwana meliputi
letak geografis, demografi yang berisi (komposisi penduduk, tingkat pendidikan,
dan mata pencaharian) dan kehidupan sosial budaya (kehidupan sosial masyarakat
dan sistem kepercayaan masyarakat).
Bab III berisi mengenai sejarah awal munculnya kebatinan di Jawa dan
gambaran kerohanian Sapta Darma yang meliputi (riwayat hidup pendirinya,
ajaran Sapta Darma, Konsep Sapta Darma tentang Tuhan dan manusia).
Bab IV berisi mengenai perkembangan warga Sapta Darma di Kecamatan
Juwana, Faktor pendorong perkembanganya, dan Fungsi ajaran Sapta Darma bagi
para warga dan masyarakat.
Bab V Berisi Simpulan dan saran










BAB II
KONDISI MASYARAKAT KECAMATAN JUWANA

A. Letak geografis
Kecamatan Juwana adalah salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten
Pati. Pati merupakan daerah kabupaten di Jawa Tengah bagian timur. Wilayah
Kecamatan Juwana merupakan Kecamatan yamg cukup maju dengan kondisi kota
yang tertata rapi. Jalan yang menghubungkan Kecamatan Juwana dengan daerah
sekitarnya merupakan jalan yang sudah beraspal dengan kondisi yang baik.
Kecamatan Juwana adalah salah satu Kecamatan yang dilalui jalur pantura. Jarak
pusat pemerintahan wilayah Kecamatan dengan desa terjauh adalah 5 Km. Jarak
pusat pemerintahan wilayah Kecamatan dengan ibu kota kabupaten adalah 12 Km
kearah barat atau bisa disebut bahwa Kecamatan Juwana berada di timur Ibu kota
kabupaten
Secara administratif Kecamatan Juwana kabupaten pati memiliki batas- batas
sebagai berikut, sebelah utara Kecamatan Tayu, sebelah selatan Kecamatan
Jakenan, sebelah barat Kecamatan Pati dan sebelah timur Kecamatan Batangan





Peta
Kecamatan
juwana
20




Gambar 1.
(Sumber: Arsip Kartografi Kecamatan Juwana 2005)
Kecamatan Juwana terletak diketinggian 4 M dari permukaan air laut,
mempunyai suhu minimum 340 C. Kecamatan Juwana merupakan kota pesisir
dengan topografi wilayah berupa dataran rendah dan daerah pantai.
Luas wilayah Kecamatan Juwana kurang lebih 9.460.994 Ha, terdiri dari
tanah sawah, tanah kering, tanah basah atau tambak, lapangan olah raga, dan jalur
hijau. Wilayah kecamtan Juwana meliputi 29 desa, 34 lingkungan dusun, 87
Rukun Warga (RW), dan 356 Rukun Tetangga (RT). Dilihat dari keadaan
geografis Kecamatan Juwana merupakan salah satu wilayah Kecamatan yang
Cukup luas dan besar di kabupaten Pati.



B. Demografi
a. Komposisi Penduduk
Kecamatan Juwana dilihat dari komposisi penduduknya merupakan
wilayah Kecamatan yang heterogen. Dari segi etnis, di wilayah Kecamatan
Juwana selain terdapat suku Jawa terdapat juga warga keturunan Cina, Keturunan
Arab, suku Madura, dan orang- orang dari luar pulau Jawa, semua terdaftar
sebagai warga Negara Indonesia (WNI). Dari data monografi Kecamatan Juwana
tidak ada Warga Negara Asing (WNA) yang tercatat menetap di Kecamatan
Juwana.
Jumlah penduduk Kecamatan Juwana pada tahun 2005 sebanyak 83.749
jiwa, yang terdiri dari warga Negara Indonesia laki- laki 41.744 jiwa dan Warga
Negara Indonesia perempuan 42.005 Jiwa. Untuk melihat laju pertumbuhan
penduduk kecamatan Juwana menurut jenis kelamin dapat dilihat dari tabel dan
grafik di bawah ini.
Tabel 1
Jumlah Penduduk
di Kecamatan Juwana Menurut Jenis Kelamin

No. Tahun
Jenis
Kelamin
Jumlah


Laki-laki
Perempuan

1 1958 22230
22874
45104
2 1968 26332
26839
53171
3 1978 28843
30713
59556
4 1988 32973
36424
69397
5 1998 39798
39171
77969
6 2005 40896
42903
83799
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah



Jumlah Penduduk Wilayah Kecamatan Juwana
Menurut Jenis Kelamin
52 .5
53
51.6
52
51.2
50 .7
50 .5
51
50 .2
4 9 .8
50
4 9 .3
4 9 .5
t
a
s
e
Laki-laki
4 8 .8
49
4 8 .4
r
s
e
n
Perempuan
48
4 7.5
Pe 47
46
45
Tahun
Tahun
Tahun
Tahun
Tahun
Tahun
1958
1968
1978
1988
1998
2005

Grafik 1
Jumlah Penduduk Wilayah Kecamatan Juwana Menurut Jenis Kelamin


Di dalam komunitas Sapta Darma di Kecamatan Juwana dimana jumlah
warganya hanya sekitar 200 sampai dengan 300 orang, hampir seratus persen
warganya berasal dari etnik Jawa. Berdasarkan wawancara dengan Bapak
Kasminto selaku sekertaris Persatuan Sapta Darma (PERSADA), dapat diketahui
warga Sapta Darma di Kecamatan Juwana paling banyak berusia 18-55 tahun dan
sebagian lagi berusia 56 keatas. Warga yang berusia diatas 56 tahun keatas
biasanya adalah generasi pertama, atau orang- orang pertama yang masuk
kedalam kerohanian Sapta Darma di Kecamatan Juwana.
b. Tingkat Pendidikan Masyarakat
Pendidikan adalah suatu usaha untuk meningkatkan daya pikir atau
mengubah cara berpikir dari yang tidak bisa menjadi bisa. Hal ini sesuai dengan
pembukaan UUD 1945 bahwa meningkatkan kecerdasan Bangsa adalah suatu



tujuan Bangsa Indonesia dimana tingkat kemajuan masyarakat salah satunya dapat
diperhatikan dari tingkat pendidikannya. Pendidikan pada dasarnya tidak hanya
menyelenggarakan pendidikan formal seperti halnya TK (Taman Kanak-Kanak).
Sekolah dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Sekolah Menengah Umum dan
Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan non formal yang dapat mendidik anak
adalah pendidikan pesantren, kursus atau bimbingan keluarga.
Berdasarkan komposisi penduduk Kecamatann Juwana menurut tingkat
pendidikan dapat diketahui jumlah penduduk yang pernah sekolah, tidak sekolah
dan yang belum sekolah serta sejauh mana tingkat pendidikan yang telah dicapai.
Hal ini dikarenakan pengaruh pola pikir dan tindakan seseorang yang terwujud
dalam tingkah laku,daya cipta dan kreasi seseorang.
Berdasarkan pengelompokan pendidikan, tingkat pendidikan masyarakat
cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari tabel komposisi di Kecamatan Juwana.
Tabel 2
Penduduk Kecamatan Juwana Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat
Pendidikan 1958 1968 1978 1988 1998 2005
1 Belum
Sekolah
9485
10640
11369
12554 12507 10110
2
Tidak Tamat SD
18064
20747
22455
24244
24015
29214
3 Tamat
SD
11736
14377
16524
20737 25084 28877
4 Tamat
SLTP
2661
3669
4288
5646 8031 10511
5 Tamat
SMU
2030
2712
3716
4827 6739 8067
6 Tamat
Akademik
46
106
179
278 390 637
7 Tamat
Perguruan
180
266
476
625 795 983
8 Buta
Huruf
902
654
549
486 408 350
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah





Jumlah Penduduk di Kecamatan Juwana Menurut
Tingkat Pendidikan
50
4 0 . 0 5
Belum Sekolah
3 9 . 0 2
3 7 . 7
40
3 4 . 9
3 4 . 4
Tidak Tamat SD
3 2 . 2
3 0 . 8
2 9 . 9
2 8 . 9
2 7 . 0 4
2 7 . 7
t
ase 30
2 6 . 0 2
Tamat SD
2 1 . 0 3
2 0 . 0 1
1 9 . 0 9
1 8 . 0 9
20
Tamat SLTP
1 6 . 0 8
e
r
s
en
1 2 . 0 7 1 2 . 5
P
Tamat SMU
1 0 . 3
9 . 6
8 . 6
6 . 9
7 . 2
8 . 1
10
5 . 9
6 . 2 4
6 . 9 6
4 . 5
5 . 1
Tamat Akademik
2
1 . 2 3
0 . 9 2
0 . 1
0 . 2
0 . 3
0 . 4 0 . 7
0 . 5
0 . 7
0 . 4
0 . 5
0 . 8
0 . 9
1 . 0 2
1 . 1
0 . 5
0 . 4
0
Tamat Perguruan
1958
1968
1978
1988
1998
2005
Buta Huruf
Tahun

Grafik 2
Jumlah Penduduk di Kecamatan Juwana Menurut Tingkat Pendidikan


Berdasarkan wawancara, di dalam komunitas Sapta Darma di Kecamatan
Juwana dengan jumlah Warga antara 200-300 orang, pendidikan formal bagi
warganya adalah hal yang sangat penting, oleh karena itu warga Sapta Darma
yang berusia 18-55 tahun banyak yang merupakan lulusan SMU atau sederajat ,
sedang menjalankan pendidikan di perguruan tinggi maupun telah tamat
perguruan tinggi. Selain itu tingkat pendidikan yang cukup tinggi dapat dilihat
dari para warga yang telah berumur lebih dari 60 tahun tapi kebanyakan dari
mereka merupakan lulusan setingkat SLTP ( Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama).
Walaupun demikian paling banyak warga Sapta Darma berpendidikan sederajat
dengan Sekolah Dasar.
Dalam meningkatkan pendidikan masyarakat diperlukan sarana dan
prasarana pendidikan, untuk prasarana pemerintah meningkatkan kualitas atau
mutu tenaga pendidik dengan cara mewajibkan guru-guru untuk melanjutkan



pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan untuk sarana pemerintah
berusaha meningkatkan fasilitas-fasilitas baru untuk meningkatkan mutu
pendidikan, contohnya membangun gedung sekolah, pemberian Komputer gratis
dan juga fasilitas internet.
Di Kecamatan Juwana terdapat 30 gedung sekolah TK, 45 gedung Sekolah
Dasar yang terdiri dari 25 buah SD Negeri, 19 buah SD Swasta. 4 gedung Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama Negeri dan 5 gedung Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama Swasta, 1 gedung Madrasah Tsanawiyah dan 1 gedung SLTA Negeri
serta 2 gedung SLTA Kejuruan. Untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi
masyarakat Kecamatan Juwana melanjutkan di Kabupaten Pati serta kota besar
lainnya.
Pendidikan di luar sekolah didirikan tempat-tempat kursus keterampilan,
sedangkan untuk pendidikan Agama didirikan sekolah-sekolah Agama yang
dilaksanakan di luar kegiatan sekolah formal contoh didirikan Taman Bacaan Al-
Qur’an (TPA) oleh remaja masjid yang diselenggarakan setiap sore hari.
c. Mata Pencaharian Penduduk
Dari data monografi Kecamatann Juwana Januari 2005, menunjukkan
bahwa pekerjaan penduduk sangat bervariasi. Hal ini dapat dilihat dari tabel dan
grafik di bawah ini:










Tabel 3
Jumlah Penduduk di Kecamatan Juwana Menurut Mata Pencaharian

No.
Mata
Pencaharian 1958 1968 1978 1988 1998 2005
1 Petani
26503
31200
33006
3818 41698 18155
2 Nelayan

3563
4536
3990
4649 5146 3125
3 Pengusaha
194
255
417
340
398
287
4 Buruh

9093
10948
14520
16918 20350 11255
5 Pedagang

3455
3291
4109
4788 5536 4740
6 Jasa
Angkutan
298
1329
1489
1873 2113 1612
7 Pegawai
Negeri
Sipil
265
1425
1251
1527 1715 1110
8 ABRI

722
606
357
347
312
214
9 Pensiunan
316
399
417
555
702
492
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah


Jumlah Penduduk di Kecamatan Juwana Menurut
Mata Pencaharian
70
Petani
5 8 . 7 6
5 8 . 6 8
5 5 . 4 2
60
5 3 . 4 8
5 3 . 4 2
Nelayan
50
Pengusaha
t
a
se 40
Buruh
2 8 . 8 5
30
2 4 . 3 8
2 5 . 2 1
2 6 . 1
2 0 . 1 6
2 0 . 5 9
e
r
sen
Pedagang
P 20
9 . 7
Jasa Angkutan
7 . 9
8 . 5 3
7 . 6 6
6 . 7
6 . 7
6 . 6
6 . 1 9
6 . 9
6 . 9
7 . 1
10
5 . 5
6 . 4
2 . 5
2 . 7
2 . 7 1
3 . 3
2 . 1 4
2 . 6 8
2 . 1
2 . 2
2 . 2
2 . 3
0 . 4 30 . 5 5
1 . 6
0 . 7
0 . 4 80 . 9 6
1 .0 1. 47 5
0 . 7
0 . 6
0 . 7
0 . 4 9
0 .0 5. 8
0 . 5 1
0 . 4
0 . 9
0 . 5 5
0 . 41
Pegawai Negeri Sipil
0
1958
1968
1978
1988
1998
2005
ABRI
Pensiunan
Tahun

Grafik 3
Jumlah Penduduk di Kecamatan Juwana Menurut Mata Pencaharian


Dari tabel dan grafik diatas diketahui bahwa mata pencaharian penduduk
Juwana sangat bervariasi, dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.
Petani di Kecamatan Juwana dibagi menjadi beberapa macam yaitu petani pemilik
tanah, petani penggarap tanah dan petani penggarap atau penyekap. Petani bagi



masyarakat Juwana tidak hanya dalam pengertian orang yang menggarap sawah
tetapi juga petani tambak dan juga petani garam.
Dalam komunitas Sapta Darma mata pencaharian warganya sangat
heterogen atau bermacam- macam. Tetapi paling banyak warga Sapta Darma di
Kecamatan Juwana bermata pencaharian sebagai petani sawah dan petani tambak.
Sebagian lagi sesuai dengan tingkat pendidikanya bermata pencaharian sebagai
pedagang, pengusaha swasta, pegawai negeri sipil dan bermacam pekerjaan yang
lain. Warga Sapta Darma yang bermata pencaharian sebagai petani kebanyakan
adalah warga yang berusia 40 tahun keatas yang berpendidikan Sekolah Dasar dan
setingkat SLTP.
Masyarakat Kecamatan Juwana yang bermata pencaharian sebagai
pengrajin, biasanya membuka pusat kerajianan kuningan dan juga mebel.
Kerajinan kuningan di Juwana merupakan sektor penting dalam perekonomian
masyarakat, karena banyaknya kerajinan kuningan kota Juwana terkenal sebagai
kota kuningan. Usaha atau industri kecil yang juga berkembang adalah industri
tempe, tahu, rokok dan produk-produk makanan jadi seperti banding presto, kecap
dan makan ringan. Industri-industri semacam ini banyak menyerap tenaga kerja
sehingga sangat membantu perekonomian masyarakat kecil. Kecamatan Juwana
memiliki pelabuhan, oleh karena itu kota Juwana terbantu dari segi ekonomi,
pelabuhan kota Juwana diramaikan dengan pelelangan ikan, jual beli kayu dan
lain sebagainya.



C. Kehidupan Sosial Budaya
a. Kehidupan Sosial
Masyarakat Kecamatan Juwana mayoritas merupakan masyarakat asli dari
suku Jawa. Selain itu terdapat juga etnis cina, arab dan dari berbagai daerah di
Indonesia. Etnis cina dan arab sebagian besar adalah warga keturunan yang telah
lama menetap di Kecamatan Juwana.
Kecamatan Juwana terletak di jalur pantura dan merupakan kota pesisir.
Oleh karena itu masyarakatnya cenderung terbuka. Hubungan pergaulan antar
masyarakat terjalin sangat akrab dan harmonis antar suku dengan yang lain. Hal
ini dapat dilihat dari hubungan yang terjalin pada saat ada warga meninggal, dan
juga mempunyai hajat dan pada saat ada warga meninggal, mereka saling
membantu.
Berbagai bentuk kegiatan kemasyarakatan mewarnai kehidupan sosial
masyarakat Kecamatan Juwana. Seperti kerja bakti, yang melibatkan seluruh
warga, dan juga kegiatan-kegiatan tradisi seperti sedekah laut, sedekah bumi,
peringatan taun baru cina yang biasa disebut hari raya Implek dan lainnya. Dilihat
dari gambaran tersebut maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kecamatan
Juwana memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat.
b. Sistem Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat Kecamatan Juwana berdasarkan data monografi Kecamatan
Juwana tahun 2005. Agama yang dianut adalah Agama Islam, Katholik, Protestan,
Budha dan Hindu. Adapun julah pemeluk masing-masing Agama dapat dilihat
pada tabel berikut:



Tabel 5
Penduduk Kecamatan Juwana Berdasarkan Agama

No Agama
Jumlah
Persentase
1
Islam
76.585
91,4%
2
Katholik
1.304
1,6%
3
Protestan
4.040
4,8%
4
Hindu
36
0,1%
5
Budha
1.299
1,5%
6
Aliran Kepercayaan
485
0,5%
83.749
100%
Sumber : Monografi Kecamatan Juwana 2005


Berdasarkan data tersebut diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar atau
mayoritas penduduk Kecamatan Juwana adalah beragama Islam. Di Kecamatan
Juwana walaupun mayoritas penduduknya beragama Islam, pada dasarnya banyak
masyarakat Kecamatan Juwana yang merupakan Islam “Abangan” atau beragama
Islam tetapi tidak menjalankan syari’at agama Islam. Selain agama Islam, agama
Kristen, Katholik, Hindu dan Budha di Kecamatan Juwana banyak berkembang
aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun kelompok ini
bukan penganut Agama akan tetapi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
merupakan suatu bentuk kebudayaan religi yang terus dikembangkan oleh para
penganutnya, sehingga mereka memiliki komunitas sendiri. Sering kali dalam
pendataan komunitas ini tidak tercatat hal ini karena kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa masih dianggap bukan agama, sehingga dalam data-data yang ada
mereka tercatat sebagai pemeluk Agama Islam.
Untuk mempermudah dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan Yang
Maha Esa maka di perlukan sarana ibadah. Adapun sarana ibadah yang ada di
Kecamatan Juwana dapat dilihat sebagai berikut:



Tabel 6
Sarana Ibadah di Kecamatan Juwana
No Tempat
Jumlah
1
Masjid
172
2
Gereja
18
3
Wihara/Pura
3
Sumber : Monografi Kecamatan Juwana tahun 2005

Dalam data tersebut diatas sarana peribadatan yang tercatat adalah sarana-
sarana peribadatan untuk agama-agama yang telah diakui oleh pemerintah. Tetapi
di Kecamatan Juwana juga terdapat sarana ibadah untuk penganut kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang dinamakan Sanggar. Sanggar bagi pemeluk
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa selain digunakan sebagai sarana
ibadah juga digunakan untuk sarana perkumpulan bagi komunitas tersebu.
Sanggar yang terdapat di kecamtan Juwana merupakan satu- satunya sanggar yang
ada di Kecamatan Juwana bahkan Sanggar ini merupakan sanggar pusat bagi
warga sapta Darma Di wilayah kabupaten Pati (wawancara 23 agustus 2006).
Upaya untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
para pemeluk agama di Kecamatan Juwana membentuk kegiatan keagamaan
berupa perkumpulan-perkumpulan yang berhubungan dengan masalah keagamaan
misalnya untuk para pemeluk agama Islam mengadakan perkumpulan majelis
taklim. Pemeluk agama Budha, Kristen dan Katholik mengadakan kegiatan remaja
dan penyelenggaraan sekolah minggu, para penganut kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa juga mengadakan perkumpulan keagamaan setiap hari kamis dan
minggu yang dilaksanakan di Sanggar.
Dilihat dari gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa kehidupan
keagamaan yang ada di Kecamatan Juwana berjalan dengan baik. Walaupun



dalam menjalankan kegiatan keagamaannya, masih banyak dipengaruhi oleh
unsur-unsur kepercayaan lain dan adat istiadat yang ada di dalam budaya
masyarakat Kecamatan Juwana. Hubungan antar para pemeluk agama juga
berjalan harmonis dan tidak ada pertentangan.























BAB III
KEBATINAN DI JAWA

A. Latar Belakang Spiritual di Jawa
Kebudayaan spiritual pada awalnya timbul sejak jaman pra sejarah.
Kebudayaan spiritual jaman pra sejarah pada hakekatnya adalah kepercayaan
primitif yang dikenal dengan kebudayaan “dinamisme” dan “animisme”.
Kebudayaan ini muncul pada masa bercocok tanam, dimana mereka telah
mengembangkan kepercayaan mereka akan adanya roh orang meninggal yang
sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Pada perkembangan selanjutnya
kepercayaan mereka melahirkan konsepsi keagamaan yang dimanifestasikan
dalam pendirian bangunan-bangunan megalithik. Tradisi mendirikan bangunan-
bangunan megalithik (batu besar), selalu mendasarkan pada kepercayaan tentang
adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati. Simbol kebesaran dari orang
yang telah mati dipusatkan pada bangunan-bangunan batu besar, yang kemudian
menjadi medium penghormatan (Marwati Djonet, 1993:180 – 190).
Setelah jaman prasejarah dengan kebudayaan Animisme dan Dinamisme,
kebudayaan Hindu dan Budha masuk ke pulau Jawa dengan membawa konsep
baru tentang Tuhan. Dalam agama Hindu mereka percaya akan kuasa para dewa
atas segala yang ada di dalam dunia ini. Dalam Hindu dikenal tiga sifat dewa di
yaitu Brahma sebagai pencipta, Visnu sebagai pemelihara, Siva sebagai
pemralina atau perusak. Sedangkan dalam agama Budha konsep yang dibawa
33
tidak bertitik tolak pada ketuhanan tetapi berdasarkan kenyataan-kenyataan hidup



yang ada dalam kehidupan manusia (Hilman, 1993: 164). Kerajaan-kerajaan yang
berdiri pada saat itu memunculkan figur raja-raja yang dipercaya sebagai dewa
atau titisan dewa. Di dalam sebuah negara kosmis seperti yang dijumpai dahulu di
Asia Tenggara, sangat erat hubunganya dengan pemikiran tentang kedudukan raja
yang dipercaya bersifat dewa. Di dalam Hinduisme raja dianggap sebagai
penitisan (inkarnasi) dari dewa atau sebagai keduanya, baik penitisan ataupun
keturunan dewa. Dewa yang dianggap menitiskan dirinya sendiri kedalam tubuh
raja-raja atau orang yang memulai sebuah dinasti paling banyak adalah Syiwa
(Geldren, 1972:16 ). Teori tentang penitisan ini pada waktu itu dapat
dipergunakan sebagai alat untuk meninggikan kedudukan raja yang sah.
Setelah masuknya kebudayaan Hindu dan Budha, maka masuklah
kebudayaan Islam di Jawa. Masuknya Islam di Jawa membawa pengaruh besar
pada masyarakat, dengan dimulainya proses peralihan keyakinan dari Hindu-
Budha ke Islam.
Perkembangan agama Islam di Jawa tampak lebih nyata dengan berdirinya
Kerajaan Demak di bawah Raden Patah pada awal abad ke-16 (Suwarno 2005:
25). Dalam perkembangan selanjutnya, keadaan masyarakat Islam Jawa Tengah
dan Jawa Timur, terutama di daerah-daerah yang kuat menerima pengaruh
kebudayaan spiritual Hindu telah berubah setelah masuknya agama Islam terjadi
akulturasi budaya yang melahirkan tiga golongan yaitu:





a) Golongan Santri
Golongan ini yang juga disebut Wong Putihan adalah orang-orang yang
taat menjalankan agama Islam. Golongan santri biasanya bermukim atau
berkumpul bersama wali atau ulama atau guru pengajiannya di pondok pesantren
atau pesantren. Santri mewakili suatu titik berat pada aspek Islam dari sinkretisme
dan pada umumnya dihubungkan denagn aspek dagang (Geertz, 1989: 9).
b) Golongan Priyayi
Golongan ini merupakan golongan Wong Abangan Cendekia, yang terdiri
dari kaum Bangsawan dan para keluarga para pejabat yang mengaku beragama
Islam karena jabatan dan politik. Sebaliknya mereka masih mempertahankan dan
melaksanakan adat keagamaan Hindu Jawa dan berpegang pada ajaran mistik
kejawen yang berasal dari mistik Hindu-Budha. Istilah Priyayi asal mukanya
hanya istilah untuk kalangan aristokrasi turun- temurun yang oleh Belanda
diambil dengan mudah dari raja-raja pribumi yang ditaklukkan untuk kemudian
diangkat sebagai pejabat sipil yang digaji. Mereka memelihara dan
mengembangkan etiket Kraton yang sangat halus dan kompleks dalam tarian,
sandiwara, musik, sastra dan misistisme Hindu-Budha (Geertz, 1989: 7).
c) Golongan Abangan
Golongan orang-orang yang disebut Wong Cilik yaitu orang-orang yang
menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, yang bercampur dengan ajaran
Hindu-Budha Jawa Kuno dengan berselubung pada Islam (Hilman 1993: 65).
Abangan mewakili suatu titik berat pada aspek animistis dari sinkretisme Jawa
yang melingkupi semuanya,dan secara luas dihubungkan dengan elemen petani



(Geertz, 1989: 8). Golongan abangan ini yang kemudian banyak menjadi pengikut
aliran kebatinan atau kepercayaan dan diantara mereka ada pula yang menjadikan
dirinya menjadi pemuka kepercayaan tersebut. Misalnya saja kepercayaan Sapta
Darma, yang diajarkan oleh Hardjosaputro yang pekerjaannya hanya adalah
tukang cukur dan buta huruf yang berasal dari Kediri.
B. Perkembangan Kebatinan di Jawa
Kebatinan di Jawa berkembang dengan pesat sekitar pertengahan abad ke-
20. Kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa kegoncangan dan kekacauan
masyarakat itu pernah terjadi selama abad ke-19 dan awal abad ke-20. Di
Indonesia terutama di daerah-daerah pedesaan di Jawa sering timbul gerakan
protes sosial terhadap kolonial. Dalam situasi yang demikian timbulah harapan
akan datangnya ratu adil yang dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
Kepemimpinan komunitas desa yang berharap akan datangnya ratu adil dalam
budaya Jawa dikatakan bersumber pada “Wahyu Suci” yang disebut wangsit atau
wisik. Hal ini sejalan dengan teori Rahmat Subagyo yang berpendapat bahwa
zaman modern membawa serta macam-macam perubahan. Kebatinan menuju
integrasi kembali kepada nilai-nilai asli yang terdesak oleh modernisasi. Seluruh
kebatinan bergerak di bawah tanda protes dan kritik terhadap zaman sekarang.
Protes dan kritik itu dilontarkan dari sudut tertentu. yaitu kerinduan akan zaman
lampau dan akan nilai-nilai lama yang hilang. Dalam perjalanan sejarah Islam
terjadi pergeseran kearah formalitas serba lahir yang menimbulkan reaksi serba
batin. Reaksi batin melawan kemerosotan itu merupakan usaha untuk mengatasi
keduniawian dan kebejatan moral. Reaksi yang dimaksudkan disini disebut



tasawuf atau sufisme. (Rahmat 1973: 125 – 128). Selain itu teori ini diperkuat
dengan teori Nicholson, yaitu bahwa apabila terjadi kegoncangan-kegoncangan
yang luas dan lama di dalam kehidupan masyarakat, ilmu kebatinan dirasakan
sekali keperluannya. Oleh karena itu, timbulnya banyak aliran kebatinan itu justru
ketika masyarakat Indonesia mengalami kegoncangan karena tekanan jiwa yang
meluas dalam waktu yang panjang pada masa penjajahan (Suwarno 2005: 78).
Pada masyarakat sekarang yang memilih masuk menjadi penghayat kebatinan
dipengaruhi oleh beberapa alasan misalnya mereka ingin lebih mendekatkan diri
kepada Tuhan karena berbagai persoalan hidup, kejenuhan, tekanan ekonomi dan
lain sebagainya.
Timbulnya banyak aliran kebatinan merupakan perwujudan kebangkitan
Kultural “orang Jawa abangan”. Jumlah aliran kebatinan cukup banyak, maka
nama-nama bagi masing-masing aliran pun bermacam-macam. Berbagai macam
nama kebatinan merupakan eksponen sinkretisme. Sebagai bentuk sinkretisme
secara historis telah berakar di dalam masa yang sangat panjang dan telah
diperkaya oleh berbagai unsur agama yang berbeda yang pernah masuk ke
Indonesia yaitu Hindu Budha, Islam dan Kristen , sehingga corak aliran kebatinan
itu pun bermacam-macam. Ada yang bercorak animisme, ke-Hindu-jawaan, ke-
Islam-an, dan mistik (Suwarno 2005:80).
Berkenaan dengan kebatinan sebagai bentuk sinkretisme yang sangat
panjang. Soedjono Humardani membagi sejarah kebudayaan spriritual Indonesia
kedalam tiga periode (babak) yaitu :




a. Zaman Purwa
Zaman purwa adalah sebelum masuknya pengaruh-pengaruh dari luar,
khususnya pengaruh agama-agama yang masuk ke-Indonesia di zaman
purwa ini adalah zaman awal kehidupan kebudayaan spiritual nusantara.
b. Zaman Madya
Zaman madya adalah zaman pertemuan dan interaksi antara kebudayaan
spiritual Nusantara dengan pengaruh agama-agama besar yang masuk ke
Indonesia. Dengan interaksi itu kemudian menimbulkan pembauran atau
sinkretisme antara nilai-nilai dasar yang dibawa oleh berbagai agama
besar.
c. Zaman Kotemporer
Zaman Kontemporer adalah zaman dimana terjadi proses interaksi dan
pembauran atau sinkretisme kebatinan sebagai bentuk sinkretisme dalam
pertumbuhannya semakin jelas identitasnya, yang dikenal sebagai
kebudayaan spiritual (batin). Yang pada intinya mengenai hidup dan
kehidupan manusia hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Kebatinan berkembang dengan pesat pada zaman kemerdekaan. Sejak
berdirinya Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila daan Undang-
undang Dasar 1945, maka perkembangan agama dan pendidikan Islam berangsur
maju di bawah bimbingan Departemen agama. Begitupula aliran-aliran
kepercayaan dan kebatinan tumbuh dan berkembang di bawah pimpinan-pimpinan
yang cendikiawan. Kebatinan merupakan fenomena sosial yang telah tumbuh dan
berkembang dikalangan masyarakat Indonesia. Sejak awal tumbuhnya, lazim



menggunakan nama “kebatinan” sebagai sebutan yang umum berlaku untuk
semua aliran, meski sebenarnya setiap aliran itu memiliki nama sendiri-sendiri.
Kelompok kebatinan bertambah maka untuk mendapatkan legalitas dari
pemerintah dan membedakan aliran kebatinan dengan klenik, pada tanggal 19 dan
20 agustus 1955 di Semarang diadakan kongres kebatinan yang dihadiri 70 aliran
kebatinan. Dalam kongres ini didirikan Badan Kongres Kebatinan Indonesia
(BKKI) sebagai ketuanya Mr. Wongsonegoro. Kongres juga merumuskan definisi
kebatinan sebagai berikut: Kebatinan adalah sepi ing pamrih, rame ing gawe,
mamayu hayuning bawono.
Kongres BKKI yang kedua diadakan di Solo pada tanggal 7-9 Agustus
1956. Dalam kongres ini dirumuskan definisi kebatinan yang baru, sebagai
berikut:” Kebatinan berasaskan sila ketuhanan Yang Maha Esa, untuk mencapai
budi luhur, guna kesempurnaan hidup, sebagaimana telah disebutkan bahwa
alasan digantinya definisi sebagai kebatinan hasil kongres BKKI pertama, karena
pada definisi tersebut masih ada kemungkinan bagi suatu aliran yang mengingkari
dan memungkiri adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Kongres BKKI yang ketiga diadakan di Jakarta pada tanggal 17-20 Juli
1958. Dalam kongres itu Presiden Soekarno memberikan amanat, memuji
kebatinan yang berpegang pada Pancasila daan memperingat akan bahaya klenik.
Dalam kongres ini diputuskan bahwa kebatinan bukan klenik, tetapi daya gaib dan
magic putih yang merupakan dwi tunggal dengan kebatinan.
Kongres BKKI yang keempat diadakan di Malang pada bulan Juli 1960.
Dalam kongres dibahas tentang kebatinan dan agama pada dasarnya sama, hanya



titik berat yang berbeda. Agama menitik beratkan pengembangan kepada Tuhan,
sedang kebatinan kebatinan menekankan penngalaman batin dan penyempurnaan
manusia (Suwarno, 2005: 93).
Di samping kongres, BKKI juga mengadakan seminar. Seminar-seminar
BKKI yang pertama diadakan di Jakarta pada tanggal 28-29 Januari 1961.
Seminar mengusulkan pengajaran kebatinan kepada sekolah-sekolah. Seminar
BKKI yang kedua juga diadakan di Jakarta pada tanggal 11-12 Agustus 1962.
Seminar membahas kebatinan dan perdamaian dunia.
Perkembangan kebatinan sekitar tahun 1963-1964 semakin meluas tetapi
semakin kurang pengawasanya. BKKI sebagai badan federasi kebatinan tak
mampu menertibkan aliran-aliran kebatinan yang bertambah banyak jumlahnya.
Oleh karena itu pada tanggal 1 Januari 1965 dilakukan pencegahan
penyalahgunaan dan atau penodaan agama. Sikap penodaan agama, penghinaan
dan pemalsuan pokok agama yang diakui di Indonesia adalah pelanggaran yang
harus ditindak. Bila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh sesuatu aliran
kepercayaan, aliran itu dilarang dan dapat dibubarkan oleh Presiden menurut
pertimbangan dari Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.
Warga penghayat kebatinan merasa sebagai kaum minoritas dan
keberadaannya belum mendapat legalitas dari pemerintah. Oleh karena itu warga
penghayat kebatinan melakukan perjuangan untuk mendapat legalitas dari
pemerintah. Perjuangan warga penghayat kebatinan pada masa orde baru
mendapat dukungan politik dari Golongan Karya. Pada tahun 1966 di sekretariat



bersama Golongan Karya dibentuk Badan Musyawarah Kebatinan Kejiwaan dan
Kerohanian Indonesia.
Setelah melalui serangkaian Musyawarah Nasional Kebatinan dan
Seminar-seminar, perjuangan untuk mendapat legalitas akhirnya terwujud dengan
lahirnya ketetapan MPR RI No IV/MPR/1973-22 Maret 1973. Dengan demikian
diakuilah kehidupan kepercaayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, di samping
agama dan sejak itu aliran kebatinan berubah nama menjadi aliran kepercayaan.
Istilah kepercayaan mengacu kepada pasal 29 ayat 2 UUD 1945, ”Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan
kepercayaan masing-masing” dan Ketetapan MPR 1973. Eksistensi dan
legalitasnya menjadi kuat karena memiliki dasar hukum. Istilah “kepercayaan”
pada GBHN ketatapan MPR IV/1973 kemudian di pertegas menjadi
“kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.”
Legalitas kehidupan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
dicantumkan dalam ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1973 Maret 1973 kemudian
dikukuhkan kembali oleh ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1978-II Maret 1978,
bunyi ketetapan itu adalah sebagai berikut: GBHN Bidang Agama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Sosial Budaya.
1. Atas dasar kepercayaan Bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, maka perikehidupan beragama dan perikehidupan berkepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa didasarkan atas kebebasan menghayati
dan mengamalkan ketuhanan Yang Maha Esa seseai dengan falsafah
Pancasila.



2. Pembangunan agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
ditujukan untuk pembinaan suasana rukun diantara sesama umat
beragama dan sesama penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa dan antara semua umat beragama dan semua penganut kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta meningkatkan amal dalam
membangun masyarakat secara bersama-sama.
3. Diusahakan bertambahnya sarana. Sarana yang diperlukan bagi
pembangunan kehidupan keagamaan dan kehidupan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Perhatian pemerintah kepada kehidupan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa semakin nyata, dengan lahirnya keputusan Presiden No. 27 tahun
1978, sebagai realisasi dari ketetapan MPR No. IV/1978 tentang pembentukan
Direktorat penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilingkungan
Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Setelah mendapatkan legalitas dari pemerintah aliran kepercayaan
berkembang dengan pesat. Pada awalnya budaya kebatinan atau aliran
kepercayaan di Jawa merupakan budaya lokal saja dengan anggota yang terbatas
jumlahnya, yakni tidak lebih dari 200 orang. Gerakan-gerakan ini secara resmi
disebut “aliran kecil” seperti Perukunan Kawula Menembah Gusti, Jiwa Ayu dari
Surakarta, Ilmu Sejati dari Madiun dan Trimurti Naluri Majapahit dari Mojokerto,
di samping gerakan-gerakan kecil seperti diatas, di Jawa juga berkembang
gerakan yang mempunyai anggota yang besar dan tersebar diberbagai kota di
Jawa dan terorganisasi dalam cabang-cabang di daerah. Gerakan ini secara resmi



dinamakan gerakan “aliran besar” dan lima gerakan besar itu adalah Harda
Saputro dari Purworejo, Susilo Budidarma dari Semarang, Paguyuban ngesti
tunggal dari Surakarta, Paguyuban Sumarah dan Sapta Darma dariYogyakarta.
Dalam gelombang modenisasi, ternyata kebudayaan spiritual Jawa tidak
tampak terisolasi, melainkan masuk di dalam pergumulan untuk mencerna
masukan-masukan dari luar. Kebudayaan dari luar memang membuat kebudayaan
spiritual Jawa hendak tenggelam tetapi tokoh-tokoh kebatinan selalu optimis dan
percaya bahwa kebatinan merupakan kebudayaan spiritual asli Indonesia yang
akan tetap eksis selama Bangsa Indonesia beridentitas asli, maka kebatinan akan
tetap ada di Jawa pada khususnya dan di Indonesia.
C. Ajaran Kerohanian Sapta Dharma
a. Riwayat Hidup Pendirinya
Sapta Darma didirikan oleh Hardjosepuro, atau Hardjo Sapoetro, biasa
dipanggil Pak Sepuro. Pak Sepuro dilahirkan di desa Sanding Kawedanan Pare
Kediri pada tahun 1916, berpendidikan sekolah rakyat lima tahun (1925). Pernah
menjadi pandu kepanduan sostrowidjajan (1937), Pak Sepuro sebelum menjadi
pendiri Sapta Darma bekerja sebagai tukang pangkas. Pada masa revolusi pernah
ikut menjadi anggota Pemuda Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) (Suwarno
2005: 231).
Selain bekerja sebagai tukang pangkas Pak Sepuro ini mempunyai
pengetahuan ilmu dukun yang dapat mengobati orang sakit. Menurut cerita
ilmunya bersumber dari orang bernama R.M. Suwono di Yogyakarta. Caranya
mengobati orang sakit ialah dengan cara melakukan tafakur atau semedi. Pada



setiap waktu ganjil, misalnya pukul 1,3,5,7,9 dan seterusnya. (Wawancara
wibowo ,23 Agustus 2006).
Kepada para pengikutnya Pak Sepuro menyatakan bahwa ia pernah
mendapatkan ilham dari Tuhan agar ia menggunakan gelar Ke-Nabian “Sri
Gutama” yang artinya (Sri: Pemimpin, Gutama: Marga Utama atau jalan
kebenaran). Jadi dari nama Hardjo Saputro ia kemudian menggelari dirinya Sri
Gutomo atau lengkapnya “Penuntun Agung Sri Gutama: yang berarti pemimpim
jalan kebenaran sebagaimana seorang Nabi atau sang Budha (Hilman, 1993: 111).
Setelah revolusi kemerdekaan, ajaran Sapta Darma semakin menyebar di
daerah Jawa seperti Yogyakarta, Semarang dan beberapa tempat di Jawa Tengah.
Pada tahun 1956 Sri Gutomo muncul dengan didampingi oleh seorang mahasiswa
Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada bernama Sri Suwartini yang kemudian
bergelar Sri Pawenang, selanjutnya menjadi pengganti dari Sri Gutomo. Melalui
kepemimpinan Sri Pawenang, perkembangan Sapta Darma semakin meningkat
pada tahun 1961 Sapta Darma sudah berkembang di Jawa Timur, Jawa Tengah
dan juga berkembang di luar Jawa seperti Palembang, Medan dan Samarinda
(Suwarno 2005: 233).
Menurut Sri Pawenang, “diwahyukan” ajaran Sapta Darma pada tahun
1952, bukanlah hal yang kebetulan, karena sesudah Bangsa Indonesia mengalami
revolusi fisik menuju ke tingkatan survival (kelangsungan hidup), maka Bangsa
Indonesia memerlukan suatu pegangan hidup agar tidak sampai mengalami
kekendoran moral akibat pemberontakan yang timbul di beberapa tempat di
wilayah Indonesia. Timbulnya kerohanian Sapta Darma adalah kehendak Tuhan



Yang Maha Esa yang ajarannya diberikan kepada Hardjo Sepuro. Dengan
demikian, Bangsa Indonesia mempunyai salah satu cara utuk mendekatkan dir
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga Bangsa Indonesia memperoleh
tambahan penguat mental di dalam lembaran sejarah Bangsa Indonesia (Sapta
Darma, 1985: 46).
Pada tanggal 16 Desember 1964 jam 12.00, bertempat di rumah kediaman
Sri Gutomo di kampung Pandean Gg. 11/26 Pare Kediri, wafat jenazahnya
diperabukan atau dibakar di Krematorium kembang kuning surabaya, dan pada
tanggal 19 Desember 1964 abunya dilarung di laut Kenjeran Surabaya dengan
seijin Gubernur Jawa Timur dan Syah Bandar Surabaya, dengan menumpang 7
(tujuh) perahu dalam pelarungannya. Menurut Sri Pawenang jenazah Panuntun
agung Sri Gutomo diperabukan dan kemudian dilarung, karena beberapa alasan
yaitu pertama alasan ekonomi, dimaksudkan agar tata guna tanah lebih
diutamakan untuk menusia yang masih hidup dari pada si mati agar lebih
produktif dan menghindarkan pemborosan tenaga, waktu dan biaya untuk tidak
setiap waktu harus menjenguk dan merawat makam.
Alasan kedua adalah segi kesehatan agar tidak terjadi penularan penyakit
apabila si mati mengidap sesuatu penyakit. Akan lebih terjamin di baker dari pada
di tanam terhadap kesehatan masyarakat.
Pelarungan abu jenazah ke laut, dikaitkan dengan asal mula manusia dari
air dan bumi serta sinar cahaya Tuhan, dikembalikan ke air atau laut sampai
kedasar laut atau tanah, sedang sinar cahaya kembali ke sentral Tuhan (Karsono
hadi 1986: 76).



b. Ajaran Sapta Darma
Ajaran Sapta Darma yang “diwahyukan” (diilhamkan) kepada Hardjo
Sepuro pada tanggal 27 Desember 1952 intinya berupa ajaran kerohanian. Oleh
karena itu aliran ini kemudian disebut Kerohanian Sapta Darma adalah Ketuhanan
Yang Maha Esa, sedangkan asas organisasinya adalah Pancasila sebagai satu-
satunya asas. (Karsono hadi 1986: 454). Adapun tujuan kerohanian Sapta Darma
adalah hendak mamayu hayuning bawono, artinya akan membimbing manusia
mencapai suatu kebahagiaan hidup didunia dan akherat.
Ajaran Sapta Darma menanamkan kepada pengikutnya agar percaya
kepada Tuhan dan percaya kepada diri sendiri, cintailah sesama manusia dan
harus hidup tolong-menolong. Sebagai kegiatan pengikut Sapta Dharma mampu
mengobati orang sakit (Wibowo, Wawancara).
Hardjo Saputro sebagai pemimpin tertinggi, melakukan penafsiran
terhadap ramalan-ramalan Jaya Baya yang menyatakan akan datangnya Ratu adil
asal kerajaan Ketangga (Madiun) dan penjelmaan Kyai Semar yang bergelar
Herucakra Asmaratantra. Kemudian di katakannya bahwa agama Islam, Kristen,
Hindu dan Budha itu kelak akan lenyap lebur semua ke dalam agama Sapta
Darma. (Hilman 1993: 112).
Intisari tujuan (cita-cita) ajaran kerohanian Sapta Darma secara terperinci
adalah sebagai berikut:
1. Menanam tebalnya kepercayaan, dengan menunjukkan bukti-bukti serta
persaksian, bahwa sesungguhnya Allah itu ada dan tunggal (Esa), Allah



memiliki lima sila yang mutlak yaitu, Mahaagung, Maharohim, Mahaadil,
Mahawasesa, dan Mahalanggeng.
2. Melatih kesempurnaan sujud, yaitu berbaktinya menusia kepada yang
maha kuasa.
3. Mendidik manusia bertindak suci dan jujur, mencapai nafsubudi, dan
pekerti yang menuju kepada keluhuran dan keutamaan untuk bekal
hidupnya di dunia dan di akhirat. Warganya dididik menjadi satria utama
yang penuh kesusilaan bertabiat bertindak pengasih dan penyayang
4. Warganya diajar untuk dapat mengatur hidupnya Jasmaniah dan rohaninya
5. Menjalankan wewarah tujuh dan melatih kesempurnaan sujud agar
waspada indera dan tutur katanya.
6. Memberantas kepercayaan takhayul dalam segala bentuk dan
manisfestasinya (Suwarno 2005: 234).
Ajaran pokok kerohanian Sapta Darma disebut wewarah tujuh, artinya
tujuh ajaran (petunjuk). Nama aliran disebut Sapta Darma, artinya tujuh
kewajiban (kebajikan). Penggunaan nama Sapta Darma sekaligus mengandung
arti ajaran pokoknya, yakni tujuh kewajiban (ajaran) tujuh kewajiban (ajaran).
Tujuh kewajiban yang terkandung di dalam wewarah tujuh secara terperinci
sebagai berikut:
1. Setyo Tuhu marang ananing Pancasila Allah (Maha Agung, Maha Rahim,
Maha Adil, Maha Wasesa dan Maha Langgeng).
2. Kanti jujur lan sucining ati kudu setyo anindakake angger-angger
negarane.



3. Melu cawe-cawe acancut tali wanda njaga adeging Nusa lanBangsane.
4. Tetulung marang sapa bae yen perlu, kanti ora nduweni pamrih apa bae,
kajaba mung rasa welas lan asih.
5. Wani urip kanti kapitayan saka kekuatane dewe.
6. Tanduke marang warga bebayan kudu susilo kanti alusing budi pekerti,
tansah agawe pepadang lan mareming liyan.
7. Yakin yen kahanan donyo iku ora langgeng, tansah owah gingsir (anjakra
manggilingan). (Sri Pawenang, 1962: 8).
Penjelasan dari masing-masing butir tersebut adalah sebagai berikut:
1. Setia tawakal pada adanya Pancasila Allah (Maha Agung, Maha Rahim,
Maha Adil, Maha Wasesa dan Maha Langgeng).
Maksudnya manusia sebagai makhluk Allah yang tertinggi mempunyai
kewajiban rohani untuk melakukan sujud, yaitu menghadap roh sucinya
kehadapan Yang Maha Kuasa setiap harinya, dengan menyadari dan
meluhurkan lima sila Allah, yaitu: Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil,
Maha Wasesa dan Maha Langgeng (abadi). Oleh karena itu, manusia
seharusnya berusaha menyelaraskan diri dengan Pancasila Allah sebagai
dasar yang merupakan perwujudan dari kehendaknya. Oleh karena itu,
barang siapa yang dapat menyelaraskan diri dengan atas kehendak Allah,
mereka akan dikaruniai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Oleh karena itu, manusia dijadikan sebagai makhluk yang tertinggi
oleh Allah hendaknya memiliki:
- Sifat berbudi terhadap sesama umat



- Sifat belas kasihan terhadap sesama umat
- Perasaan dan bertindak adil
- Kesadaran bahwa manusia di dalam kuasa Allah
- Kesadaran bahwa rohani yang berasal dari sinar Cahaya Allah
2. Dengan jujur dan suci hati, harus setia menjalankan perundang-undangan
negaranya.
Artinya adalah bahwa tiap orang pada umumnya menjadi warga suatu
negara Undang-Undang negara merupakan pengaturan dan penertiban
warganya demi tercapainya keselamatan, kesejahteraan serta kebahagiaan.
Oleh karena itu merupakan kewajiban bagi warga Sapta Darma sebagai
warga Negara Indonesia untuk melaksanakan, menegakkan dan
mengamalkan Pancasila sebagai falsafah Negara Republik Indonesia.
Selain itu pula harus melaksanakan dan taat kepada Undang-Undang Dasar
1945.
3. Turut serta menyisingkan lengan baju menegakan berdirinya nusa dan
Bangsanya.
Warga Sapta Darma harus turut serta bahu membahu berjuang sepenuhnya
dalam batas kemampuannya masing-masing, lebih-lebih dalam rangka
pembinaan watak dan pembentukan jiwa manusia dan Bangsa Indonesia.
4. Menolong kepada siapa saja bila perlu, tanpa mengharapkan sesuatu
balasan, melainkan berdasarkan cinta kasih.



Bagi warga kerohanian Sapta Darma dalam memberikan pertolongan
ditambah lagi dengan sabda usada ini, manusia hanya sebagai perantara
sifat Kerahiman Allah.
5. Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri.
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang tertinggi telah diberi akal, budi
pekerti, serta dilengkapi dengan perlengkapan yang cukup guna berusaha
dan berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan jasmaniah
maupun rohaniahnya. Karenanya, warta Sapta Dharma harus melatih dan
membiasakan diri berusaha bekerja dan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri sendiri. Jadi tidak
boleh menggantungkan hidupnya pada orang lain.
6. Sikapnya dalam hidup bermasyarakat, kekeluargaan, harus susila serta
halus budi pekertinya.
Warga Sapta Darma harus dapat bergaul dengan siapa saja tanpa
membedakan jenis kelamin, umur maupun kedudukan, dengan pengertian
bahwa dalam hidup bermasyarakat sikapnya harus susila, sopan santun dan
rendah hati.
7. Yakin bahwa keadaan dunia itu tidak abadi, melainkan selalu barubah-
ubah (anyakra manggilingan)
Perubahan keadaan dunia itu laksana berputarnya roda, karenanya warta
Sapta Darma harus memahaminya, hingga tidak boleh bersifat statis
dogmatis, melainkan harus bersifat dinamis. Artinya harus pandai



membawa diri serta pandai menyesuaikan diri, sesuai dengan situasi dan
kondisi.
c. Konsep Sapta Darma Tentang Tuhan dan Manusia
a) Konsep tentang Tuhan
Seperti halnya dengan ajaran-ajaran kejawen yang lain, ajaran Sapta
Darma tentang Tuhan juga sangat sederhana. Sebagaimana dijelaskan oleh Sri
Pawenang bahwa Tuhan di dalam Sapta Darma juga disebut “Allah”.
Sesungguhnya Allah itu ada dan tunggal (Esa). Allah memiliki lima sila yang
mutlak, yaitu: Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Wasesa, dan Maha
Langgeng. Pengertian masing-masing sila sebagai berikut:
1. Allah yang Maha Agung artinya tiada yang menyamai lagi akan
keagungan-Nya.
2. Allah yang Maha Rahim artinya tiada yang menyamai akan belas
kasih-Nya.
3. Allah yang Maha Wasesa artinya tiada yang menyamai
kepandaianNya, atau KekuasaanNya
4. Allah yang Maha Langgeng artinya tiada yang menyamai keabadian-
Nya.
Dilihat dari perspektif paradigma sinkretisme, ajaran Ketuhanan seperti ini
menyerupai ajaran Ketuhanan di dalam agama Islam. Menurut Sapta Darma, di
dalam badan jasmani tersebar sinar Cahaya Allah yang disebut rasa atau roh. Roh
ini juga disebut roh suci yang dapat berhubungan dengan Allah, bahkan dapat





































bersatu dengan Allah. Dengan demikian, ajaran Sapta Darma tentang Tuhan dapat
disebut monisme pateistik. (Suwarno, 2005: 239).
b) Konsep tentang Manusia
Ajaran tentang manusia dalam Sapta Darma digambarkan dalam bentuk
simbol (lambang), yaitu simbol Sapta Darma (simbol pribadi manusia) seperti
berikut:
Simbol Pribadi Manusia









Gambar 2
Sumber : (Suwarno, 2005:240)

Keterangan tentang simbol Sapta Darma :
1. Bentuk segi empat belah ketupat menggambarkan asal manusia sudut
puncak, sinar cahaya Allah, sudut bawah sari-sari bumi, sudut kanan
dan kiri, perantaranya ialah ayah dan ibu.
2. Tepi belah ketupat yang berwarna hijau tua, menggambarkan wadag
(raga) manusia.
3. Dasar warna hijau maya, menggambarkan sinar cahaya Allah
atauTuhan. Berarti bahwa di dalam wadag atau raga manusia di apuh
sinar-sinar cahaya Allah.



4. Segitiga sama sisi dan sebangun serta berwarna putih menunjukkan
bahwa asal terjadinya atau dumadi manusia dari tritunggal, ialah:
Sudut atas, Sinar cahaya Allah (Nur Cahaya)
Sudut kanan, Air sarinya Bapak (Nur Rasa)
Sudut kiri, Air sarinya Ibu (Nur Buat).
Warna putih serta bentuk yang sama dan sebangun menunjukkan
bahwa asal manusia dari barang yang suci atau bersih, baik luar
maupun dalamnya. Karena itu hendaknya manusia selalu berusaha
kembali keasalnya yang suci/bersih. Jalannya ialah hidup di jalan
Tuhan yang berarti bertindak dan bersikap demi keluhuran/kesucian
jasmani dan rokhani.
5. Segitiga sama sisi dan sebangun yang tertutup oleh lingkaran itu
membentuk tiga segitiga yang masing-masing memiliki 3 sudut
menjadi seluruh sudut-sudutnya ada 3 x 3 = 9 sudut, menunjukkan
manusia memiliki 9 lubang, ialah mata = 2, mulut = 1, telinga = 2,
hidung = 2, kemaluan = 1, pelepasan = 1.
6. Lingkaran menggambarkan keadaan yang senantiasa berubah-ubah
anyakramanggilingan, ialah manusia akan kembali keasalnya.
Rokhani kealam langgeng, jasmani kembali ke bumi, bila selama
hidupnya selalu berjalan diatas jalan Tuhan, segala tindakannya atas
dasar keluhuran budi dan tidak berbuat dosa.
7. Lingkaran yang berwarna hitang menggambarkan bahwa manusia
memiliki nafsu angkara, bentuknya dalam kata-kata yang kotor atau



kasar yang diucapkan melalui mulut. Nafsu angkara berasal dari hawa
hitam karena pengaruh hawa/getaran yang membeku. Caranya
menghilangkan hawa beku itu ialah rajin sujud sesuai dengan
wewarah serta mengusahakan berkata-kata yang baik dan bertindak
baik terhadap siapapun.
8. Lingkaran merah, menggambarkan bahwa manusia memiliki nafsu
amarah yang timbul akibat rangsang suara yang tidak enak didengar
oleh teling. Sifatnya mudah sekali timbul/menyala (Jawa = muntab)
menimbulkan kemarahan. Karenanya manusia harus
menuntun/menindas sifat-sifat jelek tersebut. Caranya, supaya jangan
dirasakan bila mendengarkan suara-suara yang tidak enak/tidak baik.
9. Lingkaran kuning menggambarkan nafsu keinginan yang timbul
karena pengaruh indra penglihatan yang menerima rangsang dari
sesuatu yang terlihat oleh mata.
10. Lingkaran putih menggambarkan perbuatan yang suci.
Semuanya itu mengingatkan, demi tercapainya kesempurnaan
hidupnya maka manusia jangan membiarkan merajalelanya nafsu
ngumbar hardening kanepson, misalnya berkata-kata yang
kotor/kasar, mendengarkan suara yang tidak enak didengar, menuruti
segala keinginan, lebih-lebih yang kurang baik.
- Lingkaran putih menggambarkan nafsu kesucian. Mengapa
dikatakan nafsu, karena masih berdekatan dengan kuning (nafsu
keinginan). Nafsu ini pengaruh indra pencium yang dirasakan



dicium oleh hidung yang dirangsang oleh bau-bauan. Indra ini
hanya mau menerima rangsang (bau-bauan) yang baik, suci,
bersih. Menolak yang kotor-kotor yang tidak bersih. Maka bila
manusia ingin ketajaman/kewaskitaan supaya mata, telinga dan
mulut bertindak seperti hidung, karena hidung telah memiliki
ketajaman karena bertindak kesucian. Hingga dengan demikian
manusia dapat mencocokkan/mempertemukan perbuatan dengan
asalnya yaitu keterbatasan atau kesucian.
- Besar kecilnya lingkaran menunjukkan besar kecilnya 4 sifat
tersebut yang dimiliki manusia. Dengan demikian manusia
mengetahui serta dapat menggolongkan segala kemauan dan
tindakannya terhadap golongan warna hitam, merah, kuning dan
putih.
11. Lingkaran yang berwarna putih yang tertutup oleh gambar Semar
menggambarkan lubang pada ubun-ubun manusia (=lubang yang ke
10 yang tertutup = pundak sinumpet).
- Warna putih yang ada gambar Semar maupun yang
menggambarkan Nur Cahya atau Nur Putih ialah hawa suci
(Hyang Mahasuci) yang dapat berhubungan dengan Hyang Maha
Kuasa. Artinya, menyatu padukan rasa di ubun-ubun hingga
mewujudkan Nur Putih yang dapat menghadap kepada Hyang
Maha Kuasa.



- Gambar Semar juga menggambarkan/mengkiaskan budi luhur
atau Nur Cahaya. Maksudnya, Warga Sapta Darma supaya
berusaha memiliki keluhuran budi seperti Semar.
12. Semar menunjuk dengan jari telunjuk. Hal ini mengkiaskan dan
memberikan petunjuk kepada manusia, bahwa hanya ada satu
sesembahan, yaitu Allah Hyang Maha Kuasa (Tuhan Yang Maha Esa)
- Semar menggenggam tangan kirinya, mengkiaskan bahwa ia telah
memiliki keluhuran.
- Semar memakai klintingan, artinya klintingan adalah suatu tanda
(suara) agar orang mendengar bila telah dibunyikan. Maka
bilamana sebagai Tuntunan (Warga) Sapta Darma, haruslah selalu
memberikan keterangan-keterangan atau penerangan (berdarma)
budi pekerti yang luhur kepada siapa saja agar mereka mengerti
tujuan yang luhur itu.
- Semar memakai pusaka menunjukkan bahwa tutur katanya atau
sabdanya selalu suci/putih. Lipatan kainnya 5 artinya, bahwa
Semar memiliki dan dapat menjalani (Jawa = nglenggahi) lima
sila Allah, Agung, Rokhim, Adil, Wasesa dan Langgeng. Oleh
karena itu Warga Sapta Darma supaya mencontoh dan berusaha
dapat melakukan jejak Semar seperti tersebut diatas. Atau
memiliki pribadi seperti Semar. Sebab Semar itu dapat langsung
berhubungan dengan Hyang Maha Kuasa. Meskipun jelek



rupanya tapi luhur budinya. Maka diperibahasakan, “Semar
adalah dewa yang menjelma atau mengejawantah”.
13. Tulisan dengan huruf Jawa, Nafsu budi pakarti.
Memberi petunjuk, bahwa manusia memiliki nafsu budi dan pakarti,
baik luhur maupun rendah atau yang baik maupun yang buruk. Warga
Sapta Darma berusaha mencapai Nafsu budi pakarti yang luhur.
- Tulisan Sapta Darma artinya, Sapta berarti 7, Darma berarti =
amal kewajiban suci (= bakti). Maka dari itu Warga Sapta Darma
wajib menjalankan dan mengamalkan Wewarah Tujuh seperti
yang dikehendaki oleh Hyang Maha Kuasa.
Jadi sesuai dengan keterangan di atas, Simbol Sapta Darma
menggambarkan asal dan isi manusia, yang harus dimengerti serta diusahakan
oleh manusia demi tercapainya keluhuran budi sesuai dengna Wewarah Sapta
Darma (Karsonohadi, 1980: 464)
Di samping Hyang Maha Suci, bagian rohani manusia menurut Sapta
Dharma juga dilengkapi dengan sebelas saudara yang lain, sehingga menjadi dua
belas saudara seperti berikut:
1. Hyang Maha Suci bertempat di ubun-ubun manusia, yang dapat
berhubungan dengan Yang Maha Kuasa.
2. Premana bertempat tinggal diantara dua kening, dapat melihat segala
hal yang tak tampak oleh mata biasa, bersifat waslura.
3. Jatingarang juga disebut Suksmajati bertempat di bahu kiri.



4. Gandarwaraja bertempat di bahu kanan, bersifat kejam, tamak, dan
suka bertengkar dan sebagainya.
5. Brama bertempat di dada tengah, memiliki sifat teguh dan konsekuen.
6. Bayu bertempat tinggal di susu kanan, memiliki sifat teguh dan
konsekuen.
7. Endra bertempat di susu kiri, memiliki sifat malas.
8. Mayangkara bertempat di puser, memiliki sifat seperti kera, suka
menghina, merampas milik orang lain, mencuri dan sebagainya.
9. Suksmarasa bertempat di pinggang kanan dan kiri, memiliki sifat
halus perasaan.
10. Suksmakencana bertempat di tulang tungging, sumber keberanian.
11. Nagatahun juga disebut Suksmanaga bertempat di tulang belakang
memiliki sifat seperti ular, berbisa dan berbelit.
12. Baginda Kiur juga disebut Nur Rasa bertempat di ujung jari, sifatnya
bergerak, dapat dipakai untuk menyembuhkan.
Segala sifat dari kedua belas saudara tersebut diatas juga dapat
digolongkan kepada empat macam nafsu, lawwamah, amarah, suwiyah dan
mutmainah yang pada simbol Sapta Dharma digambarkan sebagai warna hitam,
merah, kuning dan putih.
Selain dua belas saudara, pribadi manusia menurut Sapta Dharma
dilengkapi lagi dengan tali rasa, yaitu saluran. Saluran rasa yang tali temali di
beberapa tempat yang mewujudka simpul atau sentral rasa. Di seluruh tubuh
terdapat 20 sentral atau simpul tali rasa yang ditandai dengan abjad huruf jawa,





seperti berikut: (1) Ha di dagu, (2) Na di tenggorok (leher atas), (3) Ca di dada,
(4) Ra di hati, (5) Ka dip user, (6) Da di bawah puser, (7) Ta di ujung tulang ekor,
(8) Sa di tulang belakang, (9) Wa di bawah ujung tulang bahu, (10) La di pundak,
(11) Pa di tengah ketiak, (12) Da di siku, (13) Ja di tengah pergelangan tangan,
(14) Ya di tengah telapak tangan, (15) Nya di susu kanan kiri, (16) Ma di tengah
pangkal paha, (17) Ga di tengah telapak kaki, (20) Ngo di pangkal hidung Lihat
gambar 3 (Sri Pawenang, 1962: 40).


Gambar Simpul Tali Rasa Manusia

Gambar 3
Sumber : (Sri Pawenang, 1965:40).



Tali rasa pada tubuh manusia menurut ajaran Sapta Darma berguna untuk
mengobati orang yang sakit. Penyembuhan yang dilakukan oleh warta Sapta
Dharma adalah penyembuhan di jalan Tuhan artinya penyembuhan itu
dilaksanakan atas kuasa dan sesuai dengan petunjuk Hyang Maha Kuasa. Cara
pengobatannya adalah sebagai berikut, pertama ening (hening) sambil
memandang badan si pasien yang sakit. Setelah lidah terasa berat, maka di dalam
batin menyebut, Allah Maha Agung, Allah Yang Maha Rahim, Allah Yang Maha
Adil, kemudian menyabda “sembuh”.
Kedua, bagi pasien yang sakitnya telah menahun, maka seyogyanya
dituntun sujudnya yang sungguh-sungguh. Lalu di dalam batin mengucapkan
“Mohon geraknya Nur Rasa”. Kemudian disuruh ening lagi, dan rasa ditujukan
pada tangan. Bila tangannya telah bergetar, lalu disuruh mengucapkan “Mohon
diobati hingga sembuh”. Gerak tangan itu diikuti kemana arahnya guna mengobati
sakitnya, hingga badan menjadi enak.
Selanjutnya manusia menurut Sapta Darma diliputi dan dipengaruhi oleh
tiga getaran yaitu getaran dari tumbuh-tumbuhan, getaran dari binatang bila dua
getaran ini yang mempengaruhi maka manusia akan dikuasai sifat malas dan
benci. Getaran yang ketiga adalah getaran Cahaya Allah yang memberi pengaruh
baik pada diri manusia. (Suwarno, 2005: 253)
d. Konsep Mistik Menurut Sapta Darma
Asal manusia sebagaimana digambarkan di dalam simbol Sapta Darma
terjadi dari tri tunggal, yaitu sinar Cahaya Allah, air sari dari bapak dan air sari
dari ibu. Air sari tersebut berasal dari sari bumi, berupa bahan makanan, yang



dimakan manusia. Sari-sari makanan itu berupa air sari atau air putih yang
bertempat di tulang ekor. Getaran sinar Cahaya Allah itu kemudian bersatu padu
dengan getaran air sari dan berjalan secara halus merambat ke seluruh tubuh. Bila
telah memusat di ubun-ubun akan berwujud nur putih, akhirnya naik bersatu
menghadap Hyang Maha Kuasa untuk menerima petunjuk berupa isyarat (kias).
Inilah konsep mistik menurut Sapta Darma. (Suwarno, 2005: 253)
Persatuan antara Hyang Maha Suci (Nur Putih atau roh suci) dengan
Hyang Maha Kuasa dapat dicapai dengan jalan sujud. Sujud menurut wewarah
Sapta Darma, bila di dalami sungguh-sungguh sebenarnya menuntun jalannya air
sari dari sinar Cahaya Allah, yang meliputi seluruh tubuh mereka sehingga ke sel-
selnya.
Adapun cara melakukan sujud di dalam wewarah Sapta Darma
diterangkan sebagai berikut:
Sikap duduk, tegak menghadap ke timur. Bagi pria duduk bersila. Kaki
kanan di depan yang kiri. Bagi wanita bersimpuh. Tangannya dilipat ke depan.
Yang kanan di depan yang kiri. Selanjutnya menentramkan badan. Mata melihat
kesatu titik di depannya kira-kira satu meter. Kepala dan punggung segaris lurus.
Setelah merasa tentram kemudian mengucapkan dalam batin “Allah Hyang Maha
Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil”. Lebih lanjut, bila
telah tenang dan tenteram, terasa ada getaran di dalam tubuh kemudian merambat
berjalan dari bawah ke atas. Kemudian ujung lidah terasa dingin kena angin.
Selanjutnya rasa merambat ke atas ke kepala karenanya mata lalu terpejam
dengan sendirinya. Bila kepala sudah terasa berat, tanda bahwa rasa telah



berkumpul di kepala. Hal ini menjadikan badan tergoyang dengan sendirinya.
Kemudian mulai merasakan jalannya air sari yang ada di tulang ekor. Jalannya air
sari merambat halus sekali. Naik seraya mendorong tubuh membungkuk ke depan.
Membungkuknya badan diikuti terus sampai dahi menyentuh ke lantai. Lalu di
dalam batin mengucapkan, “Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuasa”.
Sampai tiga kali.
Selesai mengucapkan, kepala diangkat perlahan-lahan, hingga badan
dalam sikap duduk tegak lagi seperti semula. Kemudian mengulang lagi
merasakan seperti tersebut diatas, sehingga dahi menyentuh lantai yang kedua
kalinya lalu di dalam batin mengucapkan “Kesalahan Hyang Maha Suci mohon
ampun kepada Hyang Maha Kuasa”. Sebanyak tiga kali.
Dengan perlahan-lahan kepala diangkat duduk tegak kembali, lalu
mengulang merasakan lagi sampai dahi menyentuh lantai yang ketiga kalinya.
Kemudian dalam batin mengucapkan “Hyang Maha Suci bertobat kepada Hyang
Maha Kuasa”. Sampai tiga kali. Akhirnya duduk tegak kembali, masih tetap
dalam sikap tenang untuk beberapa menit kemudian sujud selesai lihat gambar 4
dan gambar 5. (Sri Pawenang, 1962: 27 )











Gambar Gerakan Sujud










Gambar 4
Gambar 5.


Adapun keterangan yang berkaitan dengan sujud:
1. Duduk menghadap ke timur mengandung arti bahwa timur dalam bahasa
jawa disebut wetan dari kata kawitan atau wiwitan yang berarti permulaan.
Hal ini mengandung arti bahwa sujud di dalam kerohanian Sapta Darma
adalah sujud tentang asal mula kejadian manusia, yaitu dari tri tunggal,
sinar Cahaya Allah, air sari bapak dan air sari ibu.
2. Sujud berarti penyerahan diri atau menyembah kepada Hyang Maha
Kuasa. Artinya roh suci menyerahkan purba wasesa kepada Hyang Maha
Kuasa.
3. Hyang Maha Suci adalah sebutan bagi roh suci, yang berasal dari sinar
Cahaya Allah yang meliputi seluruh tubuh.
4. Sujud menurut wewarah Sapta Darma adalah sujud orang sempurna.
Maksudnya sujud yang bersungguh-sungguh, jangan sampai hanya wadag
(jasmani). Karena bila demikian sujudnya tidak mempunyai arti, hanya
ikut-ikutan.



5. Sujud dengan tiga kali membungkuk tersebut diatas disebut “sujud dasar”
atau “sujud wajib”. Sujud ini harus dilakukan sedikit-dikitnya satu kali
dalam dua puluh empat jam. (Suwarno, 2005: 257)
Sebelum melakukan sujud warga Sapta Darma diperbolehkan melakukan
hening. Hening adalah perilaku menenangkan badan seluruhnya dengan
menghilangkan semua angan-angan pikiran. Maksud melakukan hening misalnya
untuk:
1. Melihat atau mengetahui keadaan keluarga yang jauh atau untuk melihat
segala sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata jasmani.
2. Murwakani, yaitu meneliti ucapan dan tindakan sebelum dilakukan.
3. Mengirim dan menerima telegram rasa.
Hening itu dapat dilakukan dengan mata terbuka atau tertutup ketika
sewaktu-waktu diperlukan. Sebaliknya dimulai dengan mengucap dalam batin
“Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil”.
Jika rasa telah menjadi satu dengan Nur Cahaya sudah naik, maka berarti
datanglah yang dimaksudkan. Hening seperti ini dapat dilaksanakan dalam
berbagai keadaan. (Hilman, 1993: 117)
Persatuan antara Hyang Maha Suci (roh suci) dengan Hyang Maha Kuasa
di samping dilakukan dengan jalan sujud, juga dapat di capai dengan jalan Racut.
Racut berarti memisahkan rasa dari perasaan, dengan tujuan menyatukan roh suci
dengan sinar netral. Jadi Racut dapat digunakan untuk menghadapkan Hyang
Maha Suci ke hadirat Hyang Maha Kuasa. Jadi selagi manusia masih hidup di



dunia ini, ia dapat menyaksikan tempat dimana kelak bila kita kembali ke alam
abadi atau surga.
Racut dilakukan setelah sujud wajib (sujud dasar), kemudian sujudnya
ditambah lagi dengan satu bungkukan yang diakhiri dengan ucapan di dalam batin
“Hyang Maha Suci menghadap Hyang Maha Kuasa”. Lalu berbaring dengan
kedua tangannya bersedekap, telapak tangan kanan di tumpangkan di atas telapak
tangan kiri, diletakkan di dada. Segala kegiatan pikiran dan angan-angan
dihentikan. Perhatian harus dipusatkan pada satu titik diantara dua kenis. Setelah
merasa tenang kemudian orang akan menyaksikan berangkatnya Hyang Maha
Suci (Nur Putih) keluar dari ubun-ubun bersatu menghadap Hyang Maha Kuasa.
Racut adalah perbuatan sulit, maka diperlukan latihan yang penuh
kesabaran, ketelitian, kesungguhan serta ketekunan. Latihan dapat dilakukan di
rumah masing-masing. Hasil Racut memungkinkan seseorang dapat memiliki
kewaspadaan yang tinggi. Racut tidak membahayakan, karena hanya Hyang Maha
Suci saja yang meninggalkan jasmani untuk sementara. Sedang sebelas saudara
yang lain masih tetap menjaga di dalam tubuh jasmani.
Selain sujud, Hening dan Racut, warga Sapta Darma juga mengenal
Semadi khusus yang dilakukan di ruangan “sanggar” yang dijaga oleh seorang
panuntun. Tata cara ini berbahaya jika sampai terjadi motan atau gila, karena
penyelewengan diantara mereka. Untuk itu perlu diatur semacam perkenalan
dengan kedua belas saudara itu satu persatu melalui Semadi. Yang bertindak
sebagai panuntun adalah pimpinan pengurus Sapta Darma (Hilman, 1993: 119)



Konsep sujud sebagai jalan mistik menurut Sapta Darma, dari perspektif
paradigma sinkretisme, pertama tentang penggunaan istilah sujud, selain berasal
dari bahasa Arab, istilah sujud telah popular sebagai bagian dari Ibadah Shalat di
dalam agama Islam. Akan tetapi, baik cara, bacaan, maupun makna sujud di
dalam Sapta Darma jauh berbeda dengan agama Islam.





















BAB IV
PERKEMBANGAN SAPTA DARMA
DI KECAMATAN JUWANA 1958-2005

A. Masuk dan Berkembangnya Sapta Darma di Kecamatan Juwana
Kerohanian Sapta Darma lahir ditengah-tengah masyarakat Indonesia
sesudah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, yaitu pada tanggal 27
Desember 1952, diwahyukan kepada Hardjosapuro, untuk disampaikan pada umat
manusia sebagai pegangan hidup setelah mengalami revolusi fisik yang cukup
besar menjelang proklamasi kemerdekaan.
Hardjosapuro sebagai penerima wahyu pertama ajaran Sapta Darma
kemudian menyampaikan ajaran Sapta Darma. Pertama kali ajaran Sapta Darma
disampaikan kepada teman-teman terdekatnya, kemudian disampaikan kepada
masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal Hardjosapuro yaitu di kota Pare
Kabupaten Kediri Jawa Timur.
Hardjosapuro dan para pengikutnya kemudian melakukan perjalanan ke
daerah-daerah, dari kota ke kota untuk menyampaikan ajaran Sapta Darma kepada
masyarakat luas. Dalam perjalanan ini Hardjosapuro dan pengikutnya juga
melakukan “peruwatan”. “Peruwatan” adalah semacam ritual untuk membuang
sengkala atau hal-hal yang dianggap tidak baik. Peruwatan ini dilakukan pada
tempat-tempat yang dianggap keramat, makam-makam tua, perhiasan, roh-roh
sesat dan roh penasaran, untuk dimintakan ampun kepada Hyang Maha Kuasa atas
dosa-dosa dan dimohonkan tempat yang semestinya. Peruwatan ini merupakan
67



bentuk cinta Hardjosapuro kepada manusia yang hidup maupun telah mati
(wawancara, Bapak Wibowo 29 Desember, 2006).
Dalam perjalanan menyebar luaskan ajaran Sapta Darma Hardjosapuro,
singgah dari kota ke kota. Salah satu kota yang disinggahinya adalah Juwana.
Hardjosapuro singgah di desa Mintomulyo di rumah Kepala Desa, bernama Sumo
Sumi pada tahun 1958. kedatangan Hardjosapuro menyampaikan ajaran Sapta
Darma di Kecamatan Juwana pertama kali disampaikan kepada pak Dargo yang
pada waktu itu menjabat sebagai kepala desa Karang Anyar, pak Kunadi, pak Giri
dan pak Trojowolo, dari keempat orang inilah ajaran Sapta Darma mulai
disebarkan di daerah Kecamatan Juwana. Perkembangan Sapta Darma di
Kecamatan Juwana dapat dilihat dari :
a) Perkembangan Warganya
Di dalam Sapta Darma pengikut atau penganut ajaran ini disebut sebagai
warga Sapta Darma. Sejak masuk dan dikenalnya ajaran Sapta Darma di
Kecamatan Juwana, masyarakat yang menjadi warga Sapta Darma pada tahun
2005 bekisar antara 300 sampai 400 orang. Di dalam Sapta Darma warga yang
masuk dibedakan menjadi tiga yaitu;
1. Warga yang beragama
Yaitu orang yang sebelum masuk kedalam ajaran Sapta Darma sudah
mengenal dan menjalankan ajaran agama, misalnya sebelum masuk
Sapta Darma orang tersebut beragama Islam, Kristen, Budha maupun



Hindu, kemudian meninggalkan agamanya dan menjalankan ajaran
Sapta Darma
2. Warga yang beragama dan kepercayaan
Yaitu orang yang masuk Sapta Darma, tetapi juga beragama. Jadi
orang tersebut selain menjalankan agama, misalnya agama Islam
ataupun kristen, juga menjalankan ajaran Sapta Darma.
3. Warga yang hanya mengenal kepercayaan
Yaitu orang yang masuk Sapta Darma dan sebelumnya tidak pernah
mengenal agama apapun. Jadi orang tersebut pada dasarnya hanya
mengenal kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (wawancara
bapak Kasminto, 29 Desember 2006).
Di dalam Sapta Darma warga juga dibedakan lagi, menjadi dua menurut
keaktifan dalam peribadatannya. Pertama warga yang aktif yaitu warga Sapta
Darma yang menjalankan sujud dan juga aktif dalam berbagai kegiatan yang
diadakan oleh sapta Darma. Jadi warga Sapta Darma yang tidak aktif biasanya
dapat dilihat pada waktu perayaan hari besar Sapta Darma yang jatuh pada malam
1 Suro dalam penanggalan Jawa, atau malam 1 Hijriah dalam penanggalan Islam.
Jumlah warga aktif di kecamatan Juwana berkisar antara seratus hingga seratus
lima puluh orang, sedangkan warga yang tidak aktif jumlahnya lebih banyak yaitu
dua ratus orang lebih (wawancara bapak Kasminto, 30 Desember 2006).
Perkembangan warga Sapta Darma di kecamatan Juwana mengalami
kemunduran pada tahun 1965. hal ini disebabkan karena adanya Pemberontakan
G-30-S/PKI, pada tahun ini masyarakat mulai masuk kedalam agama-agama yang



telah diakuai oleh pemerintah, karena pada saat itu masyarakat yang tidak
memeluk satu agama dianggap sebagai PKI (Partai Komunis Indonesia).
Walaupun demikian para warga Sapta Darma di daerah kecamatan Juwana tetap
menjalankan kegiatan peribadatan dibawah tuntunan pak Suklar, yaitu penuntun
Sapta Darma pertama di kecamatan Juwana.
Sapta Darma di kecamatan Juwana pada waktu itu juga mengalami
pengawasan dari pihak kepolisian. Akan tetapi karena ajarannya dianggap tidak
melenceng atau sesat, maka ajaran ini diberi ijin dan dibiarkan berkembang.
Didalam organisasi Sapta Darma sebenarnya tiap warganya tidak memiliki ikatan,
keluar masuk menjadi warga Sapta Darma adalah suatu kebebasan. Hanya setelah
G-30-S PKI, harus diadakan penelitian bagi warga yang baru, misalnya tanda
bersih diri, kartu tanda penduduk dan siapa yang bertanggung jawab dan lain-lain.
(Sri pawenang, 2:1969).
Perkembangan Sapta Darma mulai mengalami kemajuan kembali terjadi
pada tahun 1978. Hal ini di tandai dengan bertambah banyaknya warga Sapta
Darma, sehingga sanggar atau tempat peribadatan Sapta Darma yang berada di
rumah pak Suklar dianggap sudah tidak dapat menampung warga Sapta Darma
yang melakukan peribadatan dan melakukan kegiatan. Sanggar yang berada di
rumah pak Suklar biasa disebut dengan sebutan sanggar “Dompleng” yang di
dalam bahasa Indonesia artinya adalah “ikut”. Jadi sanggar “dompleng” adalah
sanggar yang masih ikut atau menyatu dengan rumah tuntunan Sapta Darma.
Dengan bertambahnya warga Sapta Darma di kecamatan Juwana, kemudian atas
prakarsa sebelas orang yaitu :






1) Bapak Suklar, selaku tuntunan
2) Bapak Wibowo
3) Bapak Samsi
4) Bapak Jayus
5) Bapak Giri
6) Bapak Karban
7) Bapak Hadiwijoyo
8) Bapak Kunawi
9) Bapak Pawi
10) Bapak Supardjo
11) Bapak Sudi
Direncanakan pembangunan Sanggar agar kegiatan warga dapat lebih
optimal. Tanah yang digunakan dalam pembangunan sanggar itu adalah tanah
pemberian dari kepala desa Growong Lor. Perencanaan pembangunan Sanggar itu
dilaksanakan dengan rapat yang dihadiri oleh para pemrakarsa atau pencetus ide
pembangunan Sanggar. Suasana rapat rencana pembangunan Sanggar dapat
dilihat pada gambar 6.


Gambar 6
Rapat pembangunan Sanggar tahun 1978
Sumber: ( Dokumentasi Pribadi Bapak Wibowo)






Dana yang digunakan berasal dari warga Sapta Darma dan juga bantuan
dari sanggar pusat, yaitu Sanggar Sapto Renggo yang berada di Yogyakarta.
Sanggar yang berada di daerah dinamakan sanggar Candi Busana. Pembangunan
Sanggar Candi Busana dilakukan dengan cara gotong royong antar warga Sapta
Darma dimana pada waktu itu sudah mulai bertambah banyak. Suasana gotong
royong pembangunan Sanggar Candi Busono pada tahun 1978 dan Gambar
Sanggar yang sudah dalam tahap selesai dapat dilihat dalam gambar 7 dan
Gambar 8.

Gambar 7
Pembangunan Sanggar tahun 1978
Sumber: ( Dokumentasi Pribadi Bapak Wibowo)










Gambar 8
Sanggar dalam tahap penyelesain pembangunan tahun 1978
(Tampak dari belakang)
Sumber: ( Dokumentasi Pribadi Bapak Wibowo)





Gambar 9
Sanggar Candi Busana Kecamatan Juwana tahun 2005
Sumber: (Dokumentasi pribadi)






Setelah didirikan sanggar Candi Busono di kecamatan Juwana merupakan
sanggar satu- satu yang digunakan oleh warga Sapta Darma di daerah kabupaten
Pati. Berbagai kegiatan dilakukan disini misalnya kegiatan perkumpulan bapak-
bapak yang dilaksanakan pada malam jumat Wage, kegiatan remaja yang
dilaksanakan pada hari minggu dan perkumpulan wanita yang dilaksanakan pada
hari Jumat wage, dan berbagai kegiatan pada saat peringatan hari-hari yang
penting dalam kerohanian Sapta Darma.
b) Perkembangan Lembaga
Dengan bertambahnya warga Sapta Darma, maka perlu dibentuk sistem
kepengurusan agar lebih terorganisir. Di kecamatan Juwana perkembangan
kelembagaan Sapta Darma terjadi pada tahun 1990-an. Hal ini disebabkan karena
meningkatnya tingkat pendidikan warga Sapta Darma. Sistem kelembagaan yang
semula hanya ada tuntunan di daerah yang bertugas membantu mengawasi para
warganya agar ajaran yang diterima dari bapak Hardjosapuro tidak disalah
gunakan, kemudian di perbaharui untuk lebih meningkatkan kinerja di dalam
kepengurusan Sapta Darma. Kelembagaan tersebut meliputi :
1) Tuntunan
Tuntunan adalah warga sapta Darma yang bertugas mengawasi warga
sapta Darma dalam menjalankan peribadatan dan ajaran Sapta Darma
agar tidak terjadi penyimpangan hubungan antara tuntunan dan warga
sapta Darma berbentuk kekeluargaan hanya merupakan suatu ikatan
batin (rasa) karena adanya kesamaan ajaran yang dianut (Sripawenang,
2:1969). Tuntunan di dalam sapta Darma hanya mengurusi masalah



kerohanian saja. Di kecamatan Juwanan tuntunan Sapta Darma adalah
Bapak Wibowo.
2) PERSADA (Persatuan Sapta Darma)
PERSADA (Persatuan Sapta Darma) adalah bentuk organisasi dari
Sapta Darma, adapun susunan kepengurusan di kecamatan Juwana
adalah sebagai berikut:

KETUA
KARB AN


Wakil
Wakil
Wakil
Wakil
Wakil
Bid. Kerohanian dan
Bid. Organisasi dan Hukum
Bid. Kesejahteraan
Wanita
Remaja
Budaya
WIBOWO
MIDI
YASIN
Purnadi
MARSIMAN



Sekretaris I
Sekretaris II
Bendahara I
Bendahara II
KASMITO
PUJI
KARTI
SODO

Adapun tugas-tugas dari pengurus persada ini adalah sebagai berikut:
1. Tugas Ketua PERSADA
a) Mengkoordinasikan semua kegiatan pada jenjangnya.
b) Menetapkan arah pembinaan persada selaras dengan hasil
sasaran (program kerja) persada.
c) Mengatur pembagian tugas para wakil, ketua, sekretaris dan
bendahara.
d) Mewakili persada keluar dan kedalam



e) Melaporkan dan mempertanggungjawabkan segala kegiatan
persada yang dipimpinnya kepada sarasehan pada jenjangnya.
2. Tugas Wakil Ketua Bidang Kerohanian dan Budaya
a) Meningkatkan pembinaan agar bias terselenggara sujud
penggalian di sanggar-sanggar Candi Busana dua kali dalam
setahun.
b) Meningkatkan mutu kegiatan dalam sanggar
c) Meningkatkan pembinaan dan pengembangan baik mutu
maupun jumlahnya
d) Secara berkala konsultasi dengan tuntunan tentang pembahasan
masalah-masalah, penghayatan dan pengamalan ajaran.
e) Melaksanakan kunjungan kerja pada jenjangnya
Budaya
a) Berperan serta pada pemeliharaan dan pengembangan budaya
daerah dan Budaya Nasional yang sesuai dengan kepribadian
bangsa Indonesia
b) Ikut berperan dalam pengadilan secara KSD terhadap warisan
Budaya nenek moyang untuk pemahaman rahasia/ filasafat dalam
Budaya tersebut (termasuk makna dan fungsi satu Sura)
c) Membudayakan salam waras dan tembang pengiring sujud
d) Membudayakan peruwatan secara KSD (disesuaikan dengan situasi
dan kondisi setempat).
e) Mempertanggung jawabkan hasil kerjanya kepada ketua.



3. Tugas Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum
a) Menentukan kebijakan pelaksanaan pembinaan para warga dan
tuntunan untuk tertib dan disiplin dalam mentaati dan
melaksanakan wewarah kerohanian sapta Darma, perundang-
undangan yang berlaku dan norma-norma hidup yang berlaku
dalam masyarakat.
b) Menentukan kebijakan pelaksanaan pembinaan untuk
memahami melakukan, menghormati, dan mematuhi hokum
yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, guna
mewujudkan adanya kepastian dan ketidak adilan hukum.
c) Mengadakan kerjasama dengan pengurus Persada yang lain
sesuai dengan jenjangnya dalam menyususn dan menentukan
program pembinaan.
d) Memertanggung jawabkan dan melaporkan pekerjaannya kepada
ketua.

4. Tugas Wakil ketua Bidang Kesejahteraan
a) Melaksanakan pembinaan para warga untuk meningkatkan
persatuan dan kesatuan (Tuntunan dengan Tuntunan, Tuntunan
dengan pengurus persada, Tuntunan dengan Warga, pengurus
persada dengan warga, warga dengan warga)
b) Melaksanakan pembinaan agar warga KSD meningkatkan
hubungan dengan lingkungan sosialnya.



c) Melaksanakan pembinaan agar para warga meningkatkan peran
serta dalam penanganan masalah-masalah soaial
d) Membudayakan kepada para warga pengrukti layon secara
kerohanian Sapta Darma.
e) Melaporkan tugas pekerjaannya kepada ketua.
5. Tugas Wakil Ketua bidang Wanita
a) Melaksanakan pembinaan kesadaran tanggung jawab dan
peranan wanita KSD sebagai ibu rumah tangga, anggota
Persada yang bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
b) Berpartisipasi dalam pelaksanaan Sarasehan Nasional Wanita
Kerohanian Sapta Darma.
c) Mengadakan kerjasama dalam melaksanakan program kerjanya
dengan pengurus KSD lainnya sesuai dengan jenjangnya.
d) Melaporkan tigas kerjanya kepada ketua.
6. Tugas Wakil Ketua Bidang Remaja
a) Melaksanakan pembinaan peranan kesadaran, kreatifitas dan
tanggung jawab remaja KSD, sebagai generasi penerus anggota
Persada, serta dalam khidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
b) Mengadakan kerjasama, konsultasi dalam mengadakan
pembinaan dengan para pengurus Persada lainnya sesuai
dengan jenjangnya.



c) Berpartisipasi dalam pelaksanaan sarasehan nasional remaja
kerohanian Sapta Darma.
d) Melaporkan tugas pekerjaannya kepada ketua.
7. Tugas Sekretaris I dan II
a) Memimpin dan melaksanakan tugas tata usaha / adminitrasi
Persada pada jenjangnya.
b) Melayani dan mempersiapkan sarasehan sesuai jenjangnya
c) Melayani seluruh kegiatan Persada sesuai jenjangnya.
d) Melaksanakan penyelesaian lebih lanjut segala keputusan
Persada sesuai dengan jenjangnya.
(1) sekretaris II membantu melaksanakan tugas sekretaris I dan
melaporkan pekerjaannya kepada sekretaris I
8. Tugas Bendahara I dan II
a) Menerima, menyimpan dan mengeluarkan uang sesuai dengan
ketentuan ketua.
b) Melaporkan dan mempertanggungjawabkan dengan bukti
yang sah penggunaan atau pemakaian uang Persada sesuai
dengan jenjangnya.
c) Bertanggung jawab atas resiko yang mungkin terjadi dalam
mengelola uang dan harta kekayaan.
d) Melaporkan tugas kerjanya kepada ketua.
(1) Tugas Bendahara II membantu pekerjaan bendahara I dan
mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepada ketua



(2) Bendahara II bertugas membukukan penerimaan dan
pengeluaran uang dengan bukti-bukti yang bias
dipertanggungjawabkan.
3) Yayasan Srati Darma
Yayasan Srati Darma adalah badan hukum didalam Sapta Darma.
Tugas dari yayasan Darma adalah mengurusi dan melayani kekayaan
didalam Sapta Darma. Dengan demikian yayasan Srati Darma
merupakan alat pembantu para tuntunan dalam melaksanakan tugasnya
selaku pengurus sarana dan praarana di dalam kerohanian Sapta Darma
( wawancara Bapak Kasminto, 29 desember 2006).
Pada tahun 2000 kepengurusan kerohanian Sapta Darma banyak
mengalami kemajuan, kepengurusan di kecamatan Juwana menjadi
lebih baik dan tertata.
B. Faktor Pendorong Perkembangan Kerohanian Sapta Darma
Faktor-faktor yang mendorong orang-orang menganut aliran kebatinan
menurut dugaan M.M. Djojodiguno, karena para pemimpin agama kurang
memperhatikan soal kebatinan dan tidak cakap dalam menyimpulkan ajaran
agamanya dalam prinsip-prinsip pokok sederhana, yang mudah dipergunakan
sebagai pegangan bagi seorang manusia. Bagaimana ia harus menentukan
sikapnya, tingkah lakunya terhadap Tuhan dan sesama manusia dalam
menghadapi berbagai kesulitan sehari-sehari yang dijumpai dalam hidupnya



(Suwarno 2005:83). Orang-orang Jawa abangan yang memiliki latar belakang
tradisi kebudayaan spiritual nenek moyang yang masih kuat dipengaruhi
kebudataan spiritual Hindu-Budha atau Hindu –Jawa di zaman lampau. Orang-
orang Jawa abangan inilah yang memiliki kemungkinan terbesar menganut
kepercayaan kejawen atau aliran kebatinan tertentu yang dipandang sesuai dengan
pandagan hidupnya.
Sebagai salah satu kebatinan di jawa, kerohanian Sapta Darma memiliki
warga yang besar dan cukup terorganisasi. Adapun faktor-faktor yang menarik
orang-orang untuk menjadi warga Sapta Darma antara lain sebagai berikut:
1. Ajaran kerohanian Sapta Darma dipandang lebih sederhana dan mudah
dipahami karena menggunakan bahasa daerah dibandinngkan dengan
ajaran agama (Islam) yang menggunakan bahasa arab.
2. Ajaran kerohanian Sapta Darma secara lahir kelihatan tidak berat
dibandingkan dengan ajaran agama yang lain, karena kebatinan kurang
menekankan ibadat, tetapi lebih menekankan penghayatan kerohanian
Sapta Darma dianggap tidak menyita waktu.
3. Dibutuhkan pegangan hidup bagi orang-orang yang ingin lebih
mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Orang-orang seperti ini biasanya
memiliki perasaan berdosa atas tingkah laku yang tidak baik sebelumnya.
Jadi mereka masuk kedalam kerohanian Sapta Darma untuk memperoleh
ketenanngan jiwa.



4. Di dalam Sapta Darma dikenal adanya metode penyembuhan dengan jalan
a. Sabda Husada
Yaitu penyembuhan penyakit dengan sabda (kata-kata) cara
melakukannya, setelah hening, yang berarti menenangkan angan-
angan dan fikiran, yang berarti pula memusatkan seluruh getaran-
getaran kita, lalu menyebut Asma Allah, Allah Hyang Maha Agung,
Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil. Ini
dimaksudkan agar didapatkan sinar-sinar dari Hyang Maha Kuasa,
akhirnya setelah getaran-getaran itu terkumpul dan terasa di ujung
lidah, maka sisakit (pasien) di sabda.
b. Sujud
Di dalam kerohanian Sapta Darma, sujud selain digunakan untuk
mendekatkan manusia dengan penciptanya juga dapat digunakan
untuk penyembuhan suatu penyakit.
c. Penyembuhan dengan ilmu pengetahuan
Di dalam kerohanian Sapta Darma, proses penyembuhan suatu
penyakit selain dengan sabda husada dan sujud, juga dapat dilakukan
dengan penyembuhan penyakit oleh dokter dan obat-obatan modern.
Oleh karena itu banyak orang yang berpenyakit yang disembuhkan
dengan jalan tersebut, kemudian masuk menjadi warga Sapta Darma.
5. Berkembangnya warga Sapta darma juga dipengaruhi adanya
perlindungan dari pemerintah terhadap penganut aliran kebatinan, sejak



ditetapkannya ketetapan MPR RI tahun 1973 dan dikukuhkan kembali
oleh Ketetapan MPR RI tahun 1976.
C. Komunitas Sapta Darma Peran dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat
Kecamatan Juwana.
Berkembangnya Komunitas Sapta Darma di Kecamatan Juwana, telah
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Juwana pada umumnya
walaupun tidak dapat dilihat secara kentara atau abstak. Warga Sapta Darma ikut
berperan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat kecamatan Juwana karena
mereka juga hidup dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Mengenai peran
atau posisi seseorang dalam masyarakat paling sedikit mencakup tiga unsur yaitu :
1. Peranan dalam masyarakat yang menyangkut nilai dan norma. peranan ini
merupakan rangkaian peraturan yang membimbing seseorang dalam
posisinya dalam masyarakat. Contohnya adalah setiap warga Sapta Darma
diharapkan dapat menaati nilai atau norma yang berlaku dalam
masyarakat, sehingga masyarakat pun dapat menerima dengan baik.
2. Peranan adalah suatu konsep terikat apa yang dapat dilakukan oleh
individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perlakuan individu yang penting
bagi stuktur sosial masyarakat (Soekanto,1982:238).
Pelaksanaan peranan kadang- kadang dapat menyebabkan terjadinya
perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu bisa berupa penambahan kebudayaan
dalam masyarakat atau bisa juga menyebabkan hilangnya kebudayaan masyarakat
setempat (Soekanto, 1982:235). Warga Sapta Darma di kecamatan Juwana dapat



diambil sebagai contoh mereka telah hidup berdampingan dan bersosialisasi
dengan masyarakat yang bukan penghayat kepercayaan. Tetapi warga Sapta
Darma mampu menenpatkan perananya dalam masyarakat dengan baik.
Warga Sapta Darma tidak selalu identik dengan budaya Jawa yang
tradisional, tetapi warga Sapta Darma juga ikut dalam arus modernitas yang
tengah berkembang dalam masyarakat tanpa harus meninggalkan budaya religi
yang mereka yakini. Adapun peran dan pengaruh warga Sapta Darma dalam
kehidupan masyarakat kecamatan Juwana dapat di lihat dari beberapa aspek
sebagai berikut:
a. Aspek Budaya
Timbulnya kebudayaan religi seperti Kerohanian Sapta Darma dalam
alam pikiran manusia adalah karena adanya getaran jiwa yang disebut ‘emosi
keagamaan’ atau religius emotion. Menurut Koentjoroningrat emosi keagamaan
ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia. walaupun getaran emosi itu
hanya berlangsung satu detik saja dan kemudian menghilang lagi. Adanya emosi
keagamaan inilah yang mendorong orang melakukan tindakan yang bersifat religi
(Koentjoroningrat, 200: 15). Pendapat ini sejalan dengan pendapat E. Durkheim
tentang uraianya tentang asal mula agama, di mana dalam prakteknya di Indonesia
banyak dianut oleh para penghayat kepercayaan.
Dalam sistem religi atau agama budaya terdapat unsur- unsur yang
dipertahankan dan di laksanakan oleh para pengikutnya sebagai berikut:



1. Memelihara emosi keagamaan, dalam komunitas Sapta Darma emosi
keagamaan dipelihara dengan cara melakukan peribadatan sesuai dengan
wewarah tujuh seperti melakukan Sujud dan Racut.
2. Melakukan acara dan upacara- upacara tertentu. didalam komunitas Sapta
Darma melakukan upacara- upacara seperti melakukan upacara
kerohanian dan perayaan hari besar setiap tanggal satu suro dalam
penanggalan Jawa.
3. Mempunyai sejumlah pengikut yang menaati segala aturan yang ada
dalam sistem religi tersebut, dalam komunitas Sapta Darma penganutnya
disebut sebagai warga Sapta Darma.
Pada masyarakat yang budayanya masih sederhana, apa yang timbul dari
emosi keagamaan dan kepercayaanya diwariskan secara tradisional kepada anak
cucu, saudara, dan sahabat yaitu secara lisan (Hilman,1993:25). Dalam
masyarakat yang budayanya sudah maju dan menuju ke arah modern seperti
masyarakat Kecamatan Juwana emosi, keagamaan ini diwujudkan dengan hasil
karya yang timbul dari akal pikiran dan perilaku manusia dalam bentuk bentuk
nyata. hal ini dimaksudkan agar emosi keagamaan, kepercayaan dan keyakinan
tetap bertahan dan dapat berkembang luas dikalangan umat manusia maka
terbentuklah budaya agama (Hilman, 1993:26).
Budaya agama atau budaya dari agama, kepercayaan, dan keyakinan
muncul dari hasil pikiran dan perilaku yang menyangkut keagamaan dan
kepercayaan masing- masing yang berfungsi untuk memperkuat emosi keagamaan
dan kepercayaanya terhadap apa yang diyakininya.






Didalam komunitas Sapta Darma wujud kebudayaanya dapat dilihat dari
adanya cirri khas dari sebuah Sanggar yaitu adanya patung Semar diatas atapnya,
seperti halnya masjid yang diatapnya terdapat kubah. Patung Semar menurut
Sapta Darma merupakan simbol tokoh yang inti yakni simbol dari budi luhur yang
memiliki kemampuan untuk berhubungan langsung dengan Tuhan (wawancara
bapak wibowo 26 Febuari 2007) Lihat gambar 9


Gambar 9
Patung Semar di atap Sanggar
Dokumentasi pribadi bapak Wibowo
Hal ini selaras dengan mitologi Jawa asli yang bernafaskan religius. Bagi
orang Jawa Semar dipandang sebagai titisan dewa yang memiliki tujuan yang
luhur. Dalam pewayangan Semar digambarkan sebagai titisan dewa yang
mengejawantah atau manifest ( Suwarno,2005:250). Simbol Semar ternyata tidak
hanya digunakan sebagai simbol dalam komunitas Sapta Darma, tetapi ada juga
masyarakat yang bukan warga Sapta Darma menggunakan semar sebagai tokoh
panutan atau tokoh idola dalam hidup.



Wujud kebudayaan dalam komunitas Sapta Darma juga terlihat dari
adanya pelaksanaan perayaan hari besar yang jatuh pada malam satu Suro dalam
penanggalan Jawa atau tahun baru hijriah dalam penanggalan Islam. Bagi
masyarakat kecamatan Juwana bulan suro merupakan acara tahunan yang
perayaanya dibeberapa desa dilaksanakan dengan membuat bubur Suro yang
merupakan acara peringatan tragedi Karbala. Selain itu manifestasi kebudayaan
yang ada dalam kerohanian Sapta Darma juga terlihat dalam sistem pengobatan
yang disebut sebagai Sapta Husada.
Penggunaan simbol Semar, perayaan satu Suro dan sistem pengobatan
yang dilaksanakan oleh komunitas Sapta Darma merupakan bentuk manifes dari
kembalinya mereka pada budaya asli Jawa. Walupun demikian warga Sapta
Darma juga tidak menolak arus modernisasi, hal ini terlihat jelas dalam sistem
pengobatan mereka, warga atau orang yang minta disembuhkan boleh juga ke
Dokter dan menggunakan obat- obatnya, disamping diobati oleh warga Sapta
Darma. Pemikiran yang juga telah maju terlihat dari para pemuda Sapta Darma
yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. Keberadaan warga Sapta Darma
dan perkembanganya telah ikut serta dalam pelestarian budaya asli Jawa yang bila
tidak dipelihara kemungkinan besar bisa punah dan menghilang.
b. Aspek Sosial
Warga Sapta Darma di kecamatan Juwana telah lama tinggal, menetap,
berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dalam jangka waktu



yang lama. Dalam kehidupan sehari- hari mereka sudah dapat menempatkan
perananya dalam sistem nilai dan norma yang ada dalam masyarakat.
Warga penghayat kebatinan pada dasarnya adalah orang- orang yang
menginginkan kembali pada budaya asli Jawa. Dalam praktek dikehidupan sehari-
hari orang Jawa mewujudkan kelakuan sosialnya menurut aturan- aturan
kesopanan ( tata karma). Tata karma pergaulan kesopanan menentukan bentuk
hubungan antar manusia contohnya adalah menentukan gerakan- gerakan dan
bahasa mana yang harus di gunakan untuk mengungkapkan sikap hormat kepada
siapa yang dirasa perlu ( Magnis, 2001:127).
Tata karma kesopanan dalam masyarakat Jawa terdiri dari empat prinsip
utama yaitu pengambilan sikap yang sesuai dengan derajat masing- masing pihak,
pendekatan yang tidak langsung, disimulasi, dan pencegahan kesegala ungkapan
yang menunjukan kekacauan batin atau kekurangan kontrol diri ( Magnis,2001:
128).
Peranan warga Sapta Darma dalam kehidupan sosial dapat dilihat dari
kepatuhan warga Sapta Darma terhadap isi wewarah tujuh yang ke enam yang
berbunyi “ sikap dalam masyarakat, kekeluargaan harus susila serta halus
pekertinya” yaitu warga Sapta Darma harus dapat bergaul dengan siapa saja tanpa
membedakan jenis kelamin, umur maupun kedudukan. Dengan pengertian bahwa
dalm hidup bermasyarakat sikapnya harus susila, sopan santun dan rendah hati
(wawancara bapak Wibowo 28 febuari 2007).



Adanya isi wewarah seperti disebut diatas maka warga Sapta darma yang
patuh terhadap ajaran kepercayaanya dapat hidup berdampingan dengan
masyarakat sekitar dengan dinamis sehingga tercipta kerukunan sosial. Hubungan
yang tepat terhadap alam lahir dilaksanakan manusia dalam tiga dimensi yaitu
dengan mengambil sikap yang tepat terhadap masyarakat dengan mengolah alam
(Magnis, 2001:122).
Pengaturan emosi, dorongan hati, dan nafsu- nafsu merupakan prasyarat
untuk mengatur hubungan manusia dengan alam. Nafsu nafsu dianggap sebagai
perasaan kasar . Siapa yang membiarkan dirinya dikuasai olehnya berarti ia di
kemudikan dari luar. Ia memboroskan kekuatan batinya dan menimbulkan kesan
kurang sedap. Manusia yang diombang ambing oleh nafsunya dinilai kurang
kontrol diri. Ia dipandang tidak dapat menyesuaikan diri dengan tata aturan yang
ada dan tidak memiliki kekuatan untuk memusatkan keluar batin.
Warga Sapta Darma telah dilatih untuk mengendalikan nafsu-nafsu yang
dapat mempengaruhi dan berdampak buruk bagi dirinya sendiri maupun orang
lain. Ketika mereka berinteraksi dengan masyarakat mereka mampu menciptakan
suasana yang harmonis. walaupun warga Sapta Darma memegang teguh ajaran
kepercayaanya yang berpola tradisional Jawa akan tetapi mereka juga mau
berperan dalam aspek sosial masyarakat yang modern misalnya saja banyak
wanita Sapta Darma yang ikut aktif dalam organisasi modern Seperti kegiata-
kegiatan PKK. Seperti yang dilakukan oleh ibu Suci selain aktif dalam kegiataan
wanita dalam organisasi Sapta Darma, Ia juga aktif dalam kegiatan ibu- ibu di



desanya. Dalam kegiatan itu ibu Suci banyak menularkan ketrampilanya kepada,
teman- temannya ketrampilan yang Ia miliki adalah ketrampilan menjahit dan
merias pengantin. Dari contoh tersebut dapat kita simpulkan bahwa warga Sapta
Darma tidak selalu identik dengan hal mistik tetapi warga Sapta Darma dapat
menjadi bagian masyarakat dengan baik.
D. Fungsi Ajaran Kerohanian Sapta Darma
Ajaran kerohanian Sapta Darma adalah salah satu bentuk kebatinan
kejawen yang timbuk karena adanya upaya untuk mendekati diri dengan sang
Pencipta. Adapun fungsi Ajaran Sapta Darma dibagi menjadi dua yaitu :
a. Fungsi internal
Fungsi internal adalah fungsi atau kegunaan ajaran sapta Darma bagi
warganya, adapun fungsi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pegangan hidupFungsi sebagai pegangan hidup artinya adalah
ajaran Sapta Darma ini dapat digunakan sebagai sistem kontrol terhadap
warganya agar tidak melenceng jauh dari norma-norma yang berlaku
dalam masyarakat (wawancara 29 Desember 2006). Hal ini sesuai dengan
pendapat Yinger, yang menyatakan bahwa semua orang memerlukan nilai-
nilai mutlak untuk pegangan hidup dan bahwa nilai-nilai ini merupakan
jawaban terhadap persoalan-persoalan terakhir mengenai hidup dan mati
(Betty 1995 : 94).
2. Sebagai alat untuk ketenangan jiwa



Fungsi sebagai alat untuk ketenangan diri artinya adalah dengan cara
mendekatkan diri kepada sang pencipta seseorang akan merasa bebas dari
peraaan takut dan keraguan menghadapi berbagi permasalahan yang ada
dalam hidup manusia (wawancara 29 Desember 2006).
3. Sebagai alat pengendali nafsu
Di dalam ajaran sapta Darma dikenal adanya saudara 12 yang memiliki
watak dan tabiat yang berbeda yang melingkupi manusia. Watak dan tabiat
dari 12 saudara ini ada yang baik dan tidak baik, oleh karena itu dengan
melakukan sujud dan pendekatan diri kepada sang Pencipta. Watak dari 12
saudara yang tidak baik ini dapat dikendalikan.
b. Fungsi eksternal
Fungsi eksternal yaitu fungsi ajaran Sapta Darma bagi warganya dalam
hidup bermasyarakat.
1. Sebagai wujud eksistensi sosial budaya
Bahwa dengan adanya penghayatan ajaran Sapta Darma yang dibawa oleh
penuntun Agung Sri Gutama, budaya spiritual nenek moyang bangsa
Indonesia telah dipertegas keberadaan dan identitasnya, dalam
hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa dapat berkomunikasi secara
nyata dan langsung tanpa perantara melalui rohaninya dalam hubungannya
dengan masyarakat dan alam sekelilingnya di landasi dengan penuh
kesadaran akan arti perikehidupan yang mendalam dan mendasar.
2. Penalaran budi luhur



Dengan adanya penghayatantan pengamalan ajaran kerohanian Sapta
Darma secara bulat yang mudah dipahami, dihayati dan diamalkan
sehingga dengan demikian penghayatannya akan menghargai eksistensi
dan identitasnya karena dalam sesuatu yang ada dalam ajaran Sapta Darma
mudah dicerna dengan akal dan penalaran yang sehat, sebab abstrak dapat
dibuktikan dan dikongkritkan dengan alat abstrak yang ada dalam pribadi
manusia.
Dengan demikian ajaran kerohanian sapta Darma ini sebagai salah satu
penegasan perwujudan budaya spiritual nenek moyang bangsa Indonesia
sangat besar manfaatnya untuk pembinaan budi luhur bangsa dalam rangka
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
3. Motivasi hidup
Dengan adanya penghayatan dan pengalaman ajaran sapta Darma sebagai
ajaran ilmu kemanusiaan yang adiluhung, tinggi nilainya, maka dalam
praktek penghayatannya merupakan perwujudan teori pengendalian nafsu
dan mawas diri yang sangat didambakan oleh segala pihak, karena segala
gerak langkahnya oleh rokhaninya yang asli atau membimbingnya dan
menyertainya. Dengan demikian memberikan motivasi yang kuat dalam
usaha memantapkan kerukunan Nasional dalam rangka meningkatkan
stabilitas dan ketahanan Nasional untuk menuju perdamaian dunia yang
abadi.





4. Moral Pengabdian
Dengan adanya pengalaman wewarah tujuh kerohanian sapta Darma yang
di dalamnya telah mencakup segala bidang termasuk pengamalan
Pancasila dan segala Perundang-undangan yang ada dan didukung dengan
penghayatan pribadi menggali kepribadiannya yang asli yang akan
mencerminkan martabat kemanusiaannya yang berwatak berbudi bawa-
laksana, maka dalam penjelasannya akan dapat mewujudkan sesanti atau
semboyan “ Amemayu Hayuning Bawana, Hayuning bangsa, hayuning
Sesama”
Dengan demikian berarti memperkuat moral pengabdian dalam
pembangunan disegala bidang dan secara langsung turut membentuk kerangka
landasan mental spiritual dan fisik dalam pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya.
Moral pengabdian yang sedemikian rupa telah dibuktikan oleh segenap
warga kerohanian sapta darma dengan tumbuh dan berkembangnya warga
kerohanian Sapta Darma yang telah banyak sekali itu adalah berkat kesadaran
moral pengabdian yang tinggi, karena semuanya didasarkan atas kewajiban
semata atas dasar pengembangan tugas dari sang Pencipta.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa ajaran Sapta Darma selain
berfungsi sebagai alat kontrol bagi warganya agar dapat menjalankan kehidupan
sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, menjadikan



warganya menjadi manusia yang lebih baik dan tercapainya tujuan dari ajaran
kerohanian Sapta Darma, juga dapat berfungsi membantu terciptanya solidaritas
sosial dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk melestarikan kebudayaan
spiritual di Indonesia.






















BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
1. Sejarah munculnya ajaran kerohanian Sapta Darma diawali dengan adanya
pengakuan oleh seorang yang bernama Pak Seporo atau Hardjo Saputro
yang berasal dari kota Pare Kabupaten Kediri Jawa Tengah bahwa pada
tanggal 27 Desember 1952 telah menerima wahyu berupa Sujud,
dilanjutkan pada tanggal 13 Februari berupa wahyu Racut dan pada
tanggal 12 Juli 1954 diterima wahyu berupa simbol pribadi manusia.
Kemudian ajaran ini disebarluaskan ke daerah-daerah di Jawa oleh
Hardjosepuro. Pada tanggal 16 Desember 1964 Hardjosepuro yang pada
waktu itu telah bergelar Bapak panuntun Sri Gutomo meninggal dunia dan
digantikan oleh ibu Sri Suwartini yang bergelar Sri Pawenang, dibawah
pimpinan Sri Pawenang kerohanian Sapta Darma berkembang pesat, baik
warga maupun sistem organisasinya.
2. Perkembangan komunitas Sapta Darma di kecamatan Juwana dimulai
sejak masuknya ajaran kerohanian Sapta Darma di kecamatan Juwana
yang dibawa langsung oleh Bapak Panutan agung Sri Gutomo. Warga
Sapta Darma semakin bertambah sehingga pada tahun 1978 di kecamatan
Juwana didirikan Sanggar Candi Busono dimana sanggar ini merupakan
sanggar pusat tidak hanya di wilayah kecamatan Juwana tetapi juga
dibentuk wilayah kabupaten Pati. Pada awal tahun 1990 manajeman
93



keorganisasian mengalami kemajuan dan mengalami perbaikan dengan
dibentuknya sistem kepengurusan. Adanya ajaran kerohanian Sapta Darma
di kecamatan Juwana mempunyai dua fungsi yaitu fungsi internal bagi
warganya dan fungsi eksternal yaitu fungsi ajaran kerohanian Sapta Darma
bagi warganya dalam hidup bersosialisasi dengan masyaraka.
3. Peran dan pengaruh adanya komunitas Sapta Darma di kecamatan Juwana
tidak dapat terlihat secara jelas, tetapi dapat dirasakan bahwa keberadaan
mereka membawa dampak yang baik bagi kehidupan bermasyarakat . Hal
ini dikarenakan mereka masih menggunakan etika Jawa yang menjunjung
tinggi sikap tepo seliro, andap asor lan nrimo serta nilai tata karma
B. Saran
1. Bagi warga Sapta Darma agar tetap menjalankan penghayatan kerohanian
Sapta Darma karena inti ajaranya dapat digunakan sebagai pegangan
hidup, dan supaya warga Sapta Darma dapat membentuk manejemen
organisasi yang lebih baik,
2. Bagi dinas terkait seperti Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan supaya lebih
memerhatikan keberadaan kebudayaan spiritual yang terwujud dalam
berbagai ajaran kebatinan dan kerohanian agar tidak mengarah pada
praktek klenik dan pembentukan agama baru. Selain itu agar kebudayaan
spiritual Jawa tidal menghilang dan dapat menunjukan eksistensinya
sebagai budaya nasional.






. DAFTAR PUSTAKA

Arsip Nasional Indonesia. 1981. Laporan tentang Protes di Jawa pada Abad XX.
Jakarta

Adaby Darban. 1995. Catatan Singkat tentang Perkembangan Historiagrafi.
Yoyakarta : UGM Press

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1985. Seri Penghayat Kepercayaan
terhadap Tuhan YME Pemikiran tentang Pemaparan Budaya Spiritual.
Jakarta .

1985.Organisasi Penghayatan terhadap Tuhan Yang maha Esa Bagi
Kehidupan sesama manusia.Jakarta: Jakarta

_________ 1986. Hakekat Kepercayaan terhadap Tuhan YME Bagi Kehidupan
Sesama Manusia: Jakarta .

Direktorat Tradisi dan kepercayaan. 2001. Himpunan Pitutur Luhur. Jakarta.

Emiel Durkheim. 2003. Sejarah Agama. Yogyakarta: IrcIsoD.

Frans Magnis Suseno. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafi Kebijaksanaan
Hidup Jawa). Jakarta. Pt. Gramedia Pustaka Utama.

Gertz, Clifford. 1989. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta :
Balai Pustaka.

Geldern, Robert Hiene. 1972. Konsepsi Tentang Negara Dan Kedudukan Raja di
Asia Tenggara. Jakarta: CV Rajawali.

Gott Schalk, Lois. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.

Hilman Hadi Kusuma. 1993. Antropolgi Agama Bagian I ( Pendekatan Budaya
terhadap Aliran Kepercayaan, Agama Hindu, Budha, Konghucu, di
Indonesia). Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Imam Boehagi (ed). 2002. Agama dan Relasi Sosial : Menggali kearifan Dialog
Yoyakarta : LESPA
.
Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta : Balai Pustaka.



96



________ 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.


________ 2000. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.

Koentowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta. : UGM Press.

Muhammad Damami. 2002. Makna Agama dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta
: LESPA.

Marwati Djoned Poesponegoro (ed). 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III.
Jakarta: Balai Pustaka

. 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1.
Jakarta : Balai Pustaka.


Mulder, Niels. 2003. Mistisisme Jawa Ideologi di Indonesia. Yogyakarta : LKIS.

___________ 1996. Pribadi dan Masyarakat di Jawa (penjelasan mengenai
hubungannya). Yogyakarta: LKIS.

Nadi Karsono Hadi. Kenangan Catur Windu Warga kerohanian Sapta Darma.
Jawa Timur: Tuntunan kerohanian Sapta Darma.

Noerit Haloei Radam. 2001. Religi Orang Bukit. Yoyakarta: Yayasan Adi Karya
IKAPI

Soerjono Soekanto. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. CV Rajawali.

Nur Syam.2005. Islam Pesisir. Yoyakarta: lKiS.

Rahmat Subagya. 1976. Kepercayaan Kebatinan Kejiwaan dan Agama.
Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Sekretariat Tuntunan Agung. 2005. Wewarah kerokhanian Sapta Dharma.
Yogyakarta.

Sri Pawenang. 1962. Wewarah Agama Sapta Darma Djilid I. Yoyakarta: Yayasan
Srati Darma.




.1969. Dokumentasi Pada Rapat Koordinasi PAKEM
Kotamadya Surabaya Tentang Kerohanian Sapta Darma. Yogyakarta:
Yayasan Sapta Darma.


Soemarsaid Moertono. 1985. Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa
Lampau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Schart, Betty. 1995. Kajian Sosiologi Agama. Yogyakarta: PT.Tiara Wacana.

Selamet Sutrisno. 1985. Sorotan Budaya Jawa dan Yang Lainya. Yogyakarta:
Andi offset
























DOKUMENTASI





Foto 1
Winarwi ‘warga Sapta Darma’
(sumber: dokumentasi penulis)







Foto 2
Wibowo ‘Panuntun Sapta Darma kecamatan Juwana’
(sumber: dokumentasi penulis)















Foto 3
Suci “ Ketua Bidang wanita Sapta Darma”
(Sumber: Dokumentasi pribadi penulis)








Foto 4

Pendiri ajaran Sapta Darma
(sumber: Sapta Darma, 1962: ii)












Foto 5

Pengganti Panuntun Sri Gutomo
(sumber: Sapta Darma, 1962: iii)




Foto 6
Semboyan warga Sapta Darma
(sumber: Sapta Darma, 1962: iv)







Foto 7
Simbol dan Wewarah Pitu
(Sumber: Dokumentasi pribadi Bpk. Wibowo)





Foto 8
Kegiatan Kerohanian Sapta Darma, Sujud Penggalian
( Sumber: Dokumentasi Pribadi Bpk. Wibowo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar